Sumber: Shutterstock
Dream - Pandemi corona yang mewabah menimbulkan banyak dampak bagi masyarakat di seluruh dunia. Demikian halnya dalam dunia peradilan.
Banyak sidang yang terpaksa digelar secara online. Tidak terkecuali persidangan hak asuh anak.
Kimberly Wieneke, perempuan asal Arkansas, Amerika Serikat telah direngut harapan memiliki anak lewat adopsi akibat pandemi Covid-19. Padahal, dia sangat berharap Jaden, bocah 2 tahun yang telah dirawatnya dapat menjadi anaknya.
Jaden akan menjalani persidangan hak asuh anak. Kiemberly mengaku sangat mencintai Jaden sejak pertama kali masuk ke kehidupannya. Kimberly dan suaminya telah menjadi orang tua asuh bagi Jaden sejak Mei tahun lalu.
" Dalam hati saya, saya sudah tahu, saya mengingkan Jaden untuk menjadi keluarga saya," jelas Kimberly yang tinggal di Fort Smith, Arkansas, dikutip dari CNN.
Kimberly dan suaminya tahu Jaden akan disiapkan untuk diadopsi pada bulan Februari. " Kami tahu, kami akan mengadopsi Jaden pada 16 April nanti," jelas Kimberly.
Kimberly begitu menantikan menunggu hari spesial itu dan membuat banyak rencana istimewa sambil menunggu hari itu datang. Tetapi, semua keistimewaan itu hilang lantaran pandemi virus corona terjadi.
Pandemi corona telah mengubah kehidupan di AS dan nyaris di seluruh dunia, termasuk bagaimana persidangan anak dilakukan.
Banyak persidangan yang dilakukan secara online akibat pandemi, hal ini yang Kimberly percaya juga akan terjadi pada persidangan Jaden.
" Kami setiap hari melihat foto-foto keluarga adopsi yang berdiri bersama hakim, mereka nampak tersenyum lebar," jelas Kimberly.
" Tapi sayang, kami tidak dapat merasakan hal tersebut," ucap dia melanjutkan.
Akibat pandemi corona, persidangan Jaden harus dilakukan melalui aplikasi Zoom. Tetapi, Kimberly mengatakan persidangan adopsi tersebut tidak kalah istimewa dengan yang lainnya, yang biasa dilakukan di ruang persidangan.
" Terkadang saya merasa ini tidak nyata. Saya hanya duduk dan memandang Jaden, dan dia adalah 'milik saya'," jelas Kimberly.
" Tapi kembali lagi, masih ada yang terasa kurang," ucap dia.
Dream - Sepasang kembar identik asal Southampton, Inggris meninggal dunia setelah dinyatakan positif terkena virus Covid-19.
Katy Davis (37) yang bekerja sebagai perawat anak meninggal di Rumah Sakit Umum Southampton pada Selasa 21 April 2020.
Sedangkan saudara kembarnya, Emma Davis yang juga seorang mantan perawat meninggal di rumah sakit yang sama pada Jumat pagi, 24 April 2020.
Kakak perempuan Katy dan Emma, Zoe mengatakan hubungan keduanya sebagai saudara kembar sangatlah erat.
" Mereka selalu berbicara tentang mereka telah datang ke dunia bersama dan akan meninggal bersama," ungkap Zoe, dilansir dari BBC.com.
Zoe mengatakan, saudara kembar ini telah hidup bersama dan sudah merasa sakit untuk beberapa waktu. Keduanya juga memiliki cita-cita yang sangat mulia.
" Yang mereka ingingkan adalah membantu orang lain. Sejak kecil, mereka sering berpura-pura menjadi dokter dan perawat untuk merawat boneka mereka," tutur Zoe.
Selain itu Zoe juga bercerita bagaimana kehidupan Emma dan Katy saat menjadi perawat. Keduanya selalu memberikan yang terbaik untuk para pasien. Zoe masih tak menyangka ia kehilangan kedua adiknya yang sangat istimewa secara bersamaan.

Foto: Courtesy of Zoe Davies (BBC.com)
Katy bekerja di Rumah Sakit Anak Southampton dinyatakan positif covid-19 saat dilakukan pengecekan oleh pihak rumah sakit dan meninggal pada Selasa malam.
Paula Head, Kepala Direksi Rumah Sakit Universitas Southampton NHS Foundation Trust, Inggris, mengatakan, " Katy dideskripsikan oleh rekan-rekannya sebagai seorang perawat yang sangat telaten dan banyak perawat yang ingin mengikuti jejaknya. Selain itu, bagi Katy menjadi seorang perawat bukan hanya sekedar pekerjaan, tetapi lebih dari itu."
Atas nama semua pekerja Rumah Sakit Universitas Southampton NHS Foundation Trust, Paula menyampaikan belasungkawa kepada pihak keluarga Emma dan Katy.
Sementara itu, Emma Davis telah bekerja di rumah sakit yang sama dengan Katu di unit bedah kolarektal selama sembilan tahun dan berhenti pada 2013.
Royal Collage Nursing mengatakan, Emma merupakan perawat yang berdedikasi dan tidak mementingkan diri sendiri. Ia memiliki waktu untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan perawat lain bagaimana cara menjadi pewarat yang baik bagi pasien.
Emma juga digambarkan sebagai wanita yang ceria, tenang dan disukai semua orang.

Foto: Courtesy of Zoe Davies (BBC.com)
" Emma memang memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik seperti katy sebelum dinyatakan positif covid-19," kata Gail Byrine, Kepala Staf Royal College Nursing.
Berdasarkan daftar yang telah disusun oleh Nursing Times, hingga saat ini ada 50 perawat di Inggris yang telah meninggal selama masa pandemi virus Covid-19.
Laporan: Razdkanya Ramadhanty