Tanamkan Tauhid Sejak Dini, Kunci Buah Hati Terhindar Syirik

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 29 Juni 2022 08:12
Tanamkan Tauhid Sejak Dini, Kunci Buah Hati Terhindar Syirik
“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah".

Dream - Salah satu dosa yang sangat besar dan tak diampuni Allah SWT adalah syirik. Perilaku menyekutukan Allah SWT ini wajib dihindari setiap umat muslim. Untuk itu ayah bunda penting untuk mengajarkan anak tauhid atau keesaan Allah Swt sejak dini.

Pada dasarnya, bayi terlahir dengan kondisi suci. Seperti dikutip dari Bincang Muslimah, hal ini bahkan dicantumkan di dalam sebuah hadis;

HR Bukhari© Bincang Muslimah

“ Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka bapaknyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari No. 1319. Muslim No. 2658)

Dari hadis di atas ada beberapa poin yang terkandung di dalamnya. Pertama, semua bayi yang lahir di dunia ini dalam keadaan suci lagi bersih. Kedua, orangtua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap anaknya di dalam agamanya.

Ceritakan pada anak kalau semua kondisi terjadi atas takdir Allah SWT dan tak ada kekuatan sebesar Sang Pencipta. Ketiga, anak akan terpengaruh dengan kebiasaan dan perangai (akhlak) orangtuanya. Kenalkan kalimat tauhid, ucapkan Alhamdulillah saat bersyukur atas kebaikan yang didapatkan.

Hal itu akan membuat anak terbiasa menyandarkan hal baik pada Allah SWT. Ketiga, metode memberikan perumpamaan bagi anak dapat membantu mendekatkan pemahaman. Keempat, terdapat beberapa urgensi perkembangan anak kecil di atas Islam.

Kelima, para ulama kaum muslimin bersepakat bahwa anak kaum muslimin yang masih kecil jika meninggal dunia, termasuk penghuni surga karena mereka bukan mukallaf.

 

1 dari 4 halaman

Penting Dilakukan Agar Anak Terhindari dari Syirik

Terdapat beberapa cara agar anak terlepas dari syirik. Salah satunya mengajarkan anak untuk mengenal dan mencintai Allah. Orangtua wajib untuk mengenalkan anak tentang Allah SWTa. Ajarkanlah kepada anak tentang tauhid dan jauhkan anak dari perbuatan syirik sedari kecil.

Pesan ini juga terkandung di dalam Q.S Luqman ayat 13;

depresi-220816t.html" id="link-box-terkait-2" data-position="2">Mona dan Indra Brasco Ungkap Awal Ketahui Putrinya Mengalami Depresi

Lukman Ayat !3© Bincang Muslimah

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “ Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

 

2 dari 4 halaman

Ikhlas karena Allah SWT

Berikutnya, ajarkan sikap ikhlas dalam berbuat. Sejak kecil, seorang anak mulai ditanamkan sikap ikhlas. Biasakan mendidik anak melakukan kebajikan tanpa pamrih. Sebab, Allah akan membalas amalan yang dilakukan dengan ikhlas.

Akan tetapi, jika perbuatan dibumbui dengan pamrih atau riya, niscaya tak akan mendapatkan apa pun. Dalam Alquran disebutkan sebagai debu di atas batu yang dihembus angin. Tak tersisa apa pun.

Bayyinah ayat 5© Bincang Muslimah

Artinya: “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S. Al Bayyinah: 5).

Selengkapnya baca di sini.

3 dari 4 halaman

Batas Aurat Anak dalam Islam, Orangtua Wajib Tahu

Dream - Sebagai muslim dan muslimah, mereka yang sudah baligh (dewasa) diwajibkan untuk menutup aurat. Aurat sendiri merupakan bagian tubuh yang tak boleh diperlihatkan atau terlihat oleh orang yang bukan muhrimnya.

Allah SWT memerintahkan untuk menutup aurat demi menjaga kehormatan umatnya dan juga meningkatkan ketakwaan. Bagi orang dewasa, aurat pria menurut Imam Syafii, adalah antara pusar dan lutut.

Sementara batasan aurat perempuan ada beberapa pendapat. Menurut Imam Nawawi, aurat wanita adalah seluruh badan selain wajah dan kedua telapak tangan. Ada juga pendapat dari Mazhab lainnya.

Lalu bagaimana dengan aurat anak-anak? Dikutip dari BincangSyariah.com, ulama empat mazhab berbeda pendapat mengenai batasan aurat bagi anak kecil. Syekh Wahbah Zuhaily dalam kitabnya Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, juz 1, halaman 666-667, menjelaskan perbedaan di antara ulama sebagai berikut:

Pertama, menurut mazhab Hanafi anak yang berusia 4 tahun ke bawah tidak memiliki aurat. Dalam hal ini, seseorang diperbolehkan melihat aurat anak tersebut.

Semenjak usia 4 tahun sampai 10 tahun auratnya adalah kemaluan depan dan belakang. Lalu beranjak usia 10 tahun ke atas aurat anak disamakan sebagaimana aurat orang dewasa.

Kedua, ulama mazhab Maliki membedakan antara aurat anak laki-laki dan perempuan. Anak lak-laki yang berumur 8 tahun kebawah tidak memiliki aurat, dalam usia ini perempuan boleh melihat aurat anak tersebut, bahkan boleh juga untuk memandikannya. Apabila telah masuk usia 9 tahun sampai 12 tahun, perempuan boleh melihat tetapi tidak boleh sampai memandikannya. Beranjak usia 13 tahun ke atas auratnya disamakan seperti pria dewasa.

Adapun mengenai aurat perempuan pada usia 2 tahun lebih 8 bulan ke bawah tidak memiliki aurat, sehingga laki-laki boleh melihat badan anak tersebut, bahkan boleh juga memandikannya. Apabila menginjak usia 3 – 4 tahun laki-laki boleh melihat tapi tidak diperkenankan untuk menyentuhnya. Apabila telah genap berusia 6 tahun maka disamakan dengan wanita dewasa.

 

4 dari 4 halaman

Perhatikan Juga Hal Ini

Ketiga, menurut mazhab Syafi’i aurat anak kecil laki-laki sekalipun belum tamyiz disamakan dengan pria dewasa, yakni antara pusar dan lutut. Aurat anak perempuan juga disamakan dengan perempuan dewasa baik ketika shalat dan diluar shalat.

Keempat, menurut mazhab Hambali anak yang berusia 7 tahun ke bawah tidak memiliki aurat, sehingga boleh bagi seseorang untuk melihat seluruh aurat anak tersebut. Beranjak usia 7-10 tahun aurat anak laki-laki adalah kemaluan depan dan belakang baik di dalam shalat dan di luar shalat, sementara aurat anak perempuan ketika dalam shalat adalah sesuatu di antara pusar dan lutut dan ketika diluar shalat disamakan dengan wanita dewasa.

Semenjak usia 10 tahun ke atas aurat anak-anak disamakan dengan wanita dan pria dewasa baik ketika shalat maupun di luar shalat. Menurut Syekh Wahbah zuhaily pendapat yang lebih unggul adalah pendapat mazhab Hambali dan Hanafi

Beliau berpendapat demikian karena merasa kedua mazhab tersebut sesuai dengan hadis nabi yang memerintahkan anak usia 7 tahun untuk salat serta kebolehan memukul apabila telah masuk usia 10 tahun. Sebagaimana perkataan beliau berikut,

Syekh Wahbah Zuhaily© Bincang Syariah
Artinya : “ Dan menjadi jelas bagiku bahwa pendapat ini (Hambali) dan pendapat Hanafi lebih utama. Hal ini karena sesuai dengan hadis nabi yang memerintahkan anak usia 7 tahun untuk salat serta kebolehan memukul apabila telah masuk usia 10 tahun" .

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

Beri Komentar