Pengungsi Rohingya Ragu Myanmar Tulus Terima Mereka Kembali

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 3 Oktober 2017 17:02
Pengungsi Rohingya Ragu Myanmar Tulus Terima Mereka Kembali
Para pengungsi belum bisa yakin atas komitmen Myanmar.

Dream - Pemerintah Myanmar menyatakan siap menerima kembali para pengungsi Rohingya. Pernyataan itu disampaikan Menteri pada Kantor Penashat Negara Kyaw Tint Swe, membacakan pernyataan Penasehat Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi di Dhaka pada Senin malam waktu setempat, 2 Oktober 2017.

Pernyataan ini seperti mengulang apa yang sudah disampaikan Suu Kyi beberapa waktu lalu. Suu Kyi berjanji menerima kembali para pengungsi Rohingya, namun harus diverifikasi terlebih dulu.

" Mereka akan dipulangkan berdasarkan kriteria yang telah disepakati pada 1993, ketika puluhan ribu etnis Rohingya dipulangkan," kata Kyaw, dikutip dari Channel News Asia, Selasa, 3 Oktober 2017.

Kesepakatan yang dimaksud oleh Kyaw yaitu kesepakatan yang terjalin antara Myanmar dengan Bangladesh. Melalui kesepakatan tersebut, hampir seperempat juta etnis Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh dipulangkan ke Myanmar.

" Isu bersama harus antara dua negara harus dipecahkan secara bilateral, dengan cara yang damai, dan mempertimbangkan kepentingan kedua belah pihak," ucap Kyasw.

Pernyataan ini juga muncul setelah kunjungan PBB ke sejumlah titik pengungsian uang tersebar di kawasan perbatasan antara Myanmar dengan Bangladesh beberapa hari lalu. Dalam kunjungan tersebut beberapa hari lalu, PBB mendesak dibukanya akses bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi.

1 dari 1 halaman

Diragukan

Pernyataan Pemerintah Myanmar tersebut justru diragukan oleh para pengungsi Rohingnya. Sebabnya, berulang kali janji manis diucapkan Pemerintah Myanmar, namun tetap berujung penderitaan bagi Muslim Rohingya.

" Jika mereka memperlakukan kami secara setara, kami mungkin akan kembali," kata salah satu pengungsi Rohingya, Mohammad Amin.

Amin tiba di Bagladesh pada hari Minggu lalu. Selama berhari-hari, dia mengarungi lautan bersama saudaranya menggunakan kapal reyot.

Hal serupa juga disampaikan oleh pengungsi lain, Nurul Amin. Dia yang setiap hari bekerja sebagai buruh terpaksa melarikan diri lantaran mendapat ancaman dari segolongan umat non-Muslim Myanmar.

" Jika mereka menerima kami sebagai Rohingya, dan mengatakan kami tidak akan disakiti, kami akan pulang," kata Nurul.

Beri Komentar