Doa I’tidal, Syarat-Syarat, dan Posisi Tangan yang Disunahkan saat Melakukannya

Reporter : Widya Resti Oktaviana
Selasa, 22 November 2022 09:48
Doa I’tidal, Syarat-Syarat, dan Posisi Tangan yang Disunahkan saat Melakukannya
I’tidal adalah bagian dari rukun fi’li dalam sholat yang harus dilakukan dengan baik dan benar.

Dream – Setiap muslim yang menjalankan ibadah sholat, baik wajib maupun sunah, tentu tidak boleh meninggalkan rukun sholat. Salah satu rukun sholat yang harus dijalani adalah i’tidal yang dibarengi dengan membaca doa i’tidal. Tahapan I’tidal adalah saat seorang muslim bangun dari posisi ruku dan berdiri sejenak sebelum mulai sujud.

Seperti dikutip melalui islam.nu.or.id, i’tidal adalah berdiri dengan memisahkan antara ruku’ dan sujud. Sedangkan Syekh Nawawi Banten melalui sebuah kitab bernama Kasyifatus Saja menjelaskan i’tidal adalah kembalinya orang yang sholat pada posisi sebelum ia melakukan ruku’, baik kembali di posisi berdiri atau posisi duduk.

I’tidal sebagai salah satu rukun sholat yang tak boleh tertinggal harus dikuasai betul oleh Sahabat Dream. Kamu harus mengetahui cara yang benar melakukan i'tidal dan bagaimana bacaan doa i’tidal itu sendiri.

Nah, berikut adalah penjelasan tentang doa i’tidal, syarat-syaratnya, dan cara melakukannya yang benar sebagaimana telah dirangkum oleh Dream melalui berbagai sumber.

1 dari 4 halaman

Bacaa Doa I’tidal

Bacaa Doa I’tidal© Unsplash.com

Seperti diketahui sebelumnya bahwa i’tidal adalah bagian dari rukun sholat yang harus dikerjakan secara baik dan benar. I’tidal sendiri adalah rukun fi’li atau rukun yang berupa perbuatan dalam menjalankan sholat. Rukun fi’li lainnya selain i’tidal adalah berdiri secara benar, ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan duduk tahiyat akhir.

Saat menjalankan i’tidal ini, maka sahabat Dream pun wajib untuk mengetahui bacaan doa i’tidal yang kamu baca setelah berdiri dari melakukan ruku’. Berikut adalah bacaan doa yang pertama atau disebut juga dengan bacaan tasmi’:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

 Sami'allahu liman hamidah.

Artinya: “ Aku mendengar orang yang memuji-Nya.”

Lalu ada juga bacaan yang keduanya atau disebut juga dengan bacaan tahmid yang bunyinya sebagai berikut:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du. (HR. Muslim dan Abu Awanah).

Artinya: “ Ya Allah Tuhan Kami, Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.”

2 dari 4 halaman

Syarat-syarat saat I’tidal

Sebagai bagian dari rukun sholat, tentunya i’tidal tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Hal tersebut harus dilakukan secara benar dan memerhatikan syarat-syaratnya. Berikut adalah syarat-syarat i’tidal sebagaimana dikutip melalui islam.nu.or.id:

1. Saat bangun dari ruku’ tidak bertujuan untuk hal yang lain selain melakukan i’tidal.

2. Saat melakukan i’tidal, maka harus disertai dengan tuma’ninah. Di mana dengan posisi tubuh yang berdiri tegak dan tetap diam di tempat serta dalam kondisi yang tenang. Setidaknya dalam kondisi tersebut selama membaca kalimat tasbih subhanallah.

3. Saat melakukan i’tidal, maka tidak berdiri dalam waktu yang lama, melebihi lamanya ketika membaca surat Al-Fatihah. Hal ini karena i’tidal sendiri adalah rukun sholat yang tergolong pendek, sehingga tidak diperbolehkan untuk melakukannya dalam waktu yang lama.

3 dari 4 halaman

Posisi Tangan Bersedekap atau Tidak saat I’tidal

Posisi Tangan Bersedekap atau Tidak saat I’tidal© Unsplash.com

Setelah mengetahui bacaan doa i’tidal dan syarat-syarat melakukannya, lalu bagaimana dengan posisi tangan saat sedang melakukan i’tidal? Apakah disunahkan untuk bersedekap atau tidak? Dalam hal ini sebenarnya tidak dijelaskan dalam Al-Quran maupuan hadis tentang bagaimana Rasulullah saw memposisikan tangannya saat i’tidal.

Dikutip melalui islam.nu.or.id yang menjelaskan saat Wail bin Hujr bercerita sebagai berikut:

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ، - وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ - ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ أَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنَ الثَّوْبِ، ثُمَّ رَفَعَهُمَا، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ، فَلَمَّا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمَّا، سَجَدَ سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ 

Artinya: Wâil bin Hujr melihat Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya saat memasuki shalat sembari takbîratul ihrâm. Hammâm memberikan ciri-ciri, posisi tangan Rasulullah (saat mengangkat kedua tangannya) adalah sejajar dengan kedua telinganya. Kemudian Rasulullah saw memasukkan tangan ke dalam pakaiannya, menaruh tangan kanan di atas tangan kiri. Saat Rasulullah akan ruku’, ia mengeluarkan kedua tangannya dari pakaian lalu mengangkatnya, bertakbir sembari ruku’. Pada waktu ia mengucapkan sami‘llâhu liman hamidah, Rasul mengangkat kedua tangannya. Saat sujud, ia sujud dengan kedua telapak tangannya.” (HR Muslim: 401).

Melalui hadis tersebut tidak dijelaskan tentang posisi tangan Rasulullah saw saat sedang i’tidal. Tapi hanya dijelaskan posisi tangannya saat sedang berdiri. Nah, oleh karena itu ada penjelasan lebih lanjut lagi dalam Nihayatul Muhtaj oleh Imam Ramli sebagai berikut:

وَقَوْلُهُ بَعْدَ التَّكْبِيرِ تَحْتَ صَدْرِهِ: أَيْ فِي جَمْعِ الْقِيَامِ إلَى الرُّكُوعِ خَرَجَ بِهِ زَمَنُ الِاعْتِدَالِ فَلَا يَجْعَلُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ بَلْ يُرْسِلُهُمَا سَوَاءٌ كَانَ فِي ذِكْرِ الِاعْتِدَالِ أَوْ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ الْقُنُوتِ

Artinya: Menaruh kedua tangan di bawah dada, maksudnya kegiatan tersebut dilaksanakan pada semua posisi berdirinya orang shalat sampai ia akan ruku’. (Jika akan ruku’ maka dilepas). Teks tersebut tidak berlaku pada saat berdiri i'tidal. Pada waktu i'tidal, janganlah menaruh kedua tangannya di bawah dadanya, namun lepaskan keduanya. Baik saat membaca dzikirnya i'tidal, atau bahkan setelah selesai qunut.”

Dijelaskan bahwa saat melakukan i’tidal maka disunahkan untuk melepaskan tangan dan tidak melakukan sedekap. Jadi setelah melakukan ruku’, dan mengangkat kedua tangan sejajar di telinga, lalu melepaskan kedua tangannya.

Pendapat yang sama pun datang dari Syekh Al-Bakri yang dijelaskan dalam sebuah kitab bernama I’anatut Thalibin sebagai berikut:

وَالْأَكْمَلُ أَنْ يَكُوْنَ ابْتِدَاءُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ مَعَ ابْتِدَاءِ رَفْعِ رَأْسِهِ، وَيَسْتَمِرُّ إِلَى انْتِهَائِهِ ثُمَّ يُرْسِلُهُمَا.

 Artinya: Yang paling sempurna adalah saat mengangkat kedua tangan itu dimulai berbarengan dengan mengangkat kepala. Hal tersebut berjalan terus diangkat sampai orang selesai berdiri pada posisi sempurna. Setelah itu kemudian kedua tangan dilepaskan.”

4 dari 4 halaman

Fikih I’tidal dalam Sholat

Melakukan i’tidal dalam sholat tidaklah bisa dilakukan secara sembarangan. Tetapi Islam sendiri sudah mengaturnya dalam fikih. Berikut adalah beberapa fikih i’tidal dalam sholat yang perlu sahabat Dream perhatikan seperti dikutip dari muslim.or.id:

Wajib Tuma’ninah sampai Punggung Lurus

Saat melakukan i’tidal, yakni gerakan mengangkat badan setelah rukuk sampai berdiri kembali dengan posisi punggung yang lurus. Hal ini pun dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari berikut:

Ketika Nabi saw mengangkat kepalanya (dari rukuk) untuk berdiri hingga setiap ruas tulang punggung berada di posisinya semula.” (HR. Bukhari)

Mengangkat Tangan saat Bangun dari Rukuk

Selain tuma’ninah sampai punggung lurus, selanjutnya juga disyariatkan untuk mengangkat tangan. Syariat ini pun dijelaskan dalam beberapa hadis. Seperti halnya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari berikut:

Nabi saw biasanya ketika memulai sholat, ketika takbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepala setelah rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya setinggi pundaknya.” (HR. Bukhari)

Selain itu juga ada hadis dari Malik bin Huwairits ra berikut:

Nabi saw ketika sholat beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Ketika hendak rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya. Dan ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengangkat kedua tangannya.” (HR. Al-Bukhari)

Meski begitu, perihal mengangkat tangan ini tidaklah diwajibkan. Karena ada dari sahabat Nabi yang tidak melakukannya. Salah satunya adalah Ibnu Umar ra yang diriwayatkan dalam hadis berikut:

Aku pernah sholat bermakmum pada Ibnu Umar ra, ia tidak pernah mengangkat kedua tangannya kecuali pada takbir yang pertama dalam sholat (takbiratul ihram).” (HR. Ath Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar, 1357, dengan sanad yang shahih)

Membaca Tasmi’ saat Bangun dari Rukuk

Selain itu juga ada bacaan tasmi’, yakni melafalkan “ sami’allahu liman hamidah” yang artinya “ Allah mendengar orang yang memuhi-Nya”. Kemudian membaca tahmid, yakni melafalkan “ rabbana walakal hamdu” yang artinya “ Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu”.

Hal ini dijelaskan dalam hadis berikut:

Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika ia bertakbir maka bertakbirlah. Jika ia sujud maka sujudlah. Jika ia bangun (dari rukuk atau sujud) maka bangunlah. Jika ia mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Maka ucapkanlah: rabbana walakal hamdu. Jika ia sholat duduk maka sholatlah kalian sambil duduk semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah penjelasan tentang bacaan doa i’tidal, syarat-syarat apa saja yang harus dilakukan saat i’tidal dan posisi tangan saat i’tidal. Dengan demikian, saat melakukan i’tidal dan melepas kedua tangan hukumnya adalah sunah. Meskipun ada yang bersedekap, maka hal tersebut bukan berarti bisa membatalkan sholatnya. Wallahu a’lam.

Beri Komentar