Tukang Angkot Penguasa Layar Kaca

Reporter : Amrikh Palupi
Minggu, 29 Oktober 2017 19:20
Tukang Angkot Penguasa Layar Kaca
Eko Patrio merintis karier di dunia hiburan dengan usaha keras. Kini dia menguasai layar kaca.

Dream - Tubuh mungil itu tetap gesit. Air muka ceria. Bibir selalu menyungging senyum. Mata di balik kaca masih berbinar. Tak ada lelah menggelayut. Seharian didera pekerjaan, semangatnya tetap membara.

Malam sudah larut. Jarum jam menunjuk angka sembilan lewat seperempat. Pria berhem putih dengan celana chino oranye baru itu keluar studio. Ditemani biduan kondang, Zaskia Gotik. Keduanya akrab. Bercakap hangat, sesekali mereka tergelak.

Keduanya berjalan gegas. Membelah lobi gedung stasiun televisi yang mulai sepi itu. Langkah pria itu semakin laju saat pria bertubuh tegap yang berdiri di depan pintu otomatis memberi isyarat anggukan kepala.

Pria berkaca mata itu adalah Eko Patrio. Keduanya baru saja selesai syuting program Bombastis. Malam boleh tua. Tapi Eko belum berniat pergi ke peraduan. Jadwalnya masih padat. Pekerjaan masih menumpuk.

 eko patrio© eko patrio

Dari stasiun televisi di Mampang itu, Eko meluncur ke Cipinang. Menuju markas Komando. Rumah produksi yang dia rintis 17 tahun silam. Di sana, setumpuk pekerjaan telah menunggu. " Malam ini harus ke kantor, lihat editing," kata Eko saat berbincang dengan Dream.

Pria bernama asli Eko Hendro Purnomo ini memang selalu sibuk. Kariernya di dunia hiburan moncer. Lewat Komando itulah dia sekarang menguasai layar kaca. Banyak program garapan rumah produksi itu menjadi favorit pemirsa televisi Tanah Air.

1 dari 2 halaman

Tukang Angkot ke Layar Kaca

Tak mudah bagi Eko untuk menguasai layar kaca. Jalannya berliku. Bagai drama. Tumbuh dari keluarga sederhana tak membuatnya menyerah. Pengalaman hidup keluarga itulah yang menempanya hingga menjadi selebritis kondang.

Lahir di Nganjuk, 30 Desember 1970. Eko diboyong ke Jakarta oleh orangtuanya, Sumarsono Mulyo dan Sumini, saat masih berusia 40 hari. Sebagai perantau, keluarga ini belum punya apa-apa. Mereka menumpang kerabat Sumini di Kebon Pala. Di Jakarta, Sumarsono menjadi mandor pabrik.

Keluarga Eko lambat laun mapan. Mereka membangun usaha, mulai warung sampai angkot. Namun, kejayaan itu perlahan surut. Usaha merugi. Toko tutup, armada angkot pun dijual. Perkakas rumah pun diuangkan. Keluarga Eko kembang kempis.

 keluarga eko patrio© keluarga eko patrio

Kondisi memang terpuruk. Tapi Eko terus bergerak. Dia sadar dengan potensi seninya. Sejak kecil suka membanyol. Inilah modal utama. Dia kemudian membentuk grup lawak Seboel. Kependekan dari Sekelompok Bocah Eling. Grup ini dihidupkan bersama Jejen dan Tejo.

Pada 1989, Seboel yang tampil bersama Dorce Gamalama menjadi juara dua lomba lawak nasional yang diadakan oleh TVRI dan RRI. Nama Dorce melejit, tapi Seboel tak kunjung berkibar. Tejo akhirnya hengkang. Posisinya digantikan Akri dan Taufik Savalas--almarhum.

Grup ini akhirnya bubar pada 1993. Banyak personel yang memilih konsentrasi menjadi penyiar Radio Suara Kejayaan. Termasuk Eko yang kuliah sambil menjadi penyiar di stasiun yang kondang disebut Radio SK itu.

Seboel memang kurang berkibar. Tapi grup itu telah menjadi pintu bagi Eko. Sejumlah kontes lawak bisa dijuarai. Bonus bisa kenal komedian nasional. Karier Eko sebagai penyiar radio moncer sejak dipasangkan dengan Ulfa Dwiyanti. Acara Batavia SK yang mereka pandu diminati pendengar.

Di Radio SK pula Eko bersahabat dengan Akri dan Patrio. Trio ini memproklamirkan grup lawak Patrio pada 10 Oktober 1994. Mereka menjadikan kawula muda sebagai sasaran lawakan. Sejak itu, Eko melejit di kancah lawak nasional.

Belum setahun terbentuk, Patrio mendapat tawaran kontrak. Trio ini sukses mengocok perut pemirsa lewat program Ngelaba. Nama Eko semakin dikenal, bersama Akri dan Parto.

Sejak itulah wajah Eko wara-wiri di layar kaca. Tak hanya ngelawak. Eko juga menjadi presenter. Dari situlah pundi-pundi uangnya terus menggelembung. Eko menjelma sebagai komedian kelas atas.

2 dari 2 halaman

Membangun Bisnis

Melejit sebagai pelawak tak membuat Eko lupa masa lalu. Dia mulai berbisnis. Pada 1998, ekonomi Indonesia memang terpuruk. Banyak rekan yang nganggur. Saat itulah hati Eko tergerak. Dia membuka warung tenda di Kuningan, Jakarta Selatan.

Warung berkapasitas 20 tempat duduk itu menampung sepuluh tenaga kerja. Nama warung itu unik. Komando. Kependekan dari Eko-Makan-Doyan. Nasi Goreng Kerusuhan dan Soto Tempur menjadi menu andalan. Masa-masa itu memang terjadi kerusuhan akibat krisis ekonomi.

Sayangnya, setahun berselang warung itu digusur. Eko kemudian memindahkan usahanya itu ke samping sebuah mal. Tapi pada 2001, warung itu kembali digusur karena lokasi itu akan dibangun sebuah mal. " Saya putusin untuk buat rumah produksi," kenang Eko.

 eko patrio© eko patrio

Rumah produksi itu berkantor di Jalan Cipinang Indah, Jakarta Timur. Production house ini awalnya hanya tempat ngumpul para artis saja. " Seperti Kiwil, Yadi, Jarwo, gitu kebetulan mereka kan ada di Radio SK dan tidak bekerja lagi," tutur pria yang 16 tahun lalu menikahi Viona Rosalina ini.

Perkumpulan itu menjadi sara penyaluran bakat seni yang dikelola secara kekeluargaan. Namun kemudian dikelola secara profesional bernama Ekomando. " Pelan-pelan, akhirnya jalan sampai sekarang," tambah Eko.

Eko masih ingat betul saat pertama menawarkan konsep acara ke stasiun-stasiun televisi. Dia hanya bermodal proposal sembilan lembar kertas. Perlu usaha keras meyakinkan para pimpinan stasiun televisi itu.

Setelah mendapat kontrak, tak semua uang yang didapat masuk kantong. Sebagian besar dia putar untuk menelurkan program baru. " Jadi uangnya muter," lanjut ayah dua anak ini.

Program pertama Ekomando adalah infotainment. Laku keras di pasaran. " Namanya Eko Ngegosip. Pertama kali live infotainment," kenang Eko.

Kini, rumah produksi ini berkembang pesat. Sederet artis papan atas berhasil direkrut. Kini lebih dari 20 artis telah bergabung, seperti Vega Darwanti, Ruben Onsu, Vanessa Angel, Sapri, Natalie Sarah, hingga Bedu.

Pasti Anda tahu acara Pesbukers dan Bombastis. Dua program yang tengah menjadi hit ini merupakan garapan Ekomando. Rating acara tersebut bertengger di urutan atas.

Bukan isapan jempol belaka. Program Pesbukers mampu bertahan tujuh tahun di layar kaca. Eko bersyukur punya tim yang kompak untuk menpertahankan program tersebut. " Harus update, ikuti zaman, dan teamwork," Eko mengungkap kunci sukses program itu.

Di rumah produksi itu Eko tak hanya jadi bos. Dia selalu melibatkan tim. " Jangan merasa hebat dan besar. Kadang saya dengar ide-ide dari office boy, menerima masukan dari semuanya," tutur dia.

 eko patrio© eko patrio

Melalui Ekomando itu pula Eko menggantungkan impian. Dia ingin teman-temannya sukses melalui production house ini. " Saya ingin memberikan kesempatan. Saya lihat teman-teman kapasitasnya bagus, cuma enggak dihimpun. Saya putuskan untuk bantu lewat Ekomando," kata dia.

Selain sukses dengan rumah produksi, Eko juga masih menggeluti bisnis kulinernya. Setelah warung tendanya dua kali gulung tikar, dia tak kapok. Kini pria 46 tahun ini punya restoran kekinian. Bila kebetulan lewat Jalan Saharjo, Tebet, mampirlah ke Warung Komando. Itulah warung kekinian Eko.

Kedai di Jalan Saharjo nomor 1 itu ditata kekinian. Cocok untuk bersantai. Parkir luas. Lantai dua warung itu bisa dipakai meeting. Di sinilah Eko menghidupi 30 karyawan. Usaha ini akan dikembangkan di Bandung dan Tangerang.

" Jadi buat saya, hidup harus dinikmati. Karena semata-mata yang dilakukan ini ibadah. Coba jika saya tidak bergerak berapa orang yang ada di belakang saya," ujar Eko seraya tersenyum.

Sukses dengan rumah produksi dan warung, tak membuat Eko lupa diri. Dia enggan mengungkap omzet seluruh usahanya. Bagi dia, yang penting usaha itu bisa membantu orang banyak.

" Alhamdulillah, barokah. Main saja ke kantor, itu sudah jadi aset saya," tutup Eko.


Laporan: Rizky Astuti

Foto-Foto : Dok. Kapanlagi.com

 

Beri Komentar