MUI Buka Suara Soal Aksi Pesulap Merah Bongkar Trik Dukun: Tidak Menghibur, Disarankan Belajar ke Master Limbad

Reporter : Okti Nur Alifia
Senin, 22 Agustus 2022 12:36
MUI Buka Suara Soal Aksi Pesulap Merah Bongkar Trik Dukun: Tidak Menghibur, Disarankan Belajar ke Master Limbad
"Secara pribadi kalau menurut saya memang enggak menghibur. Kita lihat ada dari realita kenyataan bahwa umat terbelah. Ada yang mencaci Marcel ada yang mencaci Gus Udin," kata Buya Munawwir.

Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara soal aksi Marcel Radhival atau Pesulap Merah yang membongkar trik sulap dalam perdukunan. Salah satu yang mencuat adalah pengobatan alternatif Gus Samsudin. 

Anggota MUI, Buya Munawwir Alqosimi, menyampaikan pandangannya bahwa kontroversi yang terlibat dalam keduanya dapat memecah belah umat. Menurut dia, masyarakat ada yang mencaci Marcel maupun Gus Samsudin.

" Secara pribadi kalau menurut saya memang enggak menghibur. Kita lihat ada dari realita kenyataan bahwa umat terbelah. Ada yang mencaci Marcel ada yang mencaci Gus Udin," ucapnya dikutip dari YouTube Cumicumi

Munawwir menyarankan agar Marcel yang berprofesi sebagai pesulap bertindak sebagaimana mestinya sebagai pesulap dengan mengibur saja.

“ Jadi Marcel kalau memang menghibur, menghiburlah sebagai pesulap dengan memakai yang memang menghibur,” katanya.

1 dari 7 halaman

Disarankan Belajar dari Master Limbad

Kemudian, menurut Munawwir Marcel seharusnya mencontoh pesulap lain, seperti Limbad yang tidak banyak berkomentar.

" Lihat para pesulap yang lain, tidak akan membuat kegaduhan sebagaimana Limbad, maka dia tidak bicara," tutur Buya Munawwir.

buya munawwir© YouTube Cumicumi

Bicara sejarah, Munawwir mengatakan sulap sudah hadir bahkan di zaman Nabi Musa. Kala itu tukang sihir menggunakan ilmu sulap bukan memakai jin.  

" Tukang sihirnya (zaman) Nabi Musa itu menggunakan ilmu sulap, bukan mamakai setan, jin. Karena itu ulama tidak memperbolehkan sulap. Sulap itu memang menggunakan alat-alat rekayasa, itu pun enggak diperbolehkan," katanya.

Munawwir menambahkan bahwa sulap boleh digunakan hanya untuk sekadar hiburan. Seperti halnya fatwa yang sudah dikeluarkan negara Yordania.

“ Ada yang sudah mengeluarkan fatwa yaitu Yordania. Bahwa sulap itu boleh digunakan hanya untuk permainan. Hanya untuk hiburan, bukan sebagai pelisir,” lanjutnya.

2 dari 7 halaman

Rahasia Masa Lalu Pesulap Merah Terkuak, Dulu Jualan Sosis Goreng Kini 'Gulung' Padepokan Gus Samsudin Jadab

Dream - Nama Pesulap Merah kian mencorong. Pemuda bernama Marcel Radhival itu ramai diperbincangkan setelah mendatangi Padepokan Nur Dzat Sejati milik Gus Samsudin Jadab di Blitar untuk melakukan pembuktian praktik pengobatan yang ditudingnya menggunakan trik sulap.

Jalan kehidupan Marcel sebelum tenar sungguh berliku. Saat menjadi tamu pada podcast Arie Untung, dia mengaku pernah merasakan pahitnya kehidupan. Sang ayah yang terjerat riba harus kehilangan harta.

" Orangtua bangkrut, kena riba, makanya sampai sekarang saya antiriba totalitas karena pada saat SMP saya mempelajari agama, Allah berjanji riba itu pasti dihanguskan. Saya ngelihat buktinya dari bapak saya," kata Marcel.

3 dari 7 halaman

Dulunya, kata Marcel, sang ayah adalah purnawirawan Polri. Mereka memiliki usaha rental mobil. Namun usaha tersebut akhirnya gulung tikar. " Punya tujuh mobil, habis. Gara-gara riba," kata dia.

Tidak hanya mobil, rumah mereka bahkan harus dijual untuk melunasi utang. Rumah keluarga Marcel laku Rp350 juta. Dari hasil penjualan tersebut, Rp250 juta di antaranya untuk membayar utang.

" Tadinya mikir sisa Rp150 juta. Rp200 juta bayar utang, yang Rp150 juta enggak tahu kenapa habis saja pas mau bayar rumah berikutnya, jadi buat beli makan dan sebagainya gitu," beber dia.

4 dari 7 halaman

Kala itu keluarga Marcel benar-benar tak punya penghasilan lagi. Marcel juga merasa sulap yang dia pelajari tak mampu menanggung biaya hidup keluarganya. Sehingga saban malam, sebelum meninggalkan rumah yang dijual, Marcel selalu berdoa.

" Saya setiap malam lari ke atas genteng, ke tempat jemuran itu, malam saya doa sama Allah. Ya Allah tolong kasih kerjaan saya yang bisa menghidupkan tapi ketika saya dapat jadwal sulap bisa diambil juga. Saya nangis-nangisan," kata Marcel.

Marcel memang tak punya pilihan selain harus berjuang menghidupi keluarga. Sebab kala itu mereka hanya diberi waktu sebulan sebelum harus angkat kaki dari rumah yang dijual tersebut.

" Kalau waktu itu saya tidak berhasil menghidupi orangtua, tinggal di jalanan, pilihannya itu doang. Soalnya jual rumah buat bayar utang. Makanya saya totalitas nangis-nangis. Benar-benar duit enggak ada sama sekali," ujarnya.

5 dari 7 halaman

Doa Marcel dikabulkan. Dia akhirnya bekerja, meskipun hanya jualan sosis goreng. " Sudah manggung di tv-tv, pakai jas-jasan dulu, dulu belum merah, dulu pas di rumah jualan sosis goreng yanag seribuan. Kebetulan kan dekat masjid," tutur Marcel.

Penghasilannya tidak besar. Sebulan hanya mampu meraup untung Rp300 ribu saja. Penghasilan itu bahkan tidak cukup untuk jajan saat berkumpul dengan teman-temannya.

" Saya doa lagi, Ya Allah ini enggak cukup buat kontrakan berikutnya. Karena kalau enggak bisa bayar kontrakan kan harus pindah tuh, saya tinggal di jalan nih," ucap Marcel.

6 dari 7 halaman

Marcel tetap berdoa supaya diberi pekerjaan dengan penghasilan yang cukup, namun tidak mengganggu jadwal sulap ketika ada panggilan manggung. " Adalah ojek online, 2015," kata dia.

Marcel menekuni profesi sebagai sopir ojek online mulai 2015 hingga 2018. Dia bekerja keras untuk mendapat penghasilan yang lumayan. " Penghasilan Rp6 juta sampai Rp8 juta. Berangkat selesai subuh pulang jam 12 jam satu malam."

Saat itulah dia mulai bermain YouTube. Saban kamis dia libur narik ojek untuk membuat konten YouTube. " Jumat upload. gitu terus," tambah dia.

7 dari 7 halaman

Marcel semakin eksis di dunia YouTube. Dia membuat konten seputar sulap, di antaranya membongkar praktik dukun yang melakukan pengobatan dengan trik sulap.

Marcel mengaku bulai membuat konten YouTube dengan membongkar trik pengobatan dukun, " mulai 2016."

Terbaru, Marcel mendatangi padepokan Nur Dzat Sejati milik Gus Samsudin Jadab di Blitar, Jawa Timur. Namun dia " ditolak" , sehingga tidak bisa melakukan pembuktian di hadapan sang pemilik padepokan.

Perang argumen pun berlanjut di media sosial, hingga akhirnya padepokan Gus Samsudin digeruduk warga dan ditutup sementara. Kini, Gus Samsudin tidak dibolehkan membuka praktik pengobatan di padepokan, untuk sementara.

Beri Komentar