Alasan Wanita Dilarang Nikahi Lebih dari Satu Pria

Reporter : Puri Yuanita
Sabtu, 11 Juni 2016 04:29
Alasan Wanita Dilarang Nikahi Lebih dari Satu Pria
Praktik poligami di mana seorang pria memiliki istri lebih dari satu, diperbolehkan dalam Islam. Namun sebaliknya, Islam melarang poliandri.

Dream - Dalam masyarakat, kita mengenal istilah poligami dan poliandri. Praktik poligami adalah hal lazim bahkan sudah sering kita jumpai di tengah masyarakat. Bahkan praktik poligami di mana seorang pria memiliki istri lebih dari satu, diperbolehkan dalam Islam. Nabi Muhammad SAW pun memiliki istri lebih dari satu.

Namun sebaliknya, poliandri menjadi sesuatu yang tak lazim bahkan cenderung menyimpang dari kebiasaan masyarakat. Islam pun melarang praktik poliandri, di mana seorang perempuan memiliki suami lebih dari satu.

Lantas apa sebab poliandri dilarang? Berikut ulasannya.

Secara biologis, seorang pria lebih mudah melakukan tugasnya sebagai suami meskipun mempunyai beberapa istri. Apabila wanita yang memiliki beberapa suami maka tidak mungkin ia bisa melakukan semua tugasnya dengan baik. Hal ini disebabkan beberapa perubahan perilaku dan psikologis wanita seperti siklus haid.

Kemudian, apabila seorang wanita memiliki lebih dari satu suami dan ketika sang istri hamil dan memiliki anak. Maka anak itu akan sulit diidentifikasi siapa ayahnya. Dalam hal ini hanya ibulah yang dapat diidentifikasi. Padahal Islam sangat memperhatikan identifikasi kedua orangtua, baik ibu atau ayahnya.

Apabila seorang wanita memiliki suami lebih dari satu maka dapat diartikan bahwa wanita itu juga memiliki beberapa pasangan bercinta. Ketika mereka sedang melakukan hubungan intim, maka sang istri akan lebih rentan tertular penyakit kelamin. Meskipun sang suami tidak melakukan hubungan intim di luar nikah, tapi hal ini masih bisa terjadi.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.   (Ism) 

1 dari 2 halaman

5 Amalan Buruk yang Menutup Pintu Rezeki

Dream - Rezeki adalah karunia Allah SWT yang diberikan kepada kita dalam bentuk apapun baik itu materi kesehatan ataupun yang lainnya. Setiap orang memiliki kadar rezeki yang berbeda-beda.

Mungkin Kita sudah pernah merasa sudah bekerja keras. Namun, rezeki yang diperoleh tak sesuai dengan yang diinginkan. Dalam hal ini janganlah kita menyalahkan orang lain atau bahkan menyalahkan Allah Swt.

Cobalah menyadari jika rezeki yang kita peroleh juga bisa disebabkan oleh kebiasan-kebiasaan yang tanpa Kita sadari dapat menghalangi rezeki-rezeki dari Allah Swt.

Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang.

Baca 5 perbuatan buruk yang menutup pintu rezeki di tautan ini 

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi 

 

2 dari 2 halaman

Bolehkah Hubungan Intim di Malam Puasa, Tapi Junub Saat Subuh?

Dream - Bolehkah berhubungan intim di malam hari puasa, lalu mandi junub saat Subuh?

Jawabannya, boleh. Berikut alasannya.

Allah SWT berfirman,

" Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam."  (QS. Al Baqarah: 187).

Di awal-awal pensyariatan puasa, jika sudah berbuka puasa, dibolehkan untuk makan, minum dan berhubungan intim selama belum tidur di malam hari. Jika sudah tidur, maka hal yang dibolehkan tadi sudah dilarang. Coba perhatikan kisah Umar berikut,

" Umar pernah berhubungan intim dengan budak wanitanya atau salah satu istrinya yang merdeka. Itu dilakukan setelah tidur di malam hari. Kemudian Umar mendatangi Nabi SAW dan menceritakan yang ia alami tadi. Allah SWT lantas menurunkan firman Allah (yang artinya), " Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu." Hingga firman Allah SWT (yang artinya), " Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam hari."  (HR. Ahmad, 5: 246. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa periwayat hadits ini adalah tsiqah selain Al-Mas’udi)

 

Beri Komentar