Sinyal Perubahan Sikap Anak yang Bisa Jadi Pertanda Serius

Reporter : Mutia Nugraheni
Sabtu, 19 September 2020 10:18
Sinyal Perubahan Sikap Anak yang Bisa Jadi Pertanda Serius
Seperti juga orang dewasa, anak mengalami stres bahkan depresi, tapi mereka tak bisa mengungkapkannya.

Dream - Berada di rumah seharian, tak ke sekolah, tak bermain seperti biasanya selama berbulan-bulan dan orangtua selalu mengingatkan untuk selalu pakai masker, hal ini tentunya berdampak pada kondisi psikologis anak.

Seperti juga orang dewasa, anak mengalami stres bahkan depresi, tapi mereka tak bisa mengungkapkannya. Sayangnya, gejala stres anak seringkali tak disadari orangtua.

Perubahan sikap, kebiasaan, hal kecil pada anak bisa saja jadi sinyal kalau sebenarnya mereka sedang mengalami masalah psikologis. Tak ada salahnya untuk lebih peka jika buah hati menunjukkan hal-hal berikut.

Lebih pilih-pilih dalam hal makanan
Biasanya, anak selalu memakan apa yang disediakan. Tiba-tiba, anak tak mau makan, hanya hidangan tertentu saja. Saat tersedia, ia hanya makan sedikit dan tak bersemangat untuk menyantapnya.

Menurut penelitian, anak yang pilih-pilih makanan sendrung 2 kali lebih mungkin untuk mengalami masalah kecemasan. Selain itu, anak-anak dengan selektivitas tinggi atau sedang lebih cenderung mengalami gejala depresi.

 

1 dari 5 halaman

Jadi sensitif terhadap pakaiannya

Jadi sensitif terhadap pakaiannya © Dream

Ada anak yang mengeluh saat menggunakan kaus atau pakaian tertentu. Alasannya, bisa karena tekstur bahannya, model atau mungkin tampilannya. Padahal biasanya anak akan mengenakan pakaian apapun yang dipilihnya sendiri.

Banyak orang tua berpikir bahwa ini hanyalah keinginan sederhana dan bisa diatasi. Meskipun ini sering terjadi, ini juga bisa menjadi tanda kecemasan yang meningkat. Anak tak merasa nyaman dengan dirinya sendiri atau lingkungannya. Ia pun mencari kenyamanan melalui pakaiannya.

 

2 dari 5 halaman

Mereka terus mencari informasi baru

Mereka terus mencari informasi baru © Dream

Menurut psikolog, jika seorang anak terus-menerus mencari informasi secara online, memantau berita, dan mengajukan lebih banyak pertanyaan dari biasanya, itu pertanda kecemasan yang meningkat. Dalam situasi pandemi seperti sekarang misalnya, anak mengajukan " apakah setiap orang yang terkena Covid-19 meninggal?" atau " kalau kita kena Covid-19 kita harus pisah ya?" .

Cobalah untuk mencari tahu dengan cermat apa yang sangat membuat anak ketakutan. Beri tahu anak kalau kita siap untuk mendengarkan dan membantunya. Jangan lupa memberikan pelukan hangat menenangkan.

Sumber: Brightside

3 dari 5 halaman

Orangtua Stres, Anak Kerap Jadi Korban Kekerasan di Rumah Saat Pandemi

Orangtua Stres, Anak Kerap Jadi Korban Kekerasan di Rumah Saat Pandemi © Dream

Dream - Rutinitas berubah drastis selama pandemi Covid-19. Anak-anak harus bersekolah dari rumah, ayah pun harus ekstra bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Bagaimana dengan ibu? Tugasnya juga bertambah berkali-kali lipat. Mengurus rumah tangga, mendampingi anak belajar, termasuk juga kewajiban ekonomi bagi ibu bekerja. Hal ini membuat level stres orangtua, terutama ibu meningkat berkali-kali lipat.

Sebuah insiden memilukan baru saja terjadi di Lebak, Jawa Barat. Seorang ibu menganiaya anaknya yang berusia 8 tahun hingga tewas. Alasannya karena sang anak susah mengerti saat belajar di rumah.

Tentunya hal ini membuat miris banyak orang. Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi, menjelaskan, kekerasan anak merupakan satu bentuk perilaku yang dengan sengaja menyakiti secara fisik dan atau psikis seorang anak. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk merusak, melukai, dan merugikan anak.

" Dalam masa pandemi virus corona, tingkat kekerasan pada anak memang bisa meningkat. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Tapi, faktor utama yang mungkin memicu tindakan ini adalah kondisi ekonomi," kata Ikhsan.

“ Ketika orang tua stres karena kondisi keuangan yang semakin menipis, mereka jadi melampiaskan rasa marah dan kecewa pada anak,” sambungnya.

 

4 dari 5 halaman

Perubahan Drastis

Perubahan Drastis © Dream

Tidak hanya itu, Ikhsan juga menegaskan bahwa perubahan rutinitas dan ekonomi yang terjadi selama pandemi turut berperan dalam tingginya kasus kekerasan anak yang terjadi beberapa waktu belakangan.

“ Ekonomi, intensitas bertemu, pola interaksi, semuanya berubah. Ada orang tua yang melampiaskan stres karena kondisi ini. Dia berhenti kerja atau uang sehari-harinya terbatas, akhirnya meletakkan kekesalan ke anaknya,” tutur Ikhsan.

" Anak adalah sosok inferior, sedangkan orang tua adalah sosok superior yang merasa punya kuasa lebih atas apa yang terjadi dalam keluarga. Inilah yang menyebabkan anak jadi sasaran empuk bagi orang tua ketika mereka sedang marah, stres, atau kecewa,” lanjutnya.

 

5 dari 5 halaman

Belajar Mengontrol Diri

Belajar Mengontrol Diri © Dream

Menahan emosi memang bukan hal yang mudah, terutama jika stres dan cemas sudah menguasai diri. Meski demikian, sebagai orangtua yang seharusnya mengayomi anak, mengendalikan emosi merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan.

“ Sebagai orangtua, penting bagi Anda untuk memahami kapasitas masing-masing anak. Jika merasa emosi atau sedang tidak stabil, ada baiknya menarik diri dari orang sekitar untuk menenangkan diri. Sehingga, tidak melakukan tindak kekerasan pada anak,” jelas Ikhsan.

Selengkapnya baca di sini.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More