`Saat Aku Hidup Bersama Pengidap Skizofrenia`

Reporter : Eko Huda S
Sabtu, 10 Oktober 2015 06:03
`Saat Aku Hidup Bersama Pengidap Skizofrenia`
Berada bersama mereka rasanya membawa kedamaian tersendiri dalam hati saya. Tidak ada rasa saling iri maupun membenci.

Dream - Perjalanan praktik kerja lapangan semasa kuliah, dua tahun lalu, membawa saya ke sebuah panti sosial di sekitar daerah Sidomulyo, Bener, Tegal Rejo, Yogyakarta. Sebuah panti milik pemerintah yang melayani dan merehabilitasi penyandang masalah sosial, khususnya gelandangan, pengemis, pemulung, maupun eks penderita sakit jiwa (Psikotik) terlantar.

Sekitar satu bulan saya tinggal di sana. Ikut dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan panti, membawa banyak cerita bagi saya, terutama pengalaman hidup yang bisa saya ambil. Di sana saya mendapatkan pengalaman menarik, mendapatkan banyak saudara baru.

Sebelumnya mungkin tidak pernah saya bayangkan, bisa berada di tengah-tengah orang dengan kelainan jiwa, karena di luar sana banyak orang mersa takut jika bertemu dengan orang bekelainan jiwa. Yang paling penting, saya belajar untuk berusaha selalu bersyukur, ternyata saya mendapatkan nasib yang lebih beruntung dari mereka.

Berada bersama mereka rasanya membawa kedamaian tersendiri dalam hati saya. Tidak ada rasa saling iri maupun membenci. Yang saya salut dengan mereka, walaupun dengan keterbatasan, mereka memiliki sikap kebersamaan yang luar biasa.

Setiap hari mereka hanya bisa menghabiskan waktu di panti. Dalam penjagaan ketat para pegawai, mereka diwajibkan mengikuti segala jadwal kegiatan yang telah dibuat, mulai pagi hari hingga sore hari.

Mereka diwajibkan tingal di panti minimal 3 tahun, diberi pelatihan seperti pemberian bimbingan fisik, mental, sosial, dan rohani. Untuk gelandangan dan pengemis juga diberi pelatihan khusus, seperti pemberian pelatihan keterampilan pertanian, mengelas, pertukangan kayu dan batu, home industri, menjahit, dan kerajinan tangan lainnya.

Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan memberi bekal agar pada saat keluar dari panti, mereka dapat mandiri dan bersosialisai dengan normal. Begitu juga dengan warga binaan gelandangan dan pengemis.

Khusus penderita skizofrenia, setiap hari mereka diwajibkan meminum obat sehari 2 kali, karena kehidupan mereka sangat bergantung dengan obat-obatan dari dokter. Selain meminum obat, juga diperlukan perhatian dan empati khusus. Kesabaran dan perhatian yang tepat sangat diperlukan oleh penderita skizofrenia.

Tidak seharusnya kita merasa takut dengan mereka, mengucilkan mereka, apalagi keluarga sebagai orang terdekat. Dukungan dan kepedulian sangat diperlukan untuk membantu kesembuhan mereka.

Semoga, sedikit cerita saya bisa memberi manfaat untuk para pembaca. Perlu kita ketahui bahwa roda kehidupan memang tidak selamanya di atas, karena jika Allah sudah mempunyai kuasa, mau apa lagi kita. Sebagai umat, hanya menerima skenario yang sudah ditetapkan oelh-Nya.

Maka dari itu, mulai sekarang, jika ada keluarga atau orang terdekat yang mengalami skizofrenia atau gangguan jiwa, kita perlakukan mereka dengan baik. Jika memang merasa tidak sanggup, bisa kita titipkan ke panti sosial atau dibawa ke rumah sakit jiwa terdekat untuk segera diberi penanganan yang tepat.

Untuk menghindari penyakit tersebut, mari kita jaga keseimbangan jasmani dan rohani kita mulai sekarang, karena skizofrenia bisa menyerang siapa saja dan kapan saja.

Oleh: Terta Mayasari, Dream Girls 2015

(Ism) 

Beri Komentar