Cara Bonding Time Seru Bareng Anak Meski Pakai Gadget

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 22 Desember 2020 14:02
Cara Bonding Time Seru Bareng Anak Meski Pakai Gadget
Kesibukan pekerjaan, aktivitas rumah tangga, masalah dengan pasangan atau hal lain kerap membuat kita hanya hadir secara fisik untuk anak.

Dream - Menghadirkan diri secara penuh bagi anak bagi banyak orangtua adalah hal yang sulit. Bukan hanya kehadiran fisik, tapi juga jiwa serta pikiran dan fokus hanya untuk anak.

Kesibukan pekerjaan, aktivitas rumah tangga, masalah dengan pasangan atau hal lain kerap membuat kita hanya hadir secara fisik untuk anak. Sementara, pikiran dan fokus malah ke tempat lain. Sementara anak membutuhkan orangtua yang hadir secara penuh dan utuh baik fisik dan jiwa.

Penting untuk menyediakan waktu bagi anak secara utuh. Hal ini demi perkembangan psikologisnya, membangun kepercayaan dan ikatan atau bonding. Kelak saat anak dewasa, itulah modal awalnya membangun kepercayaan diri, bergaul dan menjadi pribadi yang seutuhnya.

" Keterlibatan ibu menjadi bagian integral dalam bonding anak menjadi anak yang positif dan lebih percaya diri. Ikatan secara emosi jika ibunya terlibat dalam kegiatan anak. Anak yang punya bonding dengan orangtuanya akan merasa dicintai, anak akan merasa positif dengan dirinya, less agresive more positive," ujar Roslina Verauli, seorang psikolog di acara virtual launching Cussons Kids Play, Senin 21 Desember 2020.

 

1 dari 3 halaman

Bangun Kedekatan

Bangun Kedekatan © Dream

Bonding time, menurut Roslina, harus dimulai sejak anak saat anak dalam kandungan. Hal ini sangat berdampak positif bagi si kecil, seperti meningkatkan kemampuan bahasa, emosi dan kemandirian pada anak.

Bermain adalah cara membangun ikatan emosi atau bonding time yang paling efektif bagi anak. Selama pandemi mungkin gadget jadi hal yang paling disukai anak karena mereka tak bisa bermain di luar.

Penggunaan gadget pada anak tak selalu buruk selama terkontrol dan tak berlebihan. Orangtua juga bisa memanfaatkan gadget untuk membangun ikatan bersama anak. Salah satunya bisa dengan bermain Cussons Kids Play.

Cussons

Permainan ini dirancang bekerja sama dengan lembaga Insight sebagai Konsultan Psikologi dan Pendidikan Keluarga. Salah satu tujuan games adalah merangsang imajinasi dan kreativitas si kecil dan meningkatkan keeratan dan kehangatan antara anak dan orangtua. Aplikasi Cussons Kids Play dapat diunduh melalui Google Play Store.


Laporan : Rindu Fitri Erista Dinanti

2 dari 3 halaman

Terlalu Banyak Mainan Malah Bisa Lemahkan Eksplorasi Anak

Terlalu Banyak Mainan Malah Bisa Lemahkan Eksplorasi Anak © Dream

Dream - Membelikan mainan untuk anak-anak jadi kepuasan tersendiri bagi orangtua. Terutama jika anak merengek sangat menginginkannya atau sudah berbulan-bulan mengharapkannya. Kita juga kerap memberikan mainan untuk menenangkan, saat ulang tahun atau hadiah kecil saat ia bersikap baik.

Tanpa disadari, rumah sudah sangat penuh mainan. Jumlahnya bahkan bisa dibilang berlebihan. Faktanya menurut penelitian, mainan lebih sedikit lebih baik bagi anak. Tim dari University of Toledo di Ohio melakukan penelitian terhadap 36 balita, usia 18 hingga 30 bulan.

Anak-anak diminta ke ruang bermain pada dua kesempatan. Pada kunjungan pertama, ruangan hanya dilengkapi empat mainan. Pada kunjungan kedua, ruangan memiliki 16 mainan.

Hasilnya, balita secara fisik menyentuh lebih banyak mainan selama kunjungan mereka kedua yang lebih banyak mainan. Sementara di kunjungan pertama, anak lebih banyak terlibat dalam aktivitas. Di sana, mereka bermain dua kali lebih lama dengan setiap item — dan bermain dengan satu item dengan lebih banyak cara.

 

3 dari 3 halaman

Melemahkan Keinginan Eksplorasi

Melemahkan Keinginan Eksplorasi © Dream

Ternyata, mainan yang lebih sedikit menuntut anak untuk lebih kreatif dan eksploratif serta memiliki lebih banyak manfaat perkembangan kognitif. Hal menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Infant Behavior and Development.

Secara perkembangan, anak-anak kecil tidak dapat membuat pilihan antara 20 atau bahkan 10 hal yang berbeda.

" Artinya, saat anak masuk ke ruang bermain yang penuh sesak, mereka bisa 'lumpuh' secara eksplorasi karena terlalu banyak pilihan. Mainan atau pengalaman yang berkualitas lebih baik dari sekadar lebih banyak," ujar Nikki Martyn, Kepala Program Edukasi di University of Guelph-Humber, Toronto

Anak jadi tak fokus saat bermain jika terlalu banyak mainan. Kemampuannya mengeksplorasi pun jadi berkurang, karena pada prinsipnya bagi anak apapun bisa dijadikan mainan. Orangtua hanya perlu memastikan barang yang dimainkan aman bagi anak.

Sumber: Todays Parent

Beri Komentar