Mahfud MD: Kelompok Ferdy Sambo seperti Kerajaan di Internal Polri

Reporter : Nabila Hanum
Kamis, 18 Agustus 2022 18:17
Mahfud MD: Kelompok Ferdy Sambo seperti Kerajaan di Internal Polri
Menurutnya, kelompok inilah yang menyebabkan pengusutan kasus penembakan Brigadir J banyak hambatan.

Dream - Menko Polhukam Mahfud MD menyebut Ferdy Sambo memiliki kelompok besar di internal Polri. Dia mengibaratkan kelompok Ferdy Sambo sebagai kerajaan yang berkuasa.

" Yang jelas ada hambatan-hambatan di dalam secara struktural. Karena ini tidak bisa dipungkiri ada kelompok Sambo sendiri yang seperti menjadi kerajaan Polri di dalamnya, seperti sub Mabes yang sangat berkuasa," kata Mahfud dalam kanal Youtube Akbar Faizal Uncensored.

Menurutnya, kelompok inilah yang menyebabkan pengusutan kasus penembakan Brigadir J banyak hambatan. Bahkan hambatan dirasakan pula oleh Kapolri.

1 dari 6 halaman

" Disembunyikan dari Kapolri oleh orang-orangnya Sambo. Sehingga Kapolri agak terasa lambat. Tetapi dia kan responsif terhadap isu-isu dari luar, misalnya komunikasi dengan kita dengan masyarakat. Dia jalan sehingga semuanya selesai meski agak terlambat," ujarnya.

Mahfud mengatakan, dalam kasus Ferdy Sambo, ada tiga klaster yang turut membantu pembunuhan, mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga rekayasa kasus.

Klaster pertama adalah mereka yang membantu mengeksekusi korban secara langsung.

" Satu, pelaku yang merencanakan dan mengeksekusi langsung. Nah, yang ini tadi yang kena pasal pembunuhan berencana karena dia ikut melakukan, ikut merencanakan dan ikut memberi pengamanan di situ," ujarnya.

2 dari 6 halaman

Klaster ke dua adalah mereka yang membantu menghilangkan barang bukti. Klaster itu, menurut Mahfud, merupakan bagian dari obstruction of justice.

" Ke dua, obstruction of justice. Ini tidak ikut dalam eksekusi tapi karena merasa Sambo, ini bekerja bagian obstruction of justice ini membuang barang anu membuat rilis palsu dan macam-macam. Nah, ini tidak ikut melakukan," ujarnya.

Klaster ke tiga, tambah Mahfud, yakni mereka yang hanya ikut-ikutan karena sedang berjaga dan bertugas. Mereka yang masuk klaster tiga hanya menjalankan tugas sesuai perintah.

" Kemudian ada kelompok ke tiga yang sebenarnya ikut-ikutan ini, kasihan, karena jaga di situ kan, terus di situ ada laporan harus diteruskan, dia teruskan. Padahal laporannya nggak bener. Prosedur jalan, jalan, disuruh buat ini ngetik, ngetik. Itu bagian yang pelanggaran etik," ucapnya.

Mahfud menilai yang layak untuk diproses pidana hanya klaster satu dan dua. Sementara itu, untuk klaster ketiga, Mahfud menilai hanya perlu diberi sanksi etik.

3 dari 6 halaman

Mahfud MD Bongkar Drama Tangisan Ferdy Sambo Saat Pertama Kali Kasus Brigadir J Muncul

Dream - Menko Polhukam Mahfud MD blak-blakan menceritakan perihal perangai Irjen Ferdy Sambo yang sempat menangis saat pertama kali kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J mencuat.

Menurut Mahfud, skenario kasus tembak-menembak dengan korban Brigadir J di rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri itu telah dirancang cukup rapi.   

" Dalam peristiwa itu, yang mendebarkan, saat ada skenario tembak-menembak, itu bukan main," ungkap Mahfud yang memberi penjelasan seputar kasus kematian Brigadir J dengan menjadi bintang tamu podcast outube Deddy Corbuzier.

Aksi tangisan Ferdy Sambo, ungkap Mahfud, dilakukannya kepada sejumlah orang yang sengaja ditemuinya. Mahfud menilai tangisan Ferdy Sambo itu sebagai salah satu bentuk jebakan psikologi yang coba disusun untuk memuluskan skenario.

" Banyak orang tidak tahu bahwa ada jebakan psikologis bagi orang tertentu untuk mendukung bahwa itu tembak menembak," katanya.

4 dari 6 halaman

Mahfud menceritakan, tiga hari pasca insiden penembakan atau 11 Juli 2022, Ferdy Sambo sempat memanggil anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) ke kantornya. Kala itu Ferdy menangis dan mengaku sebagai pihak yang teraniaya karena perbuatan Birgadir J.   

" Kompolnas dipanggil, dianya (Ferdy Sambo,red) hanya untuk menangis di depan Kompolnas sambil berucap 'Saya teraniaya, kalau ada saya di situ, saya tembak habis dia (Brigadir J)," ujar Mahfud menirukan kalimat Ferdy sambo.

" Saya terhina, saya terzalimi," ungkap Ferdy Sambo saat ditanya Kompolnas apa yang terjadi.

Usai menyaksikan tangisan Ferdy Sambo, Kompolnas memutuskan pulang namun belum mengetahui peristiwa penembakan Brigadir J di rumah orang yang telah mengundangnya tersebut.

5 dari 6 halaman

Tak hanya kepada Kompolnas, Mahfud mengungkapkan, Ferdy Sambo juga mengundang pihak lain ke kantornya untuk menceritakan tindakan yang diklaim telah membuatnya teraniaya dan terzalimi.

" Ada beberapa orang dihubungi dan datang ke kantor, dia nangis, 'Kak Saya dizalimi, bagaimana ini kak," ungkap Mahfud.

Dari laporan yang diterima tersebut, Mahfud menilai, drama menangis yang dilakukan Ferdy Sambo merupakan upaya pengkondisian psikologi agar terbentuk kerangka pemikiran seolah ada peristiwa pelecehan yang dilakukan Brigadir J kepada istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi.

6 dari 6 halaman

" Sepulang dari Mekah, saya mendengar cerita mereka, kemudian kita ganti perspektif bahwa ini bukan pelecehan tapi sesuatu terjadi lalu muncullah statement-statement dari pengacara," ujarnya.

Diketahui, Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan Brigadir J. Selain Ferdy Sambo, Bharada E, KM dan Brigadir RR juga ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana.

Ferdy Sambo terbukti merencanakan pembunuhan dengan menyuruh Bharada E menembak Brigadir J.

Beri Komentar