Jokowi Meminta Santri Pondok Pesantren Shiddiqiyyah dapat Trauma Healing

Reporter : Okti Nur Alifia
Rabu, 13 Juli 2022 14:00
Jokowi Meminta Santri Pondok Pesantren Shiddiqiyyah dapat Trauma Healing
Jokowi meminta para santri untuk mendapatkan pemulihan dari trauma atau trauma healing.

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta lembaga pendidikan terus melakukan pembinaan untuk mencegah terulangnya kasus pelecehan seksual. Salah satunya kasus yang terjadi di Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, Jombang, Jawa Timur.

Seorang santriwati dari pesantren tersebut mengalami pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh Moch Subchi Azal Tsani alias MSAT (42), anak sang pengasuh pondok pesantren, Kiai Muchtar Mu'thi.

" Ya tadi beliau beri arahan supaya itu terus diadakan pembinaan kepada lembaga-lembaga pendidikan," kata Menteri Agama Ad Interim, Muhadjir Effendy, usai bertemu Jokowi di Istana Negara, dikutip dari Merdeka.com, Rabu 13 Juli 2022.

Muhadjir menyampaikan pesan Jokowi bahwa para santri diminta untuk mendapatkan pemulihan trauma atau trauma healing. Harapannya, kasus pelecehan seksual tidak terulang kembali.

" Termasuk yang sekarang sudah terjadi itu, harus ada semacam mitigasi atau trauma healing untuk para santrinya dan kemudian jangan sampai tadi itu sama seperti yang anda maksudkan, meminta supaya ada perhatian pada lembaga-lembaga pendidikan, termasuk di dalamnya juga pesantren, agar hal itu tidak terjadi lagi," tuturnya.

1 dari 4 halaman

Izin operasional Pondok Pesantren Shiddiqiyyah juga telah batal dicabut berdasarkan arahan Jokowi. Alasannya, Jokowi ingin para santri lain tetap bisa belajar dengan tenang.

" Karena itu atas arahan Pak Presiden, dan ini kan menarik perhatian langsung Pak Presiden, dan sesuai dengan arahan beliau supaya dibatalkan. Untuk apa, agar orang tua yang punya santri di situ juga tenang lah, dan memiliki anak-anaknya," tuturnya.

Muhadjir menambahkan, putra putri yang masih berada di Pondok Pesantren tidak perlu dipindah karena mereka punya status yang jelas sebagai santri di situ.

" Putra-putranya punya status yang jelas sebagai santri di situ, tidak akan perlu pindah, dan kemudian para santri yang ada di situ, juga bisa kembali dan belajar dengan tenang," pungkasnya.

 

2 dari 4 halaman

Alasan Kemenag Batal Cabut Izin Operasional Pesantren Shiddiqiyyah

Dream - Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, Jombang, Jawa Timur, kembali bisa beraktivitas seperti biasa setelah Kementerian Agama (Kemenag) membatalkan pencabutan izin operasional.

Kemenag sebelumnya membekukan izin operasionalnya karena kasus pencabulan terhadap santriwati oleh Moch Subchi Azal Tsani (MSAT), anak pengasuh pondok pesantren tersebut

" Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah yang berada di Jombang, Jawa Timur, dapat beraktivitas kembali seperti sedia kala," kata Menteri Agama Ad Interim, Muhadjir Effendy, Senin 11 Juli 2022.

Muhadjir sudah memerintahkan Sekjen Kementerian Agama untuk membatalkan rencana izin operasionalnya.

" Saya sudah meminta pak Aqil Irham, PLH Sekjen Kemenag, untuk membatalkan rencana pencabutan izin operasionalnya," ucapnya.

3 dari 4 halaman

Alasan Batal Cabut Izin

Muhadjir juga menyampaikan kini para orangtua santri tidak perlu khawatir terkait nasib anak-anaknya di pesantren. Mereka bisa kembali belajar dengan tenang.

" Dengan demikian para orang tua santri mendapat kepastian status putra-putrinya yang sedang belajar di ponpes tersebut. Begitu juga para santri bisa belajar dengan tenang," terang Muhadjir.

Muhadjir menerangkan, kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh Moch Subchi Azal Tsani alias Mas Bechi tidak ada hubungannya dengan pondok pesantren.

“ Dalam kasus yang terjadi tidak melibatkan lembaga Ponpesnya, tetapi oknum. Dan oknumnya kan sudah menyerahkan diri,” ujarnya.

4 dari 4 halaman

Pihak yang turut menghalangi penindakan terhadap Mas Bechi juga telah diamankan. Sehingga pondok pesantren dapat beroperasi kembali.

“ Begitu juga mereka yang telah menghalang-halangi petugas. Sedang di Ponpes itu ada ribuan santri yang perlu dijamin kelangsungan belajarnya,” jelasnya.

Muhadjir berharap keputusan tersebut dapat dipahami dan diterima masyarakat.

“ Saya berharap masyarakat dapat memahami keputusan tersebut,” tutup Muhadjir.

Sumber: Merdeka.com

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More