Yusra Mardini, Pengungsi Suriah Yang Menjadi Menjadi Anggota Tim Renang Olimpiade (Toronto Star)
Dream – Damaskus, Suriah, Agustus 2015. Di sebuah kolam renang tertutup, tengah dilangsungkan lomba renang. Salah satu perenang Yusra Mardini, 17 tahun, nampak bersiap di garis lintasan.
Sang pelatih, ayahnya sendiri, Ezzat, nampak berdiri di pinggir lapangan untuk memberi arahan. Kakaknya yang juga perenang, Sara Mardini, hari itu tak ikut berlomba. Tapi dia juga ikut menyemangati adiknya yang berlomba.
Tumbuh di Darayya, pinggiran kota Damaskus, Mardini berlatih renang dengan dukungan dari Komite Olimpiade Suriah. Pada tahun 2012, ia mewakili Suriah di Kejuaraan Renang Dunia FINA 2012 (25 meter). medley perorangan 200 meter, gaya bebas 200 meter, dan gaya bebas 400 meter.
Di rumahnya di Daraya, pinggiran kota Damaskus yang pernah terkenal dengan produksi furniturnya, keluarga Muslimnya menjalani kehidupan yang nyaman.
Ibunya, Mervat, adalah seorang fisioterapis, dan ayahnya, Ezzat, adalah seorang pelatih renang yang akan membawa anak-anaknya ke kolam renang pada hari Sabtu. Kakak perempuannya, Sara, mulai berkompetisi renang, dan Yusra mengikutinya. Dia juga memiliki seorang adik perempuan, Shahed, sekarang berusia delapan tahun.
Rumah Mardini di Daraya hancur dalam Perang Saudara Suriah. Beberapa hari sebelum lomba, saat rumah sementara mereka di Dasmaskus mengalami mati lampu, Sara sudah meminta ayahnya untuk mengizinkan agar ia dan Yusra diizinkan pergi ke Eropa. Mereka ingin ke Jerman seperti teman mereka yang kabur ke negeri itu akibat perang saudara di Suriah.

(Perang Suriah menyebabkan kota-kota hancur/Bloomberg)
Setelah mereka tiba di Jerman, Sara merencanakan akan mengajukan reunifikasi keluarga. Sehingga ayah, ibu dan adiknya yang terkecil Shared bisa pindah ke Jerman dan menetap di sana.
Namun ayahnya menolak mentah-mentah ususl itu. “ Kamu mau jadi pengungsi?,” sergah ayahnya. Perdebatan di meja makan saat mati lampu itu pun usai.
Kembali ke perlombaan renang, wasit akhirnya meniupkan peluit tanda lomba dimulai. Yusra segera terjun ke air dan memimpin lomba. Namun di tengah lomba, mendadak sebuah mortir jatuh di samping gedung kolam renang, dekat Effrat, ayah Yusra.

(Yusra Mardini saat berenang/Olympics)
Namun itu bukan bom terakhir. Sebuah mortir juga menembus atap stadion kolam renang tertutup itu. Dan salah satu bom itu jatuh ke dalam kolam di depan Yusra yang tengah berlomba. Yusra terkejut dan panik. Bom mortir itu terlihat mengapung-apung sebentar di dalam air, sebelum akhirnya turun tanpa meledak.
Inilah salah satu adegan paling dramatis dalam film “ The Swimmer”, yang mengisahkan kisah nyata Yusra Mardini yang tayang di Netflix bulan November 2022.
Ayahnya langsung melompat ke dalam kolam renang. Begitu juga Sara. Untunglah bom itu tidak meledak saat menyentuh dasar kolam. Bila meledak, sudah bisa dipastikan Yusra akan tewas dengan tubuh tercabik-cabik.
Kejadian yang mengancam nyawa Yusra membuat ayahnya berubah sikap. Ia akhirnya luluh dan mengizinkan Yusra dan Sara berangkat ke Jerman. Ia akan ditemani sepupu laki-lakinya, Nizar.
Tak hanya itu, ayahnya juga membekali Yusra dan kakaknya dengan uang Є20.000 atau Rp 164 juta. Saat Yusra bertanya dari mana asalnya, ayahnya mengaku meminjamnya.
Kepada majalah Vogue yang mewawancarainya kelak, Yusra Mardini berada di kelas tujuh ketika protes terhadap Presiden Bashar al-Assad dimulai pada tahun 2011, yang akhirnya menyebabkan perang saudara di Suriah.

(Presiden Bashar al-Assad/ABC News)
Seperti orang lain, dia tidak tahu pada saat itu bahwa itu akan berubah menjadi konflik yang sejauh ini telah menewaskan sekitar 470.000 orang dan memaksa hampir lima juta warga Suriah keluar dari negara itu.
Pada awalnya, dia hampir tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi. “ Saya terus berenang dan pergi ke sekolah, berusaha hidup seperti anak normal” adalah bagaimana dia mengatakannya. Kemudian keadaan menjadi lebih buruk.
Pada tahun 2012, terjadi pertempuran di Daraya antara pasukan pemerintah Assad dan pemberontak oposisi. Kota itu hancur dan ratusan warga sipil dibantai. “ Setelah itu, semuanya berbeda,” kata Mardini. " Tank, dan kabel listrik yang menggantung dari tiangnya, semuanya hancur."

(Sudut kota Suriah yang hancur karena perang/BBC)
Menjadi lebih sulit untuk sampai ke kolam karena perang. Dia dan keluarganya harus pindah ke bagian Damaskus yang lebih aman tahun itu.
Di Damaskus, dia mulai merindukan kehidupan di luar perang. Tetapi orang tuanya menolak untuk membahas gagasan pergi. Seperti kebanyakan keluarga, mereka tidak ingin berpisah, namun tidak mungkin mereka berlima pergi ke Eropa.
Namun pada musim panas 2015, Yusra sudah mengemis. Dia ingin berenang lagi dan menjalani kehidupan normal. “ Saya mulai berkata, 'Kamu tahu, Bu? Saya akan meninggalkan Suriah. Jika saya mati, saya akan mati dalam pakaian renang saya.’”
Suatu pagi ibunya pulang ke rumahnya. Dia menangis. Dia mengatakan bahwa Yusra dan Sarah bisa pergi. Satu sepupu laki-laki, Nizar, telah setuju untuk menemani mereka ke Turki dan seterusnya.
Dia tidak tahu di mana putrinya akan berakhir. “ Itu adalah hal tersulit yang harus dia lakukan,” kata Yusra Mardini. " Tapi dia tahu kita harus pergi."
***
Dari Damaskus, Yusra, Sara dan sepupu laki-lakinya NIzar, akkhirnya meninggalkan Suriah setelah mendapat restu dan bekal dari ayah dan ibunya. Mereka terbang melalui Lebanon ke Turki dengan mengaku turis.
Saat tiba di Turki, di sebuah pasar malam, mereka bertemu dengan penyelundup dan kerumunan pengungsi lain yang mencoba melarikan diri. Si penyelundup bersedia mengantar mereka menyeberang ke kota Lesbos, Yunani, sebuah pulau yang berada di seberang Turki.

(Pengungsi Suriah di Turki/Arab Center)
Akhirnya setelah membayar jasa penyeberangan, mereka bertiga dan 18 pengungsi lainnya diangkut menaiki bus ke sebuah pantai. Setibanya di pantai, mereka diminta menunggu.
Mereka menunggu di hutan dekat pantai Turki selama empat hari tanpa makanan, tidak yakin kapan mereka akan mendapatkan perahu mereka atau kapan waktu teraman untuk berangkat.
“ Momennya harus tepat; ombaknya harus benar; harus ada waktu ketika tidak ada patroli,” jelas Yusra. Itu rute untuk sampai ke Mytilene, ibu kota Lesbos, sebuah pulau Yunani dekat Turki di Selat Mediterania.

(Kota Lesbos, Yunani/Lesvos)
Di hutan, sambil menunggu, dia berusaha tetap tenang. Dia membawa ponsel, sandal jepit, dan celana jins. " Itu dia," katanya. Dia tidak tahu ke mana dia akan pergi ketika dia tiba di Yunani. “ Kami punya sedikit uang, tapi tidak banyak. Perjalanan keluar dari Suriah seharusnya menelan biaya $1.500—tetapi pada saat kami tiba di Jerman, harganya jauh lebih mahal,” kata Yusra ke majalah Vogue.
Akhirnya si penyelundup tiba. Dia membawa perahu karet tua penuh tambalan dengan mesin motor. Melihat ukuran perahu karet, Sara sempat protes. Karena ukuran perahu karet itu idealnya hanya diisi enam orang. Tapi jumlah yang akan berangkat di luar Yusra dan Sara ada 18 belas orang.
Tapi si penyelundup meyakinkan perahu karet itu kuat. Dan penyeberangan tidak akan memakan waktu lama. Masing-masing pengungsi dibekali penyelundup dengan pakaian pelampung yang langsung dipakai sebelum naik perahu.
Mereka pergi saat senja pada hari keempat bersama delapan belas orang lainnya. Tidak jauh dari pantai Turki —sekitar 20 menit perjalanan yang seharusnya memakan waktu 45 menit— motor perahu karet itu mati. Yusra merasakan perahu terhuyung ke depan dan kemudian mulai tenggelam.

(Adegan film The Swimmer mereka perahu yang sesak pengungsi yang dinaiki Yusra dan Sara Mardini/Guardian)
Sarah dan Yusra segera keluar ke air laut yang dingin dan mulai menarik perahu dengan tali menuju pulau, dibantu sebentar oleh dua penumpang lainnya yang juga ikut keluar perahu.
“ Kami menggunakan kaki dan satu tangan masing-masing—kami memegang tali dengan tangan lainnya dan menendang dan menendang. Ombak terus datang dan memukul mata saya,” katanya. “ Itu adalah bagian tersulit—perihnya air asin. Tapi apa yang akan kita lakukan? Biarkan semua orang tenggelam? Kami menarik dan berenang untuk hidup mereka.”
Para adik kakak itu berenang dengan perahu di belakangnya selama tiga setengah jam. Saat lelah, mereka hanya mengambang. Pakaian pelampung membuat mereka bisa rileks dan tidak harus terus menerus mengeluarkan tenaga,
“ Ada seorang anak laki-laki, Mustafa,” kenang Yusra. “ Dia baru berusia sekitar enam tahun. Dia sangat lucu, dan ketika kami berada di hutan, kami bermain dengannya dan bercanda dengannya. Saya pikir ketika kami menarik perahu, kami ingin menyelamatkan semua orang, tetapi kami paling memikirkan dia.”
Mereka berenang, istirahat sebentar, berenang, istirahat, sampai bisa menyeret perahu karet penuh tambalan itu ke Lesbos. Mereka akhirnya tiba dengan selamat setelah melalui perjuangan dramatis. Perjalanan itu belum berakhir.

(Pengungsi Suriah tiba di Pulau Lesbos, Yunani/New York Times)
Saat mereka berjalan di Lesbos, nampak gunungan pakaian pelampung yang dikenakan oleh pengungsi sebelum mereka. Pakaian pelampung itu begitu banyak dan memenuhi bukit di Pulau Lesbos.

(Gunungan pelampung sambut pengungsi Suriah yang tiba di Lesbos/PRI)
“ Benar-benar tidak ada apa-apa di pantai seberang,” kenangnya. “ Saya tidak punya sepatu, karena saya harus melepas sandal saya di air. Seseorang di jalan memberi saya sepasang sepatu. Tetapi orang-orang curiga—saya tidak akan mengatakan bahwa mereka ramah,” kata Yusra
Ketika Yusra dan pengungsi lainnya pergi ke restoran, penduduk setempat tidak mengizinkan mereka membeli makanan. Akhirnya karena haus, mereka terpaksa meminum secara bergantian air keran yang ada di rumah penduduk.
Sampai di Lesbos, ada lembaga swadaya masyarakat yang membantu para pengungsi yang baru tiba. Dari sanalah mereka mendapatkan pakaian, sepatu, atau susu bagi balita.
Mereka lalu mulai berjalan kaki secara berombongan dengan menyusur rel kereta api. Karena cuaca panas, dan jalan yang tidak rata, saat mereka bersitirahat malam, banyak kaki pengungsi yang melepuh dan lecet karena jauhnya jarak mereka berjalan.

(Para pengungsi Suriah berjalan kaki setiba di Eropa/BBC)
Mereka perlahan-lahan melakukan perjalanan darat melalui Eropa. Setelah terjebak di pusat stasiun kereta Budapest saat perdana menteri Hungaria, Viktor Orbán, memutuskan untuk menutup perbatasan bagi para pengungsi.
Selain berjalan kaki, mereka juga dibantu LSM setempat dan penyelundup lain, untuk menyeberang dari satu negara ke negara lain. Mereka harus melewati pagar pembatasan berduri dan tajam di setiap perbatasan negara.
Mereka harus memastikan untuk aman, sebelum menyeberang. Kadang-kadang mereka harus main kucing-kucingan dengan anjing pelacak penjaga pos perbatasan.
Dari Yunani, Serbia, kemudian menyeberang ke Hungaria dibantu penyelundup yang meminta bayaran 500 Euro atau Rp 8,2 juta per orang, Mereka pun kemudian dimasukkan ke dalam mobil boks berjejal-jejal.
Tapi mereka ditipu. Saat sampai di sebuah tempat, mereka diturunkan. Sehingga terpaksa kembali berjalan kaki menembus hutan. Saat tiba di perbatasan dengan kawat berduri, mereka menyeberang dengan hati-hati.
Mereka kemudian menemukan penyelundup lagi. Yang membantu mereka menyeberangi perbatasan satu negara lain. Kali ini penyelundupnya adalah orang Suriah. Seorang perempuan.
Mereka pun dibantu sampai perbatasan Austria, negara yang berbatasan langsung dengan Jerman. Untuk mengatasi pagar tinggi perbatasan, penyelundup telah menyiapkan tangga. Sehingga pengungsi bisa menyeberang saat malam tiba.

(Pengungsi Suriah menyusuri rel kereta api di Austria/Euraactiv)
Sesampai di seberang, di Austria, di tempat penampungan sementara, Yusra nyaris diperkosa oleh seorang penyelundup. Untunglah kakaknya Sara tahu, dan langsung membela adiknya. Yusra lolos dari perkosaan tapi kemudian Yusra, Sara dan Nizar memutuskan memisahkan diri dari kelompok penyelundup itu.
Mereka pun memutuskan menginap di hotel dengan menggunakan uang yang tersia untuk istirahat dan mengumpulkan tenaga. Esok paginya Nizar punya kabar gembira. Ia bertemu dengan kelompok relawan lembaga swadaya masyarakat Austria yang bekerja untuk membantu pengungsi. Mereka tengah menyiapkan puluhan bus untuk mengangkut pengungsi ke Jerman.
Akhirnya mereka berangkat pada malam hari menaiki bus nomor 7. Memang ada puluhan bus yang disediakan untuk mengangkut pengungsi ke Jerman. Dan pada pagi harinya, mereka sudah sampai ke kota Berlin di Jerman. Para pengungsi di dalam bus pun bersorak-sorak. Yusara sempat menelepon ayahnya untuk mengabarkan mereka sudah tiba di Berlin, Jerman.
Sampai di Berlin, Jerman, mereka dibawa ke tempat penampungan pengungsi yang disediakan lembaga swadaya masyarakat Jerman yang membantu pengungsi.Sampai di sana, data paspor dan foto mereka diambil untuk urusan imigrasi.

(Tempat penampungan pengungsi Suriah di Berlin, Jerman/Time)
“ Saya tidur di lantai—tapi saya aman,” kata Yusra Mardini.
Dari seorang penerjemah, Yusra mendengar tentang klub renang yang melatih atlet muda: Wasserfreunde Spandau 04, salah satu tim terpenting dan paling dihormati di lingkaran renang Berlin. Yusra pun mendatangi tempat itu untuk kembali berlatih berenang.
Di depan pelatih renang, Yusra mengaku sebagai atlet renang Suriah. Dan ia ingin terus berlatih agar bisa mengikuti Olimpiade di Rido de Jenario tahun 2016 atau setahun lagi.
Sven Spannekrebs, 36 tahun, di pelatih renang yang lembut, tahu betul kehidupan perenang remaja, juga pernah berlatih dengan tim Spandau saat masih muda. Saat menyaksikan Mardini bersaudara mencoba untuk pertama kalinya, dia kagum dengan kegigihan mereka.
“ Jelas kedua saudari ini telah berlatih dengan serius. Teknik mereka bagus.” Dia membawa mereka dan membantu mereka mendapatkan surat-surat mereka untuk tinggal di Jerman. “ Saya tidak pernah berharap kami akan pergi ke Rio,” katanya. “ Saya hanya ingin membuat hidup mereka lebih mudah.”

(Yusra Mardini dan pelatihnya Sven Spannekrebs/Guardian)
Dia mengingatkan Yusra bahwa dia membutuhkan waktu satu tahun untuk menjadi bugar. " Saya harus meninggalkan McDonald's," candanya, lalu menjadi serius. “ Tapi saya terus memikirkan bertahun-tahun saya telah bekerja sangat keras.”
“ Kemajuannya cepat,” lanjut Sven Spannekrebs. “ Dia melakukan semua yang saya minta: bangun jam 6 pagi untuk pergi ke kolam renang. Kelas. Gym. Kembali ke kolam renang.” Sarah, sementara itu, memutuskan untuk berhenti berkompetisi. “ Dia suka berenang, tapi dia tidak ingin berkarier di sana,” kata Yusra.
Sekarang Sara bekerja untuk sebuah LSM di Yunani membantu para pengungsi. “ Dia lebih bahagia.”
Saat Yusra lelah, dia memikirkan Olimpiade Rio.
Adik kakak itu masih merindukan rumah. “ Setiap kali kami menelepon untuk memberi tahu Ibu bahwa kami baik-baik saja,” kata Yusra Mardini sambil mengutak-atik antingnya, “ dia hanya akan menangis. ‘Kapan saya bisa bertemu denganmu?’”
Ibu dan adik perempuannya sekarang sudah berada di Berlin, tinggal bersama Yusra di flat baru. Ayahnya juga tinggal di dekatnya. Mereka sudah berkumpul bersama lagi.
Yusra akhirnya menjadi perenang tim Olimpiade 2016 di Rio de Jenario Brasil mewakili Tim Pengungsi.

(Yusra saat tampil di Olimpiade Rio/Guardian)
Di Olimpiade 2016 yang diadakan di Brasil Yusra melesat hingga satu menit, 9,21 detik di nomor kupu-kupu 100 meter. Dia tidak berenang cukup cepat untuk maju ke semifinal, tetapi dia memenangkan babak penyisihan, dan Tim Olimpiade Pengungsi membuat sejarah
***
Sejak pemilihannya untuk Olimpiade Rio 2016, Mardini telah bekerja sama dengan Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNHCR, yang menyoroti penampilannya karena menginspirasi Tim Olimpiade Pengungsi di tengah krisis pengungsi global yang meluas.
Dia telah menjadi suara yang kuat bagi para pengungsi paksa di seluruh dunia dan contoh yang kuat dari ketahanan dan tekad mereka untuk membangun kembali kehidupan dan berkontribusi secara positif kepada komunitas tuan rumah.

(Yusra Mardini menjadi Duta Goodwil UNHCR/UNHCR)
Di Sidang Umum PBB pada September 2016, Mardini mengadvokasi hak-hak pengungsi untuk memiliki akses ke tempat penampungan yang aman, pendidikan, mata pencaharian, dan peluang pelatihan.
Pada Januari 2017 dia mewakili UNHCR di Forum Ekonomi Dunia di Davos, di mana dia menjadi peserta termuda. Berbicara kepada audiens yang terkenal, dia menekankan bahwa, dengan rata-rata lama pengasingan sekarang mencapai 17 tahun, para pengungsi membutuhkan harapan untuk masa depan mereka dan salah satu anak mereka, dan bukan hanya hidup dalam yang tak pasti. “ Dengan makanan untuk perut kami, pengungsi bisa bertahan. Tapi hanya jika mereka diberi makanan untuk jiwa barulah mereka bisa berkembang, ”katanya.
Selama setahun terakhir Mardini juga mengadvokasi masalah pengungsi selama pertemuan dengan Paus, Presiden Obama serta dengan keluarga kerajaan, tokoh bisnis berpengaruh dan pemimpin dunia lainnya.

(Yusra Mardini saat bertemu Paus/DW)
“ Tidak ada salahnya menjadi pengungsi jika kita ingat siapa diri kita. Kami masih menjadi dokter, insinyur, pengacara, guru, siswa, kami kembali ke rumah. Kami masih ibu dan ayah, saudara laki-laki dan perempuan. Perang dan penganiayaanlah yang mengusir kami dari rumah kami untuk mencari kedamaian. Itu adalah pengungsi. Itulah saya. Itulah siapa kita semua, populasi orang yang terus bertambah tanpa negara. Saya seorang pengungsi dan saya bangga membela perdamaian, untuk kesopanan dan martabat bagi semua orang yang melarikan diri dari kekerasan. Bergabunglah dengan saya. Berdirilah bersama kami,” ujarnya.
Yusra ditunjuk UNHCR sebagai Duta Niat Baik atau Goodwill Ambasador UNHCR.
***
Pada November 2022, film baru Netflix, “ The Swimmers,” tayang.
Film itu menceritakan kisah luar biasa Yusra Mardini, seorang pengungsi muda Suriah dan Duta Niat Baik Badan Pengungsi PBB (UNHCR), yang lolos dari konflik dan berkompetisi di dua Olimpiade.

(Film The Swimmer tayang di Netflix November 2022/GeoTV)
" Ini adalah film yang dapat dihubungkan dengan siapa pun di dunia," kata Yusra yang sekarang berusia 24 tahun itu sesaat sebelum pemutaran perdana dunia film tersebut pada hari Kamis di malam pembukaan Festival Film Internasional Toronto (TIFF) yang bergengsi. “ Kami ingin film ini membuat perbedaan.”
Disutradarai oleh pembuat film terkenal Mesir-Welsh Sally El Hosaini yang menyutradarai filmi” My Brother the Devil”, film ini dibintangi aktor Lebanon dan saudara perempuan kehidupan nyata Nathalie dan Manal Issa, sebagai Yusra dan kakaknya Sara.
Ini menceritakan kisah masa kecil mereka di Damaskus, fokus mereka berenang sejak usia muda, dan perjalanan dramatis mereka ke Eropa pada tahun 2015 yang melihat mereka membantu menyelamatkan nyawa sesama pengungsi dengan melompat ke air dan mengarahkan sampan mereka ke pantai melalui perairan gelap Laut Aegea.

(Salah satu adegan The Swimmers saat Yusra, Sara dan Nizar berkumpul/Time)
Menjelang melangkah ke karpet merah di Toronto, kegembiraan Yusara Mardini terhadap kemungkinan film tersebut terlihat jelas.
“ Kami memberi tahu mereka keseluruhan cerita. Kami ingin itu menjadi kisah nyata, kisah nyata,” katanya, menambahkan bahwa pembuat film mengunjungi keluarga di Jerman tempat mereka tinggal sekarang, serta kamp pengungsi Yunani tempat mereka pertama kali tinggal. “ Mereka benar-benar menginvestasikan banyak waktu dan energi untuk ini, dan kami tidak ragu sedetik pun bahwa mereka akan melakukan pekerjaan dengan baik.”
Sementara publik harus menunggu hingga 23 November untuk rilis umum film tersebut, Mardini telah menontonnya dua kali dan mengatakan tidak mungkin dia memilih momen terbaik. “ Sejujurnya, seluruh film adalah adegan favoritku!” dia berkata.
Namun, berdasarkan kisah nyata pelarian Yusra dan Sara dari konflik, dan awal dari kehidupan baru mereka sebagai pengungsi, tidak selalu film yang mudah baginya –atau siapa pun– untuk menontonnya. “ Saya menangis setiap dua menit,” kata Yusra.

Pemeran film Swimmer dan Yusra dan Sara (kanan)/Midle East Eye)
Dia berharap itu akan membuktikan lebih dari sekadar hiburan sederhana. “ Film ini akan membahas apa itu pengungsi, apa yang ingin kita ubah,” kata Yusra.
Sejak menjadi Duta Niat Baik UNHCR termuda pada tahun 2017, dan berkompetisi sebagai perenang di Olimpiade Rio 2016 dan Tokyo 2020, Yusra telah muncul sebagai suara terdepan bagi para pengungsi, yang akan semakin diperkuat oleh The Swimmers.
Seperti banyak orang di seluruh dunia, istilah 'pengungsi' tidak berarti banyak bagi Yusra sampai dia terpaksa meninggalkan rumahnya. “ Ketika saya tinggal di Suriah, saya bahkan tidak memikirkan apa itu pengungsi. Tidak ada yang mendidik saya tentang itu, ”katanya.
Untuk mengubah persepsi pengungsi, pemahaman harus didahulukan, katanya. “ Sistem pendidikan harus berubah: mereka harus lebih terbuka, mereka harus mengajarkan kisah para migran dan pengungsi,” kata Yusra, yang berharap dapat berbagi kisahnya secara luas, akan membantu mendidik masyarakat tentang potensi, dan nilai, yang dimiliki semua pengungsi. “ Kita harus memperlakukan semua orang sama,” katanya.
“ Masih banyak yang harus diubah untuk para pengungsi.”
Kisah mencengangkan Yusra bukan hanya satu dari sejuta, tetapi satu dari 100 juta, yang merupakan jumlah orang yang terpaksa mengungsi saat ini secara global. Tentu saja, tidak semua orang bisa berenang gaya kupu-kupu 100 meter di Olimpiade, tetapi bakat dan kesuksesan Yusra mendorong komitmennya untuk berbicara bagi para pengungsi dan mempengaruhi sikap.
“ Olimpiade mengubah cara saya berpikir tentang menjadi pengungsi. Saya masuk ke stadion di Rio dan menyadari bahwa saya dapat menginspirasi begitu banyak orang. Saya menyadari bahwa 'pengungsi' hanyalah sebuah kata, dan apa yang akan Anda lakukan dengannya adalah hal yang paling penting.”
Di luar renangnya, rencana Yusra untuk masa depan termasuk perannya yang berkelanjutan sebagai Duta Niat Baik UNHCR, mendirikan yayasan amal untuk fokus pada olahraga dan pendidikan, melakukan studi lanjutannya sendiri, dan bahkan mungkin berakting.
Meski menjadi sorotan Hollywood, Yusra tidak kehilangan panggilannya. “ Masih banyak yang harus diubah untuk para pengungsi,” katanya. " Ini bukanlah akhir. Ini baru permulaan.”
Sebelum film itu tayang, Yusra juga telah menuliskan kisah hidupnya dalam buku otobiografi yang juga laris berjudul: “ Butterfly: From Refugee to Olympian, My Story of Rescue, Hope and Triumph.”

(Buku “ Butterfly: From Refugee to Olympian, My Story of Rescue, Hope and Triumph.”/Spotify)
Ketika, di Olimpiade Rio 2016, lima wanita melangkah ke blok awal untuk babak pertama nomor kupu-kupu 100m, satu perenang terlihat menonjol. Sementara yang lain diidentifikasi dengan nama dan bendera negaranya, Yusra Mardini diidentifikasi dengan bendera putih berhiaskan cincin Olimpiade.
Bunyi bip, dan mereka berbelok ke kolam biru. Yusra Mardini sedikit unggul pada babak pertama, tetapi kehilangan momentum saat berbelok. Dia berjuang untuk mengejar perenang Grenadian di sebelahnya - sampai beberapa pukulan terakhir, ketika, seperti pahlawan masa kecilnya Michael Phelps, dia menemukan ledakan kecepatan terakhir, dan menyentuh dinding terlebih dahulu.
Gaya kupu-kupu adalah pukulan yang kuat dan tanpa kompromi, dan gambar langsung Mardini hanya menggarisbawahi ini: wajah lembut yang fokus, bahu besar mengangkat lengan seperti sayap. Tapi yang lebih kuat, bagi jutaan orang yang menonton, adalah benderanya, dan mengapa dia berkompetisi di bawahnya:
Mardini berenang di Olimpiade pertamanya sebagai anggota tim pengungsi, bepergian dengan dokumen yang memungkinkannya pergi ke mana pun kecuali rumahnya. negara Suriah, dari mana dia benar-benar berenang menjauh.
Buku Butterfly bercerita, dengan kata-kata Mardini sendiri tentang bagaimana dia sampai di blok awal itu. Ini adalah cerita yang penuh dengan begitu banyak kejadian, disampaikan dengan begitu jelas dan dengan kecepatan sedemikian rupa, sehingga pembaca mulai merasakan seperti yang dirasakan Mardini tentang masa remajanya: “ Segala sesuatu terjadi begitu cepat sehingga tidak ada waktu untuk merenung.”
Perenang itu, yang kini berusia 24 tahun, lahir di Damaskus. Ayahnya berkompetisi untuk tim renang nasional hingga harus melakukan wajib militer; semua ambisi itu kemudian dialihkan kepada kedua putrinya, Sara dan Yusra.

(Yusra dan Sarta mengapit ayah kandungnya/Okeybliss)
Dia melemparkan mereka ke dalam kolam ketika mereka masih kecil, memancing mereka keluar lagi di bawah tatapan ngeri ibu mereka. Kemudian, dia bersikeras agar mereka tetap berlatih bahkan ketika bahu Sara mulai melemah, ketika Yusra pingsan, atau infeksi telinga, atau, suatu hari, ketika mesin latihan beban, yang dilepaskan secara tak terduga oleh rekan satu timnya, membelahnya. pipi terbuka.
“ Ayah ingin kita menjadi perenang terbaik. Yang terbaik. Di dunia.” tulis Yusra, yang, ketakutan, mematuhi persyaratan otokratisnya, berenang dua jam sehari di bawah potret Presiden Bashar al-Assad yang tidak tersenyum. Sara masuk tim nasional, dan memenangkan medali di Pan-Arab Games; sebuah foto diambil darinya, dengan medalinya – dan Assad.
Musim semi Arab bergemuruh di kejauhan, semakin dekat, hingga tumpah ke Suriah. Mereka menunggunya berlalu, “ dan sambil menunggu, saya berenang,” tulis Yusra. " Berenang adalah kesibukan terbaik." Tetapi suatu hari mereka berbelok ke jalan mereka untuk menemukan tiga tank rusak di ujungnya, dan seorang tentara langsung membidik mobil mereka.
Tidak lama kemudian, ayah mereka ditangkap dalam kasus salah identitas, digantung terbalik dan dipukuli. Rumah mereka diratakan, dan mereka berada di bawah belas kasihan tuan tanah yang memanfaatkan kerentanan mereka untuk mengumpulkan uang sewa.
Yusra Mardini menyaksikan stadion tempat dia berlatih dihancurkan oleh bom. Kemudian suatu hari, saat dia berenang di tempat lain, terdengar suara pecahan kaca, teriakan – dan di air yang tiba-tiba jernih, sebuah bom yang tidak meledak. Sara sudah tahu dia harus meninggalkan Suriah; Yusra pun kini menyadarinya.
Jadi, meninggalkan ibu dan adik perempuan mereka di Damaskus, mereka berangkat ke Turki dan Mediterania. Sampan mereka dikembalikan sekali oleh penjaga pantai Turki. Saat mereka berangkat lagi, laut tidak lagi rata di bawah matahari, tetapi penuh. Lima belas menit kemudian, mesin mati. Perahunya penuh dan rendah sehingga mereka membuang apa pun yang mereka bisa. Kemudian salah satu pria, yang bukan perenang, dengan berani pergi ke samping, dan bertahan. Sara juga masuk ke laut, lalu Yusra.
Para adik kakak ini tidak secara fisik menariknya ke pantai, seperti yang telah dilaporkan secara luas –10 km di laut lepas, dengan perahu yang berat, tidak mungkin bahkan untuk dua perenang tingkat nasional– tetapi mereka menahannya dengan mantap, merasakannya arus, menjaganya tetap pada jalurnya, memberi tahu dan tersenyum agar tidak membuat khawatir anak berusia enam tahun yang masih berada di kapal.
Kisah Yusra karenanya merupakan inspirasi bagi setiap pengungsi di manapun. Pergi dari negara sendiri karena terusir oleh perang, jelas bukan pilihan siapa pun. Namun melakukannya, dengan menjadi pengungsi, tentu butuh nyali yang tidak semua orang punya keberanian itu. Tapi kepercayaan untuk mengubah nasib, harus menjadi pengingat kita ketika kita melihat nasib pengungsi. Di mana pun. Termasuk pengungsi yang terdampar negara Indonesia. (eha)
Sumber: Netflix, Vogue, UNHCR, Olympics, Time, Toronto Star, Guardian,
]