Covid-19 Jakarta Melonjak, PSI Desak Pemberlakuan Jam Malam & Wajib Tes Antigen

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Rabu, 6 Januari 2021 16:00
Covid-19 Jakarta Melonjak, PSI Desak Pemberlakuan Jam Malam & Wajib Tes Antigen
PSBB ketat perlu dilakukan di tengah lonjakan angka kasus Covid-19 yang sangat tinggi.

Dream - Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI Jakarta mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat untuk menggantikan PSBB transisi. Usul ini mencuat setelah melihat lonjakan kasus positif Covid-19 di ibukota. 

" Fraksi PSI menyayangkan PSBB Transisi diperpanjang tanpa adanya pengetatan aturan meski jumlah kasus aktif dan jumlah kematian akibat Covid-19 meningkat tajam dalam dua pekan terakhir," ujar Ketua Fraksi PSI, Idris Ahmad, Rabu 5 Januari 2021.

Menurut Idris, periode pasca libur akhir tahun 2020 adalah masa kritis dalam upaya penanganan Covid-19 di ibukota. Untuk itu, Pemprov DKI diharapkan memperpanjang penerapan aturan ketat yang berlaku pada liburan natal dan tahun baru pada PSBB transisi hingga 17 Januari mendatang.

 

 

1 dari 3 halaman

Penerapan Peraturan Ketat

Dalam PSBB Ketat ini, Idris mengusulkan diberlakukannya aturan pembatasan jam malam dan kewajiban melakukan rapid test antigen bagi siapa saja yang keluar masuk wilayah Jakarta.

“ Penambahan kasus aktif mendesak ditangani saat ini Jakarta sudah kewalahan. Tingkat keterisian ICU sudah mencapai 79 persen, keterisian ranjang isolasi sudah mencapai 87 persen. Daya tampung RSD Wisma Atlet juga nyaris penuh, hingga harus menolak pasien OTG. Ini membuktikan bahwa Jakarta sudah kesulitan menangani pertambahan kasus aktif yang sudah ada,” jelasnya.

Selain itu, PSI menyoroti lonjakan yang terlihat dari jumlah RW rawan di Jakarta yang bertambah lebih dari 2 kali lipat dari 21 RW menjadi 55 RW.

2 dari 3 halaman

Semua Kecamatan di Jakarta Terancam

" Artinya tidak ada kecamatan yang bebas dari pertambahan kasus aktif. Ini menunjukkan Jakarta tengah mengalami penularan yang sangat masif, anggota keluarga yang hanya sesekali keluar rumah dapat menularkan virus di rumah,” kata Idris.

Pemprov DKI Jakarta perlu menekankan bahwa pandemi Covid-19 ini masih ada dan terus mengancam kesehatan warga masyarakat. Selain edukasi penerapan 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak), pelaksanaan praktik 3T (Tracing, Testing, Treatment) harus terus ditingkatkan jika ingin memutus mata rantai penularan Covid-19.

”Harus sama-sama dilakukan, masyarakat melaksanakan 3M dan pemerintah meningkatkan 3T, tidak boleh putus harus terus dilakukan selama pandemi ini berlangsung,” tambahnya.

 

 

3 dari 3 halaman

Pentingnya Edukasi Covid-19

Menurutnya Pemprov DKI bisa melibatkan paguyuban keluarga seperti PKK dan Jumantik untuk melakukan pendekatan personal maupun melalui teknologi melalui pesan daring dan iklan informasi di koran dan televisi sehingga isu Covid-19 selalu terngiang di kepala warga.

“ Pemprov DKI tidak boleh lengah. Bila Jakarta gagal mengendalikan laju penularan, maka semakin banyak warga tertular Covid-19 yang terlantar tak tertangani di puskesmas dan Rumah Sakit,” kata dia.

Sumber: merdeka.com

Beri Komentar