Pilu, Ayah Putus Asa Jual Dua Anaknya untuk Beri Makan Anak-anaknya yang Lain

Reporter : Ulyaeni Maulida
Senin, 8 November 2021 12:00
Pilu, Ayah Putus Asa Jual Dua Anaknya untuk Beri Makan Anak-anaknya yang Lain
Kesulitan ekonomi memaksanya untuk menjual sang putri.

Dream – Seorang ayah di Afghanistan tega menjual anak perempuannya sendiri, lantaran ia merasa putus asa karena tidak memiliki uang sepeser pun.

Sang putri, bernama Parwana Malik, yang masih berusia 9 tahun itu, dijual kepada seorang pria berusia 55 tahun dengan harga Rp31 juta. Sang ayah mengaku terpaksa menjual putrinya demi membeli makanan untuk keluarganya.

Keluarganya telah tinggal di provinsi barat laut Afghanistan selama bertahun-tahun. Perekonomiannya pun terus mengalami kemerosotan bahkan untuk membeli bahan makanan pokok sehari-hari terasa sulit.

Beberapa bulan sebelumnya, ayah Parwana telah menjual saudaranya yang berusia 12 tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Ayah Parwana tak punya pilihan lain untuk bertahan hidup. Terlebih ia memiliki delapan anggota keluarga.

“ Saya harus menjual salah satunya untuk menjaga anggota keluarga lain tetap hidup,”ungkap ayah Parwana.

1 dari 8 halaman

Keadaan Ekomoni yang Semakin Sulit

Bulan lalu, seorang wanita bernama Saleha juga mengaku menjual putrinya yang berusia 3 tahun seharga Rp7,8 juta. Sama halnya dengan ayah Parwana, wanita itu juga menbgaku terpaksa karena mereka tidak memiliki uang untuk bertahan hidup.

Afghanistan dikabarkan tengah menuju kemiskinan universal setelah Taliban mengambil alih negara tersebut. Menurut Kanni Wignaraja, Direktur UNDP Asia-Pasifik, dalam setahun, tingkat kemiskinan di Afghanistan mencapai 97 hingga 98 persen.

Taliban mengambil alih Afghanistan setelah Presiden Joe Bidan menarik mundur pasukan Amerika Serikat dari negara tersebut. Tak butuh waktu lama hingga Taliban mengambil kembali kendali pemerintahan secara penuh pada 15 Agustus 2021.

(Sumber: businessinsider.com)

2 dari 8 halaman

Crazy Rich Indonesia Sumbang Rp10 Miliar untuk Atasi Krisis Kemanusiaan Afghanistan

Dream – Tahir Foundation mendukung respons UNICEF terhadap krisis kemanusiaan di Afghanistan. Yayasan ini menyumbang US$700 ribu, atau sekitar Rp10 miliar.

Dikutip dari laman UNICEF, Kamis 14 Oktober 2021, kerja sama ini akan menghadirkan layanan kesehatan dan gizi yang krusial bagi anak-anak dan perempuan di komunitas yang belum terjangkau dan terpencil. Layanan ini akan dihadirkan melalui tim kesehatan dan gizi keliling.

Selain itu, anak-anak tanpa pendamping dan terpisah (dari keluarga) akan memiliki ruang yang aman untuk bermain dan menerima dukungan psikososial di tempat penampungan aman sementara melalui kemitraan ini. Kemitraan tersebut diumumkan hari ini di kantor Tahir Foundation di Jakarta.

Bantuan ini diberikan oleh Founder dan Chairman Tahir Foundation, Dato Sri Tahir, kepada perwakilan UNICEF di Indonesia, Debora Comini. Tahir Foundation ingin menjadi bagian dari bantuan kemanusiaan dengan menolong anak-anak dan perempuan di Afghanistan.

Krisis kemanusiaan yang berlangsung lama di Afghanistan semakin diperburuk oleh ketidakstabilan yang belum lama ini terjadi. Di tengah konflik, kekeringan parah, dampak sosial ekonomi yang menghancurkan dari pandemi Covid-19 dan musim dingin yang mendekat dengan cepat, lebih dari 10 juta anak di seluruh Afghanistan sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

3 dari 8 halaman

Kekeringan dan Konflik Tingkatkan Risiko Anak Kurang Gizi dan Tanpa Pendamping di Afghanistan

Dengan kekeringan yang berdampak pada lebih dari 80 persen wilayah di Afghanistan, setidaknya 1 juta anak di bawah usia lima tahun berisiko menderita kekurangan gizi akut tahun ini jika tidak diberikan pengobatan.

“ Di seluruh Afghanistan, anak-anak mungkin akan menghadapi musim dingin paling berbahaya bagi mereka dalam beberapa bulan mendatang. Rendahnya imunisasi dan tingkat kekurangan gizi yang mengkhawatirkan membuat nyawa ratusan ribu anak terancam,” kata Perwakilan UNICEF di Afghanistan, Hervé Ludovic de Lys.

Dengan banyaknya keluarga yang meninggalkan rumah mereka dalam beberapa minggu terakhir karena ketidakstabilan dan ketakutan, terjadi peningkatan jumlah anak-anak tanpa pendamping dan terpisah seperti yang telah dilaporkan, terutama di Kabul dan distrik-distrik sekitarnya.

“ Anak-anak di Afghanistan membutuhkan dukungan kita sekarang lebih dari kapan pun. Pak Tahir telah menunjukkan bahwa kedermawanan dan kemanusiaan melampaui jarak,” tambah Debora.

4 dari 8 halaman

Akhir Bahagia Bayi yang Dulu Diserahkan Ayah ke Tentara AS Saat Konflik Afghanistan

Dream - Konflik yang terjadi di Afghanistan selepas tentara Amerika Serikat (AS) keluar dari negara tersebut menginggalkan bayak cerita haru. Salah satunya adalah video orang tua yang menyerahkan bayi kepada para tentara AS lewat pagar kawat berduri di Kabul.

Sebulan berlalu, kebahagiaan kini kembali menaungi orang tua yang terpaksa menyerahkan bayi itu demi keselamatannya. Keluarga mereka akhirnya kembali bersatu dan kini hidup bahagia di Arizona, Amerika Serikat.

Saat itu sang Ayah yang diketahui bernama Hameed, berada di Bandara Internasional Hamid Karzai. Ia melihat istri dan bayinya yang baru lahir berada di tengah orang-orang yang berebut tempat untuk mencoba melarikan diri dari Afghanistan.

" Hari itu saya menyerahkan bayi saya kepada orang asing. Satu-satunya hal yang saya percaya adalah bahwa dia adalah seorang Marinir, maka putri saya akan aman,” ucapnya seperti dikutip dari nypost.com.

Dalam video tampak seorang tentara AS mengambil bayi itu dari pelukan ayahnya. Kemudian mengangkatnya lewat pagar berduri untuk mencari tempat yang aman untuk si bayi.

Hal itu terjadi saat momen-momen menyedihkan di tengah evakuasi AS dan warganya dari negara yang telah dikuasai Taliban.

Keluarga yang terdiri dari ibu Sadia dan Liya yang berusia 8 minggu, sekarang aman dan nyaman tinggal bersama teman-teman di daerah Phoenix.

5 dari 8 halaman

Jadi Sasaran Taliban

Ilustrasi© YouTube/azfamily powered by 3TV & CBS5AZ

Ketika evakuasi besar-besaran tentara AS dan para warga yang hendak melarikan diri dari Afghanistan, Hameed menghabiskan waktu selama bulan Agustus untuk membantu tentara AS mengevakuasi warga.

Hameed sebelumnya merupakan seorang pejabat pemerintah Afghanistan yang bekerja di Kabul sebagai ahli bahasa dan penasehat budaya untuk pejabat militer.

Sementara istrinya mengalami kesulitan saat melahirkan. Tetapi ia tetap mengerahkan kekuatannya agar bisa melarikan diri dari rumahnya saat Taliban mendekati ibu kota. Hameed mengatakan pada 12 Agustus jelas mereka harus pergi dari rumahnya demi keselamatan.

“ Kami mendapat informasi bahwa orang-orang terbunuh, atau hilang yang teridentifikasi berafiliasi dengan militer, saya tahu rumah saya akan menjadi target berikutnya. Itu bukan masalah 'jika', tapi 'kapan'," ungkapnya.

6 dari 8 halaman

Bayi Menangis di Tengah Kerumunan

Ilustrasi© YouTube/azfamily powered by 3TV & CBS5AZ

Pada 19 Agustus, Sadia mengambil dokumen pribadinya, sejumlah uang tunai dan beberapa barang kemudian menuju ke bandara bersama bayinya, Liya, yang saat itu baru berusia 16 hari.

Sadia mengatakan di sebuah pos pemeriksaan, Taliban menyita semua barang miliknya sebelum dia dan bayinya bergabung dalam kekacauan di luar gerbang bandara kecil. Sementara Hameed mengaku dirinya bisa melihat istri dan bayinya dari sisi pagarnya.

“ Mereka menggunakan meriam air dan flashbang untuk mengendalikan massa. Setiap kali ada ledakan, saya bisa melihat bayi saya mulai berteriak dan menangis. Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu," kata Hameed mengingat masa-masa menyedihkan itu.

Bahkan ia juga menyaksikan kelompok Taliban memukuli massa di kerumunan. Ketika massa sudah berhasil melalui gerbang banyak dari mereka mengalami kaki patah dan luka parah lainnya.

“ Aku tahu dia tidak akan pernah berhasil melewatinya. Dia akan dihancurkan sampai mati, Tuhan melarang, atau terluka parah,” kata Hameed.

7 dari 8 halaman

Bayi Dilempar ke Tentara AS

Ilustrasi© YouTube/azfamily powered by 3TV & CBS5AZ

Karena terlampau putus asa, Hameed pun memperlihatkan bayinya ke salah seorang tentara AS. Ia bertanya apakah dia bisa membantunya.

“ Dia mengatakan kepada saya bahwa satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah mengangkatnya melewati kawat berduri, tetapi dia berkata bahwa dia akan terluka,” kenang sang ayah.

“ Saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan mengambil kesempatan itu. Aku lebih suka dia terluka daripada mati,” ucapnya.

Dalam foto yang beredar, tampak seorang tentara berusaha meraih bayi yang diacungkan oleh Hameed. Tentara itu akhirnya berhasil memegangi bayi tersebut dan membawanya ke tempat yang aman.

8 dari 8 halaman

Bayi Diselamatkan Tentara AS

Ilustrasi© YouTube/azfamily powered by 3TV & CBS5AZ

Sementara Sadia, masih berada di sisi lain pagar, pingsan karena kelelahan panas, tetapi berhasil melewati gerbang beberapa jam kemudian. Keluarga itu ditempatkan dalam penerbangan menuju AS dengan pengungsi lain pada hari itu juga.

“ Saya pikir hal itu lebih memprihatinkan saat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ada politisi yang tampil di TV dan mengatakan betapa kerennya perjuangan itu. Namun hal ini benar-benar berbeda di lapangan, saat kamu bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri,” katanya.

Meskipun kini keluarga itu sudah aman, namun mereka tak memiliki identitas apapun. Apalagi Sadia dan Liya juga membutuhkan perawatan medis, namun Hameed tidak mampu membawa mereka ke dokter jika tak memiliki asuransi.

Sang ayah membuat akun GoFundMe untuk membantu keluarganya bangkit saat mereka memulai hidup baru. Dia mengatakan dia berharap suatu hari bertemu dengan tentara yang menyelamatkan buah hatinya.

" Ya Tuhan. Aku akan memeluknya. Dia benar-benar menyelamatkan hidup putri saya," kata Hameed.

Beri Komentar