Terapis Keluarga Sarankan untuk Prioritaskan Pasangan Dibanding Anak

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 22 November 2022 09:48
Terapis Keluarga Sarankan untuk Prioritaskan Pasangan Dibanding Anak
Pasangan tak seharusnya bersaing dengan anak dalam hal mendapat perhatian

Dream - Sebagai orang tua, mengimbangi kebutuhan anak dan pasangan demi menciptakan keluarga yang harmonis dan bahagia terkadang menjadi hal yang sulit. Banyak yang menganggap menjadi orang tua yang baik berarti mengutamakan kebutuhan anak-anak.

Hal tersebut membuat sebagian besar waktu difokuskan untuk mengasuh anak dan lupa menghabiskan waktu bersama pasangan. Risiko yang muncul adalah hubungan suami istri merenggang.

Raffi Bilek, Direktur Pusat Terapi Baltimore, yang merupakan terapis keluarga, pasangan tak seharusnya bersaing dengan anak dalam hal mendapat perhatian. Bila memang harus membuat skala prioritas, menurutnya pasangan harus selalu didahulukan.

“ Saya pikir pertanyaan kapan harus memprioritaskan pasangan daripada anak, jawabnya 'selalu',” kata Raffi.

 

1 dari 4 halaman

Menurut Raffi, memprioritaskan pasangan dapat membuat hubungan orangtua semakin kuat. Sebaliknya, banyak orang tua yang memprioritaskan anak, tapi malah jadi berujung pertengkaran dan dapat menjadi bumerang.

Susan Groner, pendiri The Parenting Mentor dan penulis " Parenting: 101 Ways to Rock Your World" , mengatakan salah satu cara agar memiliki waktu yang cukup dengan pasangan adalah dengan mengurangi jadwal mendampingi aktivitas anak. Akan ada banyak waktu yang dimiliki untuk membangun hubungan, bukan hanya dengan pasangan, tapi juga anak-anak.

“ Jika jadwal mendampingi aktivitas anak lebih sedikit, kita memiliki lebih banyak waktu untuk bersama sebagai keluarga dan sebagai pasangan,” kata Groner.

Bagaimana menurut Sahabat Dream pendapat ini?

 

Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita/ Sumber: Fatherly

2 dari 4 halaman

Terapi Keluarga Bisa Jadi Solusi Redakan Konflik

Dream – Dalam keluarga kadangkala mengalami waktu-waktu sulit. Misalnya saat terjadi konflik besar, kedukaan, perkelahian atau hal lain yang menggangu kondisi kestabilan psikologis seluruh orang. Masalah-masalah tersebut terkadang tidak dapat dihindarkan dan sulit untuk menemukan jalan keluar.

Salah satu cara yang dapat menyelesaikan masalahh tersebut adalah dengan terapi keluarga. Dikutip dari WebMD, terapi keluarga dapat menolong, mulai dan pasangan, anak-anak, sampai seluruh anggota keluarga yang mengalami permasalahan komunikasi dan stres karena banyak hal.

© Dream

Bagaimana terapi keluarga ini dapat membantu?

Masalah yang ada pada salah satu anggota keluarga saja dapat mempengaruhi kehidupan seluruh anggota. Beberapa anggota mungkin akan mengalami masalah di kantor, atau di sekolah atau mungkin hanya karena interaksi sehari-hari dengan orang lain.

 

3 dari 4 halaman

Masalah yang Dihadapi

Ketika hal tersebut sudah mulai menjadi isu yang besar dalam keluarga dan tidak lekas membaik, malah memperburuk keadaan, mungkin sudah saatnya untuk bertemu terapis keluarga. Dilansir dari WebMD, masalah yang dapat ditangani terapis, sebagai beriikut;

- Konflik antar anggota keluarga

- Penyalahgunaan obat dan kecanduan

- Adanya penyakit mental pada salah satu anggota keluarga

- Masalah keuangan dan ekonomi keluarga

- Masalah anak di sekolah

- Masalah antar saudara

- Masalah perilaku anak yang buruk

- Perpisahan atau perceraian

- Adanya annggota keluarga yang mengalami sakit parah atau meninggal dunia.

Apa yang terjadi selama terapi berlangsung?

Pertama terapis akan mengajak bicara seluruh anggota keluarga satu persatu guna memahami masalah apa yang terjadi. Terapis akan bertanya tentang pandangan setiap anggota keluarga mengenai masalah yang terjadi, kapan masalah mulai muncul, dan bagaiman dalam keluarga tersebut coba untuk menangani masalahnya sendiri.

 

4 dari 4 halaman

Rencana Terapi dan Perawatan

Kemudian, terapis akan mulai membuat menyusun rencana perawatan. Terapi dikatakan berhasil ketika masalah keluarga teratasi, bukannya saling menyalahkan antar anggota.
Terapis akan membantu anggota keluarga berkomunikasi lebih baik, memecahkan masalah, dan menemukan cara baru untuk melanjutkan kehidupan.

Dengan terapi ini memang tidak selalu dapat memecahkan masalah tetapi setidaknya dapat memberikan anggota keluarga keterampilan baru dalam menyelesaikan masalah pada situasi sulit di masa mendatang.

Terapi keluarga biasanya tidak berlangsung lama, rata-rata terdapat 12 sesi. Seberapa sering bertemu terapis dan banyaknya sesi tergantung dari fokus masalah yang mau diselesaikan. Bisa menghubungi layanan psikologi keluarga yang memberikan konseling untuk bisa mendapat terapi ini.

Laporan Josephine Widya

Beri Komentar