Cerita Nyata Penggali Kubur Jenazah Covid-19 yang Penuh Risiko Bikin Haru

Reporter : Sugiono
Sabtu, 26 Juni 2021 13:45
Cerita Nyata Penggali Kubur Jenazah Covid-19 yang Penuh Risiko Bikin Haru
"Biarlah jasa kami tidak dipandang asalkan ‘rumah terakhir’ pasien COVID-19 dapat diurus dengan baik."

Dream - " Bacaan Al-Fatihah serta doa menjadi 'hadiah' terakhir dari kami buat jenazah pasien COVID-19. Hanya itu saja yang selalu dibaca di dalam hati ketika mengusung jenazah sehingga menurunkannya ke liang lahad," kata seorang penggali kubur, Yazrul Ekhzan.

Menurut petugas Sub Unit Perkuburan dan Krematorium Putrajaya di Malaysia berusia 42 tahun ini, mengurus jenazah pasien COVID-19 lain daripada lainnya.

Suasananya 'sepi', tidak ramai seperti pemakaman biasanya. Keluarga, kerabat dan handai tolan memang tidak diperkenankan berada di perkuburan untuk bersama-sama mengiringi perjalanan terakhir sang pasien.

1 dari 6 halaman

Keluarga Memandang dari Kejauhan

" Memang sangat sedih saat lihat keluarga korban COVID-19 tidak dapat menyentuh, menatap, dan mencium jenazah buat kali terakhir.

" Ada juga keluarga pasien datang mengiringi mobil jenazah, tetapi tidak boleh mendekat ke area perkuburan, karena prosedur operasi standar (SOP) dalam mencegah penularan," kata Yazrul.

Walaupun pekerjaan yang dipikul sangat berat, namun sedikit pun tidak mematahkan semangat Yazrul bersama enam rekan kerjanya dalam menjalankan tugas sebagai penggali kubur.

" Biarlah jasa kami tidak dipandang asalkan ‘rumah terakhir’ pasien COVID-19 dapat diurus dengan sebaik-baiknya," kata pria yang hampir enam bulan bertugas sebagai penggali kubur.

2 dari 6 halaman

Hampir Setiap Hari Terima Panggilan Pemakaman

Jelas ayah dari empat anak ini, kasus kematian akibat virus maut itu semakin meningkat awal tahun ini, termasuk daerah kecil seperti Putrajaya, yang sekaligus menunjukkan virus COVID-19 semakin mengganas.

Yazrul mengatakan sebelum menerima suntikan vaksin baru-baru ini timbul rasa khawatir ketika mengurus jenazah pasien COVID-19. Namun dia terpaksa membuang perasaan itu demi tanggungjawab yang diamanahkan kepadanya.

Hampir setiap hari Yazrul menerima panggilan telepon dari Rumah Sakit Putrajaya karena akan ada jenazah yang akan diantar ke Taman Selatan di Presint 20, yang menggabungkan tanah perkuburan Muslim dan non-Muslim.

3 dari 6 halaman

Hanya Berharap Jasad Segera Dikebumikan

Begitu menerima tugas tersebut, dia bersama enam rekan lainnya akan pergi ke tanah perkuburan untuk melakukan penggalian. Tujuannya agar jenazah bisa segera dimakamkan untuk menghindari risiko penularan virus.

" Kerja sama amat penting, terutama dalam memberi dukungan mental karena kami menghadapi cuaca yang tidak menentu, kadang panas terik atau hujan yang terlalu lebat.

" Namun bagaimana pun keadaannya, semuanya harus dilakukan dengan baik karena kita tidak boleh terlalu lama bersama jenazah. Apa yang bisa kami lakukan ketika itu adalah senantiasa berdoa semoga pengurusan jenazah dapat dipermudahkan dan dikebumikan segera," katanya.

4 dari 6 halaman

Sedih Dengar Ada yang Tak Percaya Covid-19

Yazrul mengaku sangat sedih apabila ada segelintir masyarakat masih tidak sadar bahaya COVID-19.

Mereka meremehkan penularan virus corona dengan tidak mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

" Hanya mereka yang telah kehilangan keluarga atau orang yang disayangi yang sadar bahwa COVID-19 ini nyata.

" Sekiranya masyarakat masih menganggap remeh, tidak mustahil mungkin suatu hari nanti kita atau keluarga pula yang akan mengalami hal yang sama," ujar Yazrul

5 dari 6 halaman

Anggap Tugas Sebagai Amanah

Sementara itu, rekan seperjuangan Yazrul, Zulkhurnain Abu Samah, 50 tahun, mengatakan tugas penggali kubur juga penting walaupun bukan seperti petugas barisan depan lainnya yang 'kelihatan' dalam menyelamatkan nyawa atau menjaga keselamatan warga.

" Ini adalah amanah dan kita perlu melaksanakannya dengan penuh dedikasi walaupun susah. Saat awal COVID-19 melanda, kami memang khawatir mengurus jenazah karena waktu itu tidak banyak pengetahuan tentang penyebaran virus, sifat virus, dan bahayanya.

" Namun ketika kasus harian semakin tinggi dan angka kematian juga meningkat, kami perlu menghadapi tugas dan situasi ini dengan hati ridha," katanya.

6 dari 6 halaman

Alhamdulillah, Masih Dilindungi dari Tertular Covid-19

Seorang lagi rekan seperjuangan mereka, Mohd Rizal Othman, 41 tahun, menjelaskan bahwa tugas mereka sangat berisiko tertular. Namun amanah perlu dilaksanakan dengan baik dalam situasi apa pun.

" Alhamdulillah.. hingga hari ini, kami tujuh sahabat selamat dan tak ada yang dijangkiti atau dikarantina karena COVID-19. Ini karena (berkat) doa yang tidak pernah putus supaya segala urusan dipermudahkan," kata Rizal.

Walaupun kadang kala merasa tertekan dengan tugas yang melelahkan, namun para penggali kubur jenazah pasien COVID-19 tidak pernah berputus asa.

Mereka yakin wabah ini akan berakhir jika seluruh masyarakat bisa bekerja sama dengan mematuhi SOP yang ditetapkan serta mengikuti nasihat kementerian kesehatan.

Sumber: Siakapkeli.my

Beri Komentar