Berkurban Atas Nama Anak Yatim, Bagaimana Hukumnya?

Reporter : Mutia Nugraheni
Sabtu, 9 Juli 2022 16:28
Berkurban Atas Nama Anak Yatim, Bagaimana Hukumnya?
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hukum berkurban bagi anak yatim, atau seseorang berkurban atas nama yatim dengan menggunakan harta anak yatim tersebut.

Dream - Hari Raya Idul Adha dirayakan pada 10 Dzulhijjah yang jatuh pada 10 Juli 2022 besok. Para umat muslim yang mampu, pastinya sudah menyiapkan hewan kurban untuk disembelih. Nantinya, daging kurban akan dibagikan untuk mereka yang berhak.

Lalu bagaimana jika masih ada kelebihan dan kita ingin berkurban juga tapi atas nama anak yatim yang belum pernah kurban? Dikutip dari Bincang Syariah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hukum berkurban bagi anak yatim, atau seseorang berkurban atas nama yatim dengan menggunakan harta anak yatim tersebut.

Setidaknya, terdapat dua perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam masalah ini. Pertama, menurut Imam Al-Syafii dan satu pendapat dari Imam Ahmad, anak yatim tidak dianjurkan berkurban dan seseorang tidak dibolehkan berkurban atas nama anak yatim dengan menggunakan harta anak yatim tersebut. Ini karena harta anak yatim yang dikeluarkan untuk berkurban akan habis, dan seseorang sangat dianjurkan untuk berhati-hati dalam menggunakan harta anak yatim.

 

1 dari 5 halaman

Penjelasan Selengkapnya

Kedua, jika anak yatim mampu dan memiliki harta yang cukup, maka dia boleh berkurban dan seseorang boleh berkurban atas nama anak yatim dengan menggunakan harta anak yatim tersebut. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan satu pendapat dari Imam Ahmad.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berikut;

Ibnu Qudamah© Bincang Syariah

Riwayat berbeda-beda, apakah boleh berkurban atas nama anak yatim dengan menggunakan hartanya? Diriwayatkan bahwa tidak boleh bagi wali anak yatim melakukan kurban atas nama anak yatim dengan menggunakan harta anak yatim tersebut. Itu termasuk mengeluarkan harta anak yatim tanpa ada penggantinya, dan itu tidak boleh, seperti bersedekah dan hadiah.

Hal itu adalah pendapat Imam Al-Syafii. Riwayat kedua mengatakan bahwa boleh bagi wali anak yatim berkurban atas nama anak yatim jika anak yatim tersebut kaya. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.

Meski menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Malik boleh berkurban atas nama anak yatim dengan menggunakan hartanya, namun daging kurbannya tidak boleh disedekah dan dibagikan kepada orang lain. Melainkan semua daging kurbannya disimpan untuk anak yatim tersebut. Ini karena harta anak yatim tidak boleh dibagikan dan sedekahkan kepada orang lain.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

2 dari 5 halaman

Pesan Habib Syech, Sayangi Anak Yatim dengan Sedekah Secara Sembunyi

Dream - Allah SWT dalam Alquran selalu mengingatkan umatnya agar selalu menyayangi anak yatim. Banyak cara yang bisa dilakukan, antara lain memberikan santunan secara rutin, mengusap kepalanya, menjamin pendidikan, sandang atau pangannya.

Mendoakan anak yatim dengan tulus juga sangat dianjurkan, seperti halnya kita mendoakan anak sendiri. Satu hal yang harus diingat, saat memberi bantuan pada anak yatim apapun bentuknya, lakukan dengan tertutup.

Habib Syech© Instagram @syaikhassegaf

Foto: Instagram @syaikhassegaf

Hal ini diingatkan oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf atau yang lebih dikenal dengan Habib Syech. Beliau meminta siapa pun yang ingin menyantuni anak yatim, lakukan dengan tersembunyi dan hindari di depan publik, demi menjaga hati dan mental para anak yatim supaya tidak rendah diri dan malu.

" Acara anak yatim boleh kita adakan tapi secara tidak terbuka. (Jika) acaranya terbuka, silakan, (tapi) pembagian hadiah untuk si anak yatim itu diberikan simbolis saja, satu, yang lainnya nanti di kamar atau di rumah masing-masing, diantar, itu lebih mulia," kata Habib Syech dikutip dari NU Online.

 

3 dari 5 halaman

Jangan Sampai Membuat Si Anak Rendah Diri

Habib Syech mengungkap kalau kasih sayang pada anak yatim memang bisa diungkapkan dengan mengelus kepalanya dan mendoakan dengan tulus. Kelak Allah SWT akan membalasnya, tapi lakukan dengan baik menjaga harga diri si anak.

" Betul memang, dikatakan: barangsiapa yang mengusap kepalanya si anak ini tadi, dia akan dapat ampunan sebanyak rambut si anak ini tadi, kan gitu. Itu maksudnya kasih sayang, bukan terus kepalanya anak sekian ratus diusap semua," ungkap Habib.

Ia tidak ingin para anak yatim dipamerkan di panggung,  terpublikasi kamera, karena hal itu bisa berdampak buruk pada kesehatan mental mereka. Justru kita harus ikut menjaga mental para anak yatim yang sudah sangat sedih kehilangan orangtuanya dan butuh dukungan yang tulus.

Hal terpenting adalah memberikan kasih sayang pada anak yatim dengan tulus tanpa perlu publikasi. Lakukan saja secara tertutup dan asuh anak yatim hingga mereka bisa mandiri dan menjadi anak soleh/ soleha.

“ Mengurusi ini bukan dengan memberi amplop saja, dididik mereka, diajar Qur’an, diajar ilmu, supaya nanti dia besar bisa bekerja, bisa membantu orang tuanya dan bisa hidup seperti orang-orang lain hidup, dan itu yang penting," pesan Habib Syech.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

4 dari 5 halaman

Asuhlah Anak Yatim dengan Tulus, Dosa Bisa Terhapus

Dream - Selama hidup di dunia, kita tak bisa terlepas dari dosa baik kecil maupun besar. Manusia merupkan gudangnya salah dan lupa, untuk itu Rasulullah mengingatkan umatnya untuk selalu meminta ampun, mengucap istigfar dan senantiasa bertaubat dan tak mengulangi dosa.

Tumpukan dosa manusia pastinya akan sangat sulit dihitung saking banyaknya. Rupanya ada cara untuk menghapus dosa-dosa yang kita lakukan. Menurut Nur Rofiah, sosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, yaitu mengasuh anak yatim dan tabah dengan segala ujiannya.

Dikutip dari Nu.or.id, hal itu berdasarkan riwayat hadits Rasulullah SAW yang mengatakan siapa pun yang mengasuh anak yatim jaminannya adalah surga selagi tidak melakukan dosa besar.

“ Untuk mendapat pahala besar itu tidak gratis, semua perlu kesabaran termasuk dalam mengasuh anak yatim,” kata Nur Rofiah.

Ia menyarankan, apabila dalam mengasuh anak yatim menemukan kesulitan, maka perlu melakukan pendekatan secara kontekstual. “ Jika segala cara didikan tidak mampu untuk meluluhkan hati anak yatim, bisa meminta bantuan lembaga pesantren. Barangkali hal itu bisa membuat anak tersebut lebih menerima keadaan-sebab ia hidup bersama semua santri yang sedang tidak ada orang tuanya,” pesannya.

 

5 dari 5 halaman

Anak Yatim Dimuliakan Allah SWT

Ahli Kajian Gender Islam tersebut mengatakan, tanggung jawab dalam mendidik anak yatim bukan hanya pada keluarganya saja tapi juga kepada masyarakat karena kemaslahatan yang dicurahkan dalam Islam itu adalah kemasalahatan masyarakat. Makna dekat dengan anak yatim yang dimaksud Rasulullah SAW dalam hadits bukan hanya hubungan sedarah saja tapi juga kerabat atau orang-orang yang ada di sekelilingnya.

“ Apalagi, anak yatim yang hidup di perantauan-sulit mengharapkan keluarga besarnya untuk bertanggung jawab mengurusnya. Jadi, dalam hal ini bisa menggunakan pendekatan kontekstual untuk mengasuhnya,” kata penulis buku Nalar Kritis Muslimah tersebut.

Ia mengingatkan anak yatim harus segera ada yang mengurus. Bisa diurus kerabatnya atau orang-orang yang berada di dekatnya. Kedudukan anak yatim sangat dimuliakan oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad sangat mencintai anak-anak yatim.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Beri Komentar