Suci Yulianti: Tangis untuk Sahabat

Reporter : Syahid Latif
Minggu, 6 September 2015 17:23
Suci Yulianti: Tangis untuk Sahabat
Sahabat adalah orang yang mungkin nggak selalu bisa bareng kita ada di dekatnya. Tapi jarak dan waktu juga bukan alasan kita untuk ninggalin sahabat kita.

Dream - Persahabatan memang indah. Itulah pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Suci Yulianti. Peserta Dream Girls 2015 asal Bandung. Dia sangat menghormati persahabatan yang dijalin sejak kecil.

Sempat kehilangan kontak dengan sang sahabat, Suci tak menyerah untuk mencari kabar. Dunia maya dia susuri. Hingga ketemulah sang sahabat di jejaring sosial. Tangis haru mewarnai “ pertemuan” itu.

Berikut kisah inspiratif Suci. Jika kalian suka, berikan vote untuk Sici DI SINI.

Assalamualaikum.wr.wb
Hallo semuanya, smile emoticon

Semoga selalu tetap semangat dan sehat selalu.
Bagi kalian yang sudah mengenalku, selamat beraktivitas, dan buat yang belum kenal aku, oke deh, perkenalkan namaku Suci Yulianti. Di sini aku bakal cerita tentang perjalanan kisah hidup aku yang semoga kalian bisa ambil nilai positive dan terinspirasi.

Oke, tanpa banyak kata aku mulai yaa..... smile emoticon
Hai, aku remaja berusia 21 tahun kelahiran 18 Desember 1994. Aku kerja di salah satu perusahaan swasta dan juga menginjak pendidikan di universitas di Garut. Aku asli orang Bandung, tempat kerjaku di Bandung, kebetulan ditugaskan di Garut sambil kuliah. Di sini aku mau cerita nih tentang kisah hidup aku.

Pertama-tama aku bakal ceritain tentang kisah di masa SD ku, kalian juga pasti pernah kan punya pengalaman bahkan banyak hal atau kejadian yang kalian selalu inget? Hayoo kejadian apa yang kalian rasain waktu dulu Zamannya SD (sekolah dasar) tongue emoticon.

Banyak yang bilang pengalaman atau hal yang pernah kita lalui semasa zaman SD menyenangkan banget apalagi buat teman-teman semuanya. Sama halnya kaya aku, dulu aku punya sahabat baik. Dari masa SD itu aku jadi tahu banget makna sahabat terbaik.

Kenapa? Pasti penasaran kan? Hayooo.... Kalian juga jangan lupa saling kasih support dan dorongan motivasi buat sahabatnya ya. Smile emoticon.

Sahabat SD ku namanya Imelda Setyawan Fitri. Dia cantik, tinggi, putih, dan ramah. Dan satu hal yang bikin dia jadi sahabat terbaik sampai detik ini, yaitu kebaikan hatinya dan keluarganya. Itulah point yang mungkin gaakan aku lupain sampe sekarang.

Dulu, waktu zamannya SD atau sekolah dasar aku adalah siswa sederhana yang berpenampilan culun. Di SD dulu aku berteman dengan orang-orang yang standar sama seperti aku, apalagi di kelasku dulu masih zamannya geng atau grup kalau dijabarin ada grup pinter aku di dikelas udah ngerasa ini kelas apa perang dunia. Karena, setiap di kelas dan di luar kelas itu sudah nggak asing sama yang namanya blok-blokan. Mungkin kalian akan mikir kalau pelajaran IPS atau sejarah tentang perang Blok Timur dan Blok Barat. Tapi, ini bukan perang. Ini asli, suka sedih nggak sih ?

Kita pengennya berteman sama siapa saja, tapi ada kaya rasa minder buat dekat-dekat sama mereka. Apalagi grup yang populer, sudah pintar, cantik-cantik pula. Dulu, di sebuah geng ada ketua, kalau dibilang yang paling galak dan ngerasa paling kuat di grupnya namanya Dini.

Di dalam grup itu terdiri dari dari 8 orang. Mungkin sih beberapa orang yang emang baik dan respect sama orang-orang kalangan biasa, cuma ketuanya itu dulu aku ngerasa dijajah banget dari mulai ada PR, nggak tahu kenapa aku nurut saja disuruh Dini buat ngerjain PR dia. Nurutin apa kata dia.

Sampai waktu ada tugas, kita disuruh ngerjain tugas bareng, kebetulan ngerjai di rumah salah satu orang di grupnya dini. kita ngerjain tugas di rumahnya Imel. Dari mulai itu, aku merasa mengenal Imel dengan dekat. Dulu sih sempat ada prasangka buruk sama Imel. Dikira aku, dia orang yang sombong dan lain-lain. Tapi nggak ada yang benar semua di pikiran aku. Semenjak ngerjain tugas di rumahnya Imel.

Karena apa? Kalau ada yang aku nggak ngerti, dia pasti jawab. Nggak egois dan agak angkuh dari yang lain. Dia sederhana, orangnya supel, jago ngitung, sama humor. Makin ke sini, kalau ada tugas, apa-apa jadi ngerjain bareng, apa-apa bareng bahkan sampai main ke rumahnya Imel. Kebetulan juga rumahnya dekat sama rumah nenekku.

Semenjak itu, aku respect banget sama dia, sudah jarang lagi aku disuruh-suruh ngerjain PR sama Dini, ketuanya dari grup itu. Sampai suatu waktu, aku bisa dekat sama grup mereka yang awalnya aku agak anti, minder, dan sedikit kesal juga. Tapi itu berubah ternyata nggak selamanya apa yang kita pikirin itu bener semua adakalanya kita tau dan mengenal orang secara dekat.

Dari saat itu aku selalu main dan belajar bareng sama Imel sahabatku. Nggak tahu kenapa kita sampai pernah belajar bareng, makan bareng, ketawa bareng. Hal yang paling aku ingat dari dia itu cara humoris, dia nyanyi: ''Mangga harumaniss... manisnya kue broniss''. Dengan sedikit nada bass yang bikin aku ketawa dan agak bingung kenapa nyanyinya gitu, apa hubungannya. Cuma lewat saja kebingungan aku sama cara dia nyanyi.

Itu sangat mengesankan buat aku secara pribadi. Sampai seiring berjalnnya waktu, tibalah perpisahan SD. Dari situ kita sibuk dengan aktivitas masing-masing. Aku sampai sempat ngelupain Imel.

Selang 3 tahun berlalu, aku menginjak zamannya smp. Waktu sendiri aku ke warnet buat nyari info imel sahabatku. Dari mulai buka-buka Friendster, media sosial pertama aku yang dibuatin Imel. Sekarang FS-nya sudah nggak bisa aku buka karena lupa password.

Beralih aku bikin akun Facebook. Dari situ aku nyari-nyari nama Imel dan alhamdulillah ketemu nama akun FB-nya setelah aku searching. Tanpa banyak mikir aku add dia. Aku kirim pesan ke dia dengan tanya kabar dia dan sekeluarga.

Aku nunggu balasan dari dia selama 2 jam, ternyata belum dibaca. Aku lanjut tutup akun FB aku. Sampai besok hari aku datang ke warnet, buat mastiin sudah dikonfirmasi sama imel, pas aku buka masih menunggu. Sedih nggak sih kalau kalian sudah lama nggak ketemu sahabat paling baik sampai lost contact? Sekalinya dapat kita masih perlu nunggu kabarnya. Itu yang aku rasain.

Selang beberapa hari aku sengaja nggak ke warnet, karena pikir aku mungkin imel sibuk banyak tugas atau yang lainnya. Jadi belum sempat buka akun FB-nya. Hari selanjutnya aku nggak nyerah buat datang ke warnet dan buka akun FB aku lagi. Ternyata apa yang aku buka? Alhamdulillah dia sudah konfirmasi pertemanan dan membalas pesanku.

Rasanya sedih campur haru saja, sudah bisa kembali kontak sama dia. Aku buka pesan dan kita saling ngirim pesan dinding dan komentar. Sampai akhirnya aku tukar nomor HP dan pin BB. Semenjak itu aku nggak ke warnet lagi karena sudah dapat kontaknya Imel. Sampe kita kita SMS dan tegur sapa lewat handphone.

Di handphone, kita saling sapa-menyapa kabar karena lama nggak ketemu sama tegur sapa. Disitu Imel bilang dia nyari-nyari kontak aku. Di situ aku ngerasa bersalah. Maaf Mel baru ngabarin kamu dan mulai cari kontak kamu.

Imel pun ngasih kabar duka, innalillahi ayah Imel meninggal dunia dua taun silam karena penyakit paru-paru. Betapa makin bersalahnya aku karena baru ngontak dia. Nggak datang ke pemakaman almarhum ayahnya. Ingat sama kebaikannya sudah kaya ke anak sendiri. Keluarganya Imel emanng keluarga yang paling aku hormatin karena keluarganya baik-baik.

Dari situ aku nangis sambil dalam hati ngedoain buat ayahnya Imel. Dan minta maaf ke Imel karena aku nggak datang ke pemakaman almarhum ayahnya Imel. Semakin berlalu kita terjalin komunikasi baik sampai sekarang sampai SMP, SMA, dan sekarang.

Mungkin itu cerita kisah hidup aku tentang bagaimana sampai aku bisa mempertahankan hubungan baik dengan dia. Maaf jika ceritanya kurang bagus tapi semoga menjadi pelajaran juga buat kalian. Untuk sahabatku Imel terimakasih sudah menjadi teman terbaik dan kenangan baik. Itulah sahabat terbaik sesungguhnya menurut aku pribadi. Bagaimana dengan kalian? Smile emoticon.

''Sahabat adalah orang yang mungkin nggak selalu bisa bareng kita ada di dekatnya. Tapi jarak dan waktu juga bukan alasan kita untuk ninggalin sahabat kita. Selalu jalin komunikasi baik dengan sahabatmu karena arti sahabat itu luas, bukan sekadar kamu dan teman, tapi bisa jadi keluargamu dan lingkunganmu menjadi sahabat terbaik bagi kamu. Belajarlah dari pengalamanmu, karna guru hidupmu berawal dari pengalaman."

Suci Yulianti: Tangis untuk Sahabat

Beri Komentar