Medsos (4): Keajaiban Media Sosial Bantu Mbah To Pulang

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 18 Mei 2015 20:33
Medsos (4): Keajaiban Media Sosial Bantu Mbah To Pulang
Kakek pemulung itu ingin pulang ke kampungnya di Madiun. Tapi ia tak punya uang. Efek positif media sosial membuat keinginannya terwujud.

Dream – Wajah keriputnya terlihat kusut. Badannya kurus kering. Rambut di  kepalanya sudah menipis. Rambutnya yang sudah sepenuhnya dipenuhi uban, ditutupi caping sebagai pelindung dari teriknya matahari.

Setiap hari, ia mengayuh sepeda berkeliling untuk mencari barang bekas. Saat menemukan barang bekas, ia letakkan barang itu di keranjang yang sudah siap di bagian belakang sepedanya.

Dialah Wagiso, yang lebih akrab dipanggil dengan sapaan Mbah To. Pria ini memang seorang pemulung. Ia pun tidak berhenti memulung meski usianya sudah tidak lagi muda, sekitar 85 tahun.

Mbah To berasal dari desa di kawasan Magetan, Jawa Timur. Ia terbiasa memulung di kawasan Magetan dan Madiun, dengan terus mengendarai sepedanya.

Tetapi, makin lama dia merasa memulung di daerah tempat tinggalnya tidak lagi mudah. Ditangkap petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) selalu menjadi ancaman bagi Mbah To.

Keadaan semakin sulit ketika sang istri tengah sakit. Kondisi itu membuat Mbah To lebih giat mencari uang, namun hal itu mungkin tidak tercapai jika tetap berada di Madiun.

Alhasil, Mbah To berinisiatif pergi ke Yogyakarta. Untuk bisa sampai ke Kota Gudeg itu, Mbah To menumpang truk. Sesampai di sana, Mbah To kemudian menjalankan aktivitasnya, mengumpulkan barang bekas dan menjualnya ke beberapa pengepul di sana.

Mbah To tidak punya siapa-siapa di Yogyakarta. Dia juga tidak punya tempat tinggal. Alhasil, Mbah To tidur di mana saja, termasuk di emperan toko maupun di trotoar jalan.

Suatu hari, fisik Mbah To sedang dalam kondisi lemah. Ia memutuskan berhenti mengayuh sepedanya dan menepi di pinggir jalan. Dia letakkan sepedanya tersandar di bahu jalan, lalu Mbah To duduk bersandar.

Matanya berat, dan kepalanya buram. Tenaganya hilang, sehingga dia tidak bisa lagi mengayuh sepeda di hari itu. Di kota Yogya yang sibuk, tidak ada satupun yang memperhatikan kondisi Mbah To.

Kisah Mbah To mungkin dianggap hanya akan menjadi cerita biasa. Tidak ada orang yang mau memberi perhatian pada sulitnya keadaan dihadapi Mbah To. Sampai suatu ketika, Mbah To bertemu dengan seseorang.

***

“ Waktu itu saya masih baru...

1 dari 3 halaman

Kisah Mbah To Tercium Media

Kisah Mbah To Tercium Media © Dream

" Waktu itu saya masih baru menjadi wartawan,” ujar Fadila Adelin. Fadila merupakan jurnalis muda yang bekerja di media lokal, Brilio.net. Dia berhasil merekam kondisi Mbah To dalam tulisannya yang diunggah di media tersebut.

Kepada Dream.co.id, Fadila mengaku sebelumnya sama sekali tidak punya niat menulis tentang sosok Mbah To. Secara kebetulan, dia bertemu dengan Mbah To tatkala melintas di Jalan Kemuning, jalan yang melintang di dekat Stadion Mandala Krida, Yogyakarta.

“ Saat itu saya mau berangkat kerja. Saya sedang melintas di sekitar Stadion Mandala Krida. Saya lihat Mbah To lagi mendorong sepeda. Dia lalu meletakkan sepedanya dan duduk di trotoar. Saya dekati dan coba saya tanya,” kata Fadila.

“ Saya tanya jualan apa. Dia bilang tidak jualan, rupanya pemulung. Sudah tiga bulan berada di Yogya,” terang dia.

Fadila berusaha menggali kisah Mbah To. Kepada Fadila, Mbah To mengaku punya keinginan untuk pulang. Tetapi, hal itu sulit terwujud lantaran Mbah To tidak memiliki uang sama sekali. Artinya, dia praktis terjebak di Yogya.

Perbincangan antara mereka itu terjadi dalam waktu sekitar setengah jam. Fadila lalu membuat tulisan tentang hasil perbincangannya dengan Mbah To. Tulisan itu naik di Brilio.net pada medio Maret 2015.

Beberapa hari berlalu usai Fadila menulis kisah itu. Dia sama sekali tidak menduga tulisannya ternyata begitu ramai menjadi perbincangan di media sosial facebook.com. 

Rupanya, ada beberapa akun komunitas yang mengunggah berita tersebut. Postingan tersebut menuai komentar yang tidak sedikit. Sebagian dari pemberi komentar bahkan sempat bertanya di mana keberadaan Mbah To. Mereka ingin membantu meringankan beban Mbah To. Juga membantunya pulang ke Madiun.

Fadila pun tidak luput dari membanjirnya komentar itu. Akun media sosial miliknya dipenuhi banyak komentar yang bertanya mengenai Mbah To..

“ Pertama kali yang menyebar itu di akun Info Cegatan Jogja, kemudian Paguyuban Madiun (Paguma). Banyak yang komentar,” kata dia.

Beberapa dari mereka pun sampai menghubungi Fadila melalui ponselnya. Mereka bertanya di mana bisa menemukan Mbah To untuk memberi bantuan.

“ Ada dua orang yang telepon saya. Ada yang dari Yogya, ada yang dari Madiun. Mereka tanya di mana Mbah To bisa ditemui. Katanya mau membantu Mbah To, juga mau membantu memulangkan Mbah To,” terang Fadila.

Tetapi, keberadaan Mbah To ternyata sulit dilacak. Fadila mengaku hanya bertemu sekali dengan Mbah To. Kisah itu hampir saja menguap, jika seorang Elvi Mayasari, tak gigih menyebar artikel mengenai Mbah To.

***

" Saya tahu kisah Mbah To...

2 dari 3 halaman

Kekuatan Media Sosial

Kekuatan Media Sosial © Dream

“ Saya tahu kisah Mbah To setelah baca artikel Brilio.net. Saya begitu tersentuh, apalagi sebagai sesama warga Madiun,” ujar Elvi Mayasari.

Elvi merupakan warga Madiun yang aktif di beberapa komunitas sosial, antara lain Wong Madiun dan Paguyuban Madiun (Paguma). Dua komunitas ini memiliki akun media sosial facebook dan Elvi bertindak sebagai pengelola akun tersebut.

Elvi kemudian menyebarkan artikel mengenai Mbah To ke para anggota komunitas itu. Hal itu mendapat tanggapan dari para anggota komunitas dan mereka akhirnya sepakat untuk mencari keberadaan Mbah To.

“ Di Paguma banyak yang bersimpati. Saya cari informasi keberadaan Mbah To, cari nomor telepon yang bisa dihubungi,” terang dia.

Tetapi, upaya itu tidak juga membuahkan hasil. Mbah To begitu sulit dilacak. Elvi pun terus mencoba pelbagai cara, salah satunya memasifkan penyebaran artikel di media sosial. Hingga beberapa anggota Paguma yang berdomisili di Yogyakarta memutuskan untuk tergerak mencari Mbah To.

Dilalah (kebetulan), salah satu anggota Paguma, Mas Lukman melihat Mbah To sedang duduk-duduk di bawah pohon. Mas Lukman kemudian menelepon Mas Bima, memberi tahu kalau Mbah To sudah ditemukan,” terang dia.

Menurut Elvi, Bima menyarankan Lukman menampung Mbah To di kamar kos miliknya. Tetapi, Lukman tidak berkenan lantaran akan dipersulit oleh pemilik kos. 

“ Akhirnya Mas Lukman menghubungi komunitas Sedekah Rombongan. Mendapat informasi itu, anggota Sedekah Rombongan sangat antusias membantu. Mbah To langsung dijemput, kemudian dibawa ke basecamp,” ungkap dia.

Sehari setelah dijemput, terang Elvi, Mbah To langsung diantar pulang ke Magetan, Madiun. Elvi kemudian dihubungi serta diminta untuk menjemput di rumah Mbah To. 

“ Mbah To diantar pakai mobil. Saya dihubungi, akhirnya kita ketemu di rumah Mbah To. Saya yang lebih dulu sampai, dan sempat bertemu dengan Mbah Putri (istri Mbah To),” ungkap Elvi.

***

Berkat keajaiban media sosial...

3 dari 3 halaman

Tentram di Rumah Sendiri

Tentram di Rumah Sendiri © Dream

Berkat keajaiban media sosial, Mbah To kini telah berkumpul dengan keluarganya. Sebenarnya, kakek ini memiliki dua orang anak, tetapi mereka kini tidak berada di rumah Mbah To.


“ Mereka transmigrasi ke Lampung, sudah tiga tahun tidak pulang katanya,” kata Elvi.

Saat ini, Mbah To tidak lagi menjadi pemulung. Ia bersama istrinya membuka usaha warung kopi. Warung ini didirikan atas inisiatif Elvi bersama para anggota Paguma.

“ Waktu itu, kita kepikiran kalau diberi uang tunai, takutnya kalau uangnya habis dia balik lagi jadi pemulung,” terang Elvi.

Elvi mengatakan, inisiatif mendirikan warung tersebut muncul jauh hari sebelum kepulangan Mbah To. Ini didasarkan pada kondisi Mbah To yang sangat kekurangan. Selain itu usianya juga sudah amat sepuh.

“ Kita memang menyarankan agar Mbah To tidak lagi memulung. Alhamdulillah, warungnya ternyata jalan,” ucapnya.

Warung itu ternyata cukup laris. Banyak warga sekitar yang meluangkan waktu menikmati sajian sederhana yang dijual Mbah To. Kini, Mbah To bisa menyandarkan pendapatannya dari hasil jualan di warung kopi miliknya itu di RT 01 Dukuh Karangrejo, Desa Gorang Gareng, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan, Madiun, Jawa Timur.

Kisah Mbah To membuktikan begitu kuatnya jiwa sosial masyarakat. Melalui media sosial, solidaritas masyarakat dapat seketika bergerak atas dasar kemanusiaan.

Tanpa solidaritas yang tumbuh berkat keajaiban media sosial, Mbah To mungkin masih terperangkap di Yogya. Tanpa tahu kapan bisa pulang kampung. (eh)  

Beri Komentar