Warga Afghanistan Kabur hanya Bawa Baju di Badan

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 25 Agustus 2021 09:00
Warga Afghanistan Kabur hanya Bawa Baju di Badan
Ini bukan sekadar pergi. Ini tentang mimpi indah yang terpaksa dikubur dalam-dalam.

Dream - Puluhan, bahkan ratusan orang, berdiri pada posisi sebaris. Sebagian dari mereka terlihat membawa tas seadanya, namun lebih banyak yang hanya membawa pakaian di badan.

Mereka tengah mengantre agar bisa masuk ke pesawat militer Amerika Serikat dan sejumlah negara lain di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan. Mereka tinggalkan jauh-jauh mimpi bisa hidup damai dan tenang di negeri sendiri.

Mereka berbaris rapi. Panjangnya tak terkira. Kemudian berjalan pelan sembari menunggu giliran. Tak ada barang apapun yang bisa dibawa selain satu koper dan pakaian yang dikenakan. Itu sesuai instruksi tim evakuasi dari sejumlah negara.

Kepergian mereka ke luar negeri tidaklah sebatas meninggalkan Afghanistan. Mereka terpaksa meninggalkan mimpi yang sudah dibangun selama 20 tahun terakhir, tentang pekerjaan yang sukses, tentang gelar akademik yang tinggi, dan tentang keluarga yang bahagia di dalam negeri.

 

1 dari 5 halaman

Antrean warga Afghanistan© BBC

Wartawan lepas Bilal Sarwary termasuk di antara mereka yang berhasil mencapai lapangan terbang. Semua yang dibangun dengan susah payah harus dia tinggalkan, kecuali beberapa pasang pakaian dan keluarga mudanya.

Sarwary sudah punya rencana membesarkan putrinya, bernama Sola, yang berarti " perdamaian" di negara asalnya. Teramat sayang, mimpi itu harus dia pendam dan berharap suatu hari bisa anaknya memahami keputusan yang dibuatnya untuk pergi dari Afghanistan.

" Hari ini adalah hari di mana satu generasi warga Afghanistan telah mengubur mimpi dan aspirasi mereka dan kehidupan kita," kata Sarwary.

Selama 20 tahun lamanya, Sarwary menjadi kontributor tetap media Inggris, BBC. Selama itu pula dia melaporkan setiap detik yang terjadi di Afghanistan, khususnya di Kabul.

" Kota ini bagi kami adalah rumah kami, terlepas dari kontradiksinya kami menyebutnya rumah, kami dibesarkan dari sini. Kami berharap Taliban dapat belajar dari pelajaran masa lalu… dan kami dapat membuktikan kami dapat menjauh dari tank dan peluru, menuju jalan di mana semua orang bisa melihat diri mereka sendiri," ucap dia.

 

2 dari 5 halaman

Sekitar 17 ribu orang telah meninggalkan Afghanistan melalui bandara Kabul pada pekan lalu, menurut AS. Tidak diketahui berapa banyak warga Afghanistan yang diberi visa untuk bekerja dengan pemerintah dan organisasi internasional di tengah kekhawatiran mereka mungkin menjadi sasaran Taliban.

Banyak dari mereka adalah kalangan profesional dan lulusan perguruan tinggi, dan Sarwary khawatir apa artinya " pengosongan otak" ini bagi Afghanistan. " Afghanistan adalah negara di mana orang-orang baik, mereka tidak tumbuh di pohon," terang dia.

Di luar gerbang bandara, ada 10 ribu orang atau lebih yang berharap untuk masuk ke lapangan terbang. Sekelompok orang yang ingin pergi semampu mereka.

Semakin lama, warga Afghanistan semakin putus asa. Sementara Sabtu pekan lalu digambarkan sebagai salah satu hari terburuk, dengan beberapa wanita diketahui telah kehilangan nyawa saat maju ke landasan pacu.

Menurut NATO, mereka termasuk di antara sedikitnya 20 orang yang tewas di dalam dan sekitar bandara sejak Taliban memasuki kota itu seminggu yang lalu.

Sedangkan pada Minggu, suasana di gerbang bandara lebih tenang, meskipun saksi mata melaporkan pejuang Taliban menembak ke udara dan menggunakan tongkat untuk menjaga agar orang tetap mengantre.

 

3 dari 5 halaman

Secara global, kekhawatiran terus tumbuh bahwa negara-negara tidak akan bisa mengevakuasi warganya dan warga Afghanistan yang telah bekerja bersama mereka keluar dari zona mengerikan sebelum akhir bulan. Sementara AS memutuskan akan menarik seluruh tentaranya dan menghentikan evakuasi di akhir bulan ini.

Pada Sabtu, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell memperingatkan secara matematis tidak mungkin mengevakuasi begitu banyak orang dalam sembilan hari ke depan.

Adapun Bilal Sarwary, dia bersikeras bahwa hanya karena dia pergi, itu tidak berarti dia siap untuk menyerah.

" Hubungan kami dengan Afghanistan adalah urusan cinta yang parah, apa pun yang terjadi kami tidak akan pernah menyerah," kata dia, dikutip dari BBC.

 

4 dari 5 halaman

Kisah Pilu Pengungsi Afghanistan: Kelaparan di Bandara, Diberi Makan Tidak Halal

Dream - Pemahaman akan karakter masyarakat Afghanistan tampaknya masih menjadi persoalan bagi militer Amerika Serikat. Mereka memandang masyarakat Afghanistan sama seperti orang-orang di Barat yang didominasi non-Islam.

Hal ini menimbulkan persoalan baru dalam interaksi mereka dengan warga Afghanistan. Seperti niat baik memberi bantuan makanan yang berujung salah lantaran mengandung bahan non-halal.

Kejadian ini diceritakan seorang warga wanita Afghanistan lewat media sosial. Dia dan suami serta putri berada di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, menunggu kesempatan dievakuasi ke luar Afghanistan.

Seperti kebanyakan warga lain yang juga menunggu kesempatan kabur, wanita itu mengaku lapar. Untuk menolong mereka, tentara AS yang berjaga di Bandara Kabul memberikan sejumlah ransum makanan siap santap.

" Memberikan makan kami dengan babi, yang secara agama tidak dibolehkan, dan 95 persen orang yang ada di sini tidak tahu bagaimana membaca atau bicara Bahasa Inggris," tulis wanita itu.

5 dari 5 halaman

Dia mengunggah foto ransum makanan dari tentara AS. Pada kemasan ransum tertulis, " patty sosis babi, rasa maple."

Ransum non-halal© Daily Sabah

" Mereka tidak menyerahkan langsung kepada kami, mereka melemparkan paket-paket ini dari kejauhan," tulis dia.

Wanita itu berbagi cobaan yang dialami keluarganya dan ribuan warga Afghanistan lainnya di bandara Kabul. Dia terpaksa tidur di atas batu dan sampah dalam suasana dingin selama empat hari, sementara tentara AS terus mengawasi mereka.

" Kami tidak punya senjata. Hanya mencoba untuk keluar," tulis dia.

Ribuan warga Afghanistan berkerumun di Bandara Kabul dengan harapan melarikan diri dari Afghanistan saat Taliban mengambil alih negara itu. Banyak orang Afghanistan takut diperintah Taliban yang dikenal kejam, dikutip dari Daily Sabah.

Beri Komentar