Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - 'Ibu', 'mama', 'mami', 'umi', atau panggilan kesayangan lain kerap kita dengar sepanjang hari dari mulut si kecil. Bukan hanya saat mereka membutuhkan sesuatu, tapi setiap saat kapan pun buah hati ingin memanggil.
Seringkali saat anak sedang sibuk dengan mainannya, atau bermain dengan saudaranya tapi tak mendengar suara atau melihat ibunya maka akan segera memanggil. Rachel Busman, psikiater dan juga Direktur Child Mind Institute mengatakan ada beberapa alasan mengapa anak terus-menerus mencari ibunya.
Usia
" Bergantung pada usianya, ini dua situasi yang berbeda. Untuk anak balita atau anak prasekolah, ini sangat normal," kata Busman, dikutip dari Mom.com.
Hal tersebut karena mereka melihat ibu dan mengasosiasikannya dengan sosok yang selalu memenuhi kebutuhan. Artinya, jika ibu bekerja di rumah atau sedang melakukan sesuatu, anak belum bisa mengerti.
" Anak tidak dapat merasionalisasi pekerjaan. Untuk anak-anak yang lebih besar, panggilan ibu berkali-kali karena ingin mencari validasi dan kenyamanan," kata Busman.
© Dream
Anak-anak terbiasa meminta sesuatu pada orangtua atau pengasuh untuk hal yang spesifik. Ibu selalu jadi orang yang diandalkan oleh anak-anak untuk meminta sesuatu. Ibu pun selalu dituntut untuk memenuhi permintaan demi permintaan anak, bahkan ketika ada orang lain di dekat anak seperti ayah atau pengasuh.
" Kadang-kadang ini situasi ditangani cepat oleh ibu dan anak sangat menyukainya. Ini mengirimkan pesan halus bahwa, ya, memang harus menanyakan atau meminta pada Ibu," ungkap Busman.
© Dream
Untuk memberdayakan orang dewasa lainnya di rumah dan, pada gilirannya, memberi waktu istirahat bagi ibu, Busman meminta para ibu untuk mencontohkan perilaku. Misalnya jika ingin mengambil benda berat, tinggi dan sulit bisa minta tolong ayah.
Latih juga anak untuk melakukan sesuatu sendiri sesuai usianya. Pada anak 6 tahun misalnya, sudah bisa mengambil minum sendiri, menaruh piring bekas makan di bak cuci piring atau mengambil pakaian.
" Pada gilirannya, anak-anak harus dilatih untuk melakukan sesuatu sendiri demi kemandiriannya dan modalnya saat dewasa kelak," ujar Busman.
© Dream
Dream - Anak-anak sering mengalami ketakutan dan kecemasan. Bisa jadi karena gelap, monster yang dilihatnya di video atau televisi atau mungkin, situasi baru dan asing yang baru dialaminya. Orangtua sering menganggap sepele kecemasan yang dialami anak.
Faktanya, hal itu malah bisa memperparah kondisi kecemasan dan meningkat pada level yang lebih parah. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak terkadang juga butuh bantuan profesional untuk mengatasi rasa cemasnya.
" Kecemasan yang normal tidak akan mengganggu kehidupan sehari-hari anak, sementara kecemasan yang lebih parah akan mengganggu. Perhatikan intensitas reaksi anak, serta kemampuan mereka untuk tenang dan menyesuaikan diri dari waktu ke waktu. Jika anak tampak sangat berjuang untuk tenang, ini mungkin lebih dari kecemasan biasa," ujar Dr. Keri Turner, psikolog anak, dikutip dari Mom.com.
Mengalami cemas memang merupakan hal normal bagi anak. Sayangnya pada beberapa kasus, anak mengalami kecemasan dan depresi yang ekstrem atau terus-menerus dan sangat butuh bantuan untuk menanganinya.
" Gugup sebelum ujian atau bangun untuk berbicara di depan kelas adalah normal. Saat gugup memulai sesuatu yang baru, juga normal. Kecemasan saat ke sekolah, situasi baru, berteman, atau apa pun yang menghalangi kualitas hidup anakharus dievaluasi oleh konselor atau profesional medis untuk menemukan akar penyebabnya," kata Turner.
© Dream
Ada beberapa tanda yang harus diperhatikan saat curiga anak mengalami kecemasan yang parah. Perhatikan penolakan mereka untuk berpartisipasi dalam situasi baru. Apakah mereka menarik diri? Menjadi marah? Bersikukuh bahwa mereka tidak ingin / perlu pergi?.
Menurut Dr. Turner, menjadi seorang anak datang bersamaan dengan banyak pengalaman baru yang dapat dimengerti. Ini berarti banyak ketidakpastian dan potensi ketakutan saat menghadapi hal yang tidak diketahui.
“ Jangan khawatir jika anak pendiam dalam situasi baru, sakit perut di hari pertama sekolah, atau butuh dorongan lebih untuk bersosialisasi. Mereka bahkan mungkin meneteskan air mata atau perilaku aneh sebagai reaksi melakukan sesuatu yang tidak nyaman bagi mereka," kata Turner.
Karena kecemasan kronis dapat menyebabkan depresi atau penggunaan narkoba, penting untuk mendiagnosis dan mendapatkan terapi. Sayangnya, anak-anak dengan gangguan kecemasan sering kali tak disadari orangtua.
" Jangan takut untuk mencari bantuan profesional saat kecemasan anak terasa tidak terkendali atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Ketika kecemasan mulai mengganggu nilai atau kehilangan teman, mungkin itu masalah yang lebih serius yang membutuhkan bantuan profesional," ungkap Dr. Steph Lee, seorang dokter anak.