Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan teknis vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 6 hingga 11 tahun bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pelaksanaan vaksinasi akan memperhatikan kondisi kesehatan pada anak, termasuk ada tidaknya komorbid yang berisiko.
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan berdasarkan kajian IDAI, anak usia 6-11 tahun akan mendapatkan vaksin dengan dosis 0,5 mililiter dan jeda penyuntikan empat pekan dari dosis pertama ke dosis kedua. Ketentuan ini sama dengan yang berlaku pada dewasa.
" Artinya kalau dua kali dan dosisnya sama dengan dewasa sasarannya 26 juta, berarti kita minimal butuh vaksin 50 juta, harus kita upayakan untuk bisa menambahk stok vaksin saat ini," kata dia.
Nadia menjelaskan vaksinasi anak memiliki prosedur yang sama dengan dewasa yaitu penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Karena itu, dia mengajak para orangtua untuk memeriksa NIK anak agar sudah siap ketika vaksinasi mulai berjalan.
" Kalau belum ada, silakah datang ke kecamatan atau kelurahan setempat untuk menanyakan NIK dari anak kita," kata dia.
Nantinya, vaksinasi anak akan melibatkan pihak sekolah. Ini karena anak pada rentang usia 6-11 tahun umumnya duduk di bangku Sekolah Dasar.
Pelibatan sekolah dalam vaksinasi, kata Nadia, sudah sering dilakukan Kemenkes. Hampir setiap tahun Kemenkes menggelar vaksinasi bekerja sama dengan sekolah-sekolah.
" Jadi nanti kita menggunakan mekanisme ini," terang Nadia.
Mekanisme tersebut juga disarankan oleh ITAGI dan IDAI. Menurut dia, anak-anak cenderung berani divaksin di sekolah karena melihat teman-temannya.
" Jadi mungkin akan lebih termotivasi dibandingkan kalau dia datang ke puskesmas atau rumah sakit," kata dia.
Untuk anak di luar sekolah, Kemenkes akan melibatkan dinas sosial. Sedangkan vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 6-11 tahun penyandang disabilitas akan melibatkan Sekolah Luar Biasa serta komunitas yang menaungi, dikutip dari Merdeka.com.
Dream - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan rencana Pemerintah memperluas cakupan penerima vaksinasi Covid-19. Sasaran penerima yang akan ditambah yaitu kelompok anak usia 5-11 tahun.
Budi mengatakan saat ini sudah ada tiga produsen vaksin yang menggelar uji klinik terhadap kelompok usia tersebut yaitu Sinovac, Sinopharm, dan Pfizer.
Kemenkes masih menunggu hasil uji klinis tersebut serta berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk penerbitan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA).
" Juga untuk memastikan bahwa kita bisa mengeluarkan (EUA) sesegera sesudah di negara asal ketiga vaksin tersebut, Sinovac, Sinopharm, dan Pfizer bisa digunakan untuk anak-anak usia 5 sampai 11 tahun," ujar Budi, disiarkan kanal Perekonomian.
Jika seluruh proses tersebut selesai, Budi memperkirakan program vaksinasi anak bakal berjalan pada 2022.
" Rencananya kalau itu sudah keluar hasil uji klinisnya, kita bisa mulai digunakan di awal tahun depan," ucap dia.
Selain itu, Pemerintah juga akan memberikan booster vaksin keapda masyarakat di 2022. Ada beberapa kelompok penerima yang diprioritaskan dalam program vaksinasi booster.
" Sesuai dengan saran Organisasi Kesehatan Dunia, booster ini akan diberikan ke kalangan masyarakat berisiko tinggi dan yang sedang mengalami defisiensi imunitas," terang Budi.
Kelompok berisiko tinggi tersebut seperti tenaga kesehatan dan lanjut usia. Sedangkan kelompok yang tergolong memiliki defisiensi imunitas di antaranya penderita HIV/AIDS dan kanker.
" Tahun depan rencananya memang kita akan memberikan booster," ucap Budi.
Saat ini, Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional dan sejumlah perguruan tinggi sedang meneliti jenis vaksin ideal untuk booster. Langkah ini untuk menentukan kombinasi yang paling baik di antara vaksin yang digunakan.
" Antara Sinovac-Sinovac, boosternya Sinovac, atau Sinovac-Sinovac dan AstraZeneca atau Sinovac, Sinovac dan Pfizer, demikian juga dengan AstraZeneca-AstraZeneca dan AstraZeneca, atau yang ketiga Sinovac dan Pfizer," ucap Budi.