Martha Putri Saat Bekerja Sebagai Pramugari Garuda (Liputan6)
Dream – Gedung Garuda Sentra Operasi, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, tanggal 27 Maret 2020. Gedung yang luas itu merupakan pusat koordinasi kegiatan operasi penerbangan Garuda Indonesia sehari-hari. Saat itu, Martha Putri, 27 tahun, yang sehari-hari bekerja sebagai pramugari Garuda, datang ke kantor itu dengan perasaan yang tidak enak.
Pada bulan itu Covid-19 sudah menyerbu Indonesia. Angka penularannya juga cukup tinggi, Mengutip data yang dilansir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, ada tambahan 153 kasus baru pada hari itu. Dengan demikian, total jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia meningkat dari 893 menjadi 1.046 pasien per 27 Maret 2020.
Peningkatan juga terjadi pada data kematian akibat pasien Covid-19 yang bertambah sembilan jiwa pada hari itu. Penambahan itu membuat angka kematian pasien Covid-19 di Indonesia menjadi 87 jiwa. Angka kematian pasien Covid-19 di Indonesia merupakan angka kematian tertinggi di Asia Tenggara, jauh melampaui negara-negara tetangga.
Saat datang ke gedung Garuda Sentra Operasi, Martha Putri tak sendiri. Ia datang bersama 23 rekan seangkatannya, sesama pramugari Garuda. Hari itu mereka dipanggil manajemen Garuda untuk datang menghadiri rapat penting di sebuah ruangan rapat.
Saat pertemuan digelar, di situlah manajemen Garuda Indonesia menjatuhkan vonis pahit. Martha Putri dan 23 rekannya mendapat pemutusan hubungan kerja atau PHK. Kontrak Martha Putri selama tiga tahun sejak tahun 2017, diumumkan tidak akan diperpanjang. Demikian juga kontrak kerja 23 rekannya.
“ Brifieng itu lamanya cuma 30 menit. Saya hanya menunduk. Kami semua yang hadir di ruangan semuanya menangis,” cerita Martha Putri ke Dream.co.id yang menghubunginya pekan lalu.
Karena, kata Martha, pada saat itu sudah ada pramugari yang mulai mencicil rumah. Ada juga sudah berencana mau menikah. Dan semuanya jadi berantakan gara-gara kontrak kerja mereka tidak diperpanjang.
“ Padahal kalau tidak ada pandemi kemungkinan saya diangkat jadi karyawan tetap Garuda. Kontrak saya akan berakhir April 2020, dan poin kinerja saya juga bagus,” ujarnya.
Martha mengaku sedikit beruntung karena di-PHK gara-gara kontraknya habis dan tidak diperpanjang. Dia bercerita, ada pramugari yunior yang masa kontraknya masih lama, tapi kemudian di-PHK.
Pada saat dipecat, gaji Martha Putri sudah dua digit. Ia bisa menerima gaji Rp 15 juta-Rp 20 juta sebulan, tergantung jam terbang. Martha biasa melayani berbagai penerbangan. Dari penerbangan domestik sampai penerbangan internasional seperti ke Singapura dan Hong Kong.
“ Sebetulnya saat itu sudah ada feeling (dipecat). Tetap saja saat diberitahu saya jadi menangis,” kata Martha.
Acara tangis-tangisan antar sesama pramugari Garuda yang dipecat itu masih berlanjut setelah pertemuan usai.
Ketika mereka ke kantin, mereka masih menangis. Mereka saling memeluk satu sama lain seraya berurai air mata.
***
Martha Putri lahir di Bogor, 4 Juli 1993. Kini usianya sudah 29 tahun. Ia menghabiskan pendidikan SD sampai SMA di dekat rumah orang tuanya di daerah Cibinong, Bogor.
Setelah tamat SMA, dia sempat kuliah. Tapi tidak selesai. Itu terjadi karena pada tahun 2014, dia diminta mengantarkan seorang temannya yang melamar pekerjaan sebagai pramugari di maskapai Batik Air.
Pada saat itu, Martha iseng ikut melamar. Ternyata, temannya tidak diterima, dan dia yang malah diterima. Sejak tahun itu pula dia resmi menjadi pramugari.
Setelah bekerja selama tiga tahun di Batik Air, pada tahun 2017, Martha mencoba melamar sebagai pramugari di Garuda Indonesia yang saat itu tengah membuka lowongan. Dia akhirnya diterima. Maka dia pun hijrah kerja ke Garuda Indonesia.
Pada bulan April 2017, saat dia mulai bekerja sebagai pramugari Garuda Indonesia, dia mendapat kontrak kerja selama dua tahun. Setelah kontrak itu habis, April 2019, kontrak kerjanya diperpanjang setahun lagi dan akan berakhir bulan April 2020.
Martha sendiri berharap setelah kontrak kerjanya berakhir di April 2020, dia akan diangkat jadi karyawan tetap Garuda Indonesia. Ia sendiri merasa optimistis. Kinerjanya bagus. Dia berharap hal itu akan memuluskan jalan dia menjadi karyawan tetap Garuda.
Namun, harapan tinggal harapan. Mendadak saja di tahun itu pandemi menerjang dunia. Tak terkecuali Indonesia.
Akhirnya, alih-alih diangkat jadi karyawan tetap, kontrak kerjanya malah tidak diperpanjang. Ia mengalami pemutusan hubungan kerja setelah kontraknya berakhir.
***
Setelah di-PHK, selama tiga bulan Martha masih sulit menerima kenyataan pahit itu. “ Saya benar-benar down,” katanya.
Wajar jika Martha terpuruk. Sebab sedikit lagi dia bisa menjadi karyawan tetap.
“ Tiga bulan saya terpuruk. Cuma diam di kos-kosan dan tidak melakukan apa-apa. Saya hanya bangun tidur, makan, lalu lihat-lihat Tiktok dan Instagram,” ujarnya.
Ia praktis tidak melakukan apa-apa selama tiga bulan itu. Hanya bermalas-malasan di tempat kosnya di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat.
Martha mulai bangkit setelah seorang kawannya sesama pramugari yang dipecat yang tinggal di Bali, mengajak dia membuka bisnis di Bali. “ Modalnya patungan. Buka usaha tahu crispy,” ujarnya.
Inilah bisnis pertama yang dia geluti. Martha memutuskan ikut serta. Ia bahkan terbang ke Bali dan ikut pembukaan gerai tahu crispy itu. Itu terjadi pada bulan Agustus 2020.
Martha perlahan mulai bangun dari keterpurukan. Ia lalu mulai berpikir keras untuk membuka usaha lain. Sebab, usaha tahu crispy ada di Bali dan dijalankan temannya, sedangkan dia berada di Jakarta.
Dari situ dia mulai berpikir untuk membuka usaha sate taichan, sate kesukaan anak-anak muda sekarang. Soalnya sebelum dia bekerja jadi pramugari Garuda, dia sudah pernah buka usaha sate taichan di Cibinong. Kesibukannya terbang yang membuatnya menutup usaha sate taichan itu.
Motivasinya membuka sate taichan kembali membara saat adik laki-lakinya di bulan Oktober 2020, mengundurkan diri dari kantornya karena kondisi kantor adiknya juga memburuk karena pandemi.
Akhirnya dia mengajak adiknya membuka kembali usaha sate taichan. Ia mempromosikan usahanya melalui akun TikToknya di @marthaputri04.
Video berjudul " Dulu, pulang kerja vs sekarang pulang kerja," dalam unggahannya di TikTok pada 2 November 2020 itu ternyata meledak dan viral. Video yang diiringi lagu 'Kamu dan Kenangan' dari Maudy Ayunda ini mendapat banyak komentar.
Ternyata videonya tentang perubahan kerja dari pramugari jadi penjual sate taichan, benar-benar viral di media sosial. Video itu dilihat lebih dari 1,4 juta kali dan mendapat 213 ribu likes. Video itu juga dibanjiri komentar dari netizen. Banyak dari mereka yang memberi semangat kepada Martha. Pengikutnya di Tiktok @marthaputri04 kian bertambah. Dan sekarang pengikutnya di Tiktok sudah mencapai 147 ribu orang.

Apakah usaha Martha langsung sukses? Tidak juga. Masalah yang mendasar dari sate taichan Martha adalah karena lokasinya yang tidak strategis.
Lokasi sate taichan itu ada sebelum perhentian lampu lalu lintas. “ Jadi banyak orang yang kelewatan. Tak hanya itu, wartawan yang mau berkunjung saat saya viral juga banyak yang kelewatan,” aku Martha, jujur.
Akhirnya karena sepi gara-gara lokasi yang buruk, usaha itu tutup sebelum Lebaran 2021.
Sesudah Lebaran 2021, Martha sebetulnya sudah dapat tempat baru untuk lokasi baru sate taichan. Ia sudah membayar uang muka untuk sewa satu bulan. Tetapi ternyata ada orang lain yang mau menyewa lokasi itu, dan langsung membayar kontrak selama setahun. Akhirnya Martha tersingkir dan uang mukanya dikembalikan.
Sejak saat itu, sate taichan Martha tutup karena kesulitan mendapat lokasi bagus untuk berdagang.
Menurut Martha, dia mencari lokasi sate taichan di pinggir jalan di dekat rumah. Karena ini menyangkut perlengkapan masak, bahan dan mobilitas karyawan.
Rumah orangtuanya ada di perumahan Nirwana Estate, Cibinong, Bogor. Ia mau membuka usaha sate taichan di ruko di pinggir jalan. Ia mengaku sanggup menyewa ruko yang harganya Rp 2 juta sebulan.
Daerah incarannya ada di area Cikaret, Cibinong, karena kawasan itu ramai. Masalahnya di sana sudah tidak ada tempat lagi. Sudah penuh. Kalau buka tempat jauh, akan susah membawa peralatan dan mobilitasnya.
“ Jadi, kalau ada yang bersedia menyewakan tempat di wilayah itu dengan harga murah, saya akan kembali membuka sate taichan,” katanya.
Akhirnya setelah sate taichan tutup karena kesulitan mendapatkan lokasi dagang, terpaksa Martha banting setir kembali.
Ia pun mulai menjual baju dan aneka plastik secara online. Ia menggunakan akun pribadinya TikTok di @marthaputri04 atau akun pribadi di Instagram-nya di @marthaputrichristanty, sebagai sarana penjualan online.
Yang jelas, dia tak merasa malu untuk berusaha apa pun. Selama yang dijualnya itu mendapatkan hasil halal.
Bahkan, setiap hari Minggu pagi, Martha juga menemani ibunya untuk berjualan tas seharga Rp 150.000-Rp 200.000 saat car free day di Taman Heulang, Bogor.

Lokasi Taman Heulang ini berada di Jalan Heulang, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Taman ini berada di tengah-tengah permukiman elit di Kecamatan Tanah Sareal. Tepatnya di sebelah SMK Negeri 1 Bogor atau berada di belakang SMP Negeri 5 Bogor. Tak jauh pula dari Mal Plaza Jambu Dua.
Di situ, tiap hari Minggu, Martha dan ibunya berjualan tas setiap car free day. Mulai jam 6 pagi sampai 12 siang. Martha dan ibunya berjualan memakai mobil. Mereka menggunakan mobil Wuling warna hitam sebagai tempat penyimpanan, sekaligus tempat peraga.
Karena memakai mobil, saat hujan turun, Martha dan ibunya tinggal berteduh di dalam mobil. Tidak kehujanan. Dari situ, ibunya dan Martha bisa mendapat tambahan penghasilan.
Menurut Martha, pandemi Covid-19 memiliki banyak hikmah buat dirinya sebagai pribadi. “ Pandemi ini memang membuat otak selalu berputar. Usaha apa lagi, usaha apa lagi. Kita usaha apa pun. Yang penting ada pendapatan,” ungkapnya.
Meski kini sibuk berbisnis, mulai dari sate, baju dan tas, di lubuk hatinya yang dalam Martha masih merindukan terbang sebagai pramugari.
Itulah juga mengapa dia tetap mengikuti grup di WhatsApp yang berisi eks pramugari. Karena dari sana kerap ada informasi lowongan kerja sebagai pramugari.
Tapi kini ada kendala kecil dalam memilih pekerjaan ini. Ada persyaratan yang tidak bisa dia lakoni, yaitu larangan untuk tidak menikah selama dua tahun pertama kerja. Kalau bertemu lowongan seperti ini, biasanya Martha akan melewatkan. Sebab, usianya kini sudah 29 tahun. Masih berapa lama lagi dia akan menunda menikah?
“ Tapi yang paling menyedihkan saat tidak jadi pramugari, saya tidak lagi bisa membantu orang tua,” kata Martha, dilema.
Martha adalah anak tertua dari tiga saudara. Dia anak perempuan satu-satunya. Dua adiknya laki-laki semua.
Ia menceritakan, saat menjadi pramugari Garuda gajinya sudah cukup lumayan. Maka dia menggunakan sebagian gaji itu untuk membantu orang tuanya.
Sekarang, saat dia tak lagi jadi pramugari, dia tidak bisa lagi membantu orang tua. Ini yang sedikit membuat perih hati Martha.
Yang menarik, Martha Putri bukanlah sosok wanita cengeng yang mudah menyerah. Dihantam pandemi, dia tetap tegar berdiri kokoh. Mencoba berbagai macam usaha. Selama halal dan menghasilkan. Dan, karenanya, suatu saat dia pasti akan berhasil. Pasti. (eha)