Pakar Sebut Penyintas Omicron Lawas Ada Kemungkinan Terpapar Varian Terbaru

Reporter : Nabila Hanum
Senin, 20 Juni 2022 17:35
Pakar Sebut Penyintas Omicron Lawas Ada Kemungkinan Terpapar Varian Terbaru
Hal ini berisiko terjadi meski telah divaksinasi dosis lengkap ditambah vaksin booster.

Dream - Penelitian terbaru menunjukkan seseorang yang pernah terpapar virus Covid-19 varian Omicron versi paling awal berisiko tinggi kembali terserang varian terbaru. Risiko tertular masih tetap ada meski orang bersangkutan telah menerima vaksinasi dosis lengkap dan booster.

Dikutip dari The Straits Times, pasien yang pernah terinfeksi Omicron BA.1 dan sudah mendapat vaksinasi dosis lengkap, umumnya membentuk antibodi yang dapat menetralkan virus. Namun, subvarian Omicron yang beredar saat ini, yakni BA.4 dan BA.5 memiliki mutasi yang memungkinkan menghindari antibodi tersebut.

Dalam jurnal Nature, para peneliti dari China menyebut jika mutasi yang ada di subvarian Omicron baru berbeda dengan varian yang masih dominan di dunia yakni BA.1 hingga BA.2.

1 dari 3 halaman

" Subvarian yang lebih baru itu terutama menghindari antibodi penetralisir yang ditimbulkan oleh infeksi dan vaksinasi Covid-19," ujar seorang peneliti.

Temuan tersebut ditanggapi sejumlah ahli, salah satunya Dr Onyema Ogbuagu, dan peneliti penyakit menular di Yale, Fakultas Kedokteran di New Haven, Connecticut.

Menurutnya, masyarakat tetap disarankan menerima vaksinasi booster demi mencegah risiko keparahan terpapar Covid-19. Selain itu, penting untuk segera mendapatkan vaksin terbaru untuk mempertahankan antibodi Covid-19 yang beredar dalam darah.

" Meskipun menghindari kekebalan, harapannya adalah bahwa vaksin masih dapat melindungi terhadap gejala serius. Jika Anda membutuhkan booster, dapatkan booster," kata Dr Ogbuagu.

2 dari 3 halaman

Waspada! Menkes Prediksi Puncak Kasus Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 Bisa Capai 20 Ribu per Hari

Dream - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memprediksi puncak dari kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang telah masuk ke Indonesia bisa mencapai 20 ribu per hari. Taksiran itu berkaca dari kondisi penyebaran varian baru Omicorn tersebut di Afrika Selatn.  

Menurut Budi, puncak kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 sejak pertama kali terdeteksi Afrika Selatan mencapai sepertiga dari puncak Omicron atau Delta sebelumnya. 

“ Jadi kalau kita Delta dan Omicron puncaknya di 60 ribu kasus sehari, kira-kira nanti estimasi berdasarkan data di Afrika Selatan, mungkin puncaknya kita di 20 ribu per hari,” ujar Budi, pada Kamis, 16 Juni 2022.

Menkes menyampaikan bahwa Indonesia saat ini masih berada pada level , dengan kasus konfirmasi harian sekitar seribu kasus per hari. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk kasus konfirmasi level 1 adalah maksimal 20 kasus per minggu per 100 ribu penduduk.

3 dari 3 halaman

“ Kalau di-translate untuk penduduk Indonesia sekitar 7.700 per hari. Jadi itu adalah level threshold pertama di mana level transmisi berdasarkan WHO Indonesia akan naik ke level 2,” lanjut Budi.

Puncak kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia diprediksikan akan terjadi pada bulan Juli 2022, terhitung satu bulan setelah kasus pertama terdeteksi di bulan Juni.

“ (Puncaknya) satu bulan sesudah diidentifikasi, jadi sekitar minggu ke-3-minggu 4 Juli, dan kemudian nanti akan turun kembali,” ungkap Budi.

Menkes menegaskan, pemerintah akan terus memonitor ketat gelombang varian BA.4 dan BA.5 tersebut.

“ Tetapi yang kita perlu lihat adalah bahwa fatality rate-nya atau kematiannya itu jauh lebih rendah, mungkin seperduabelas atau sepersepuluh dari Delta dan Omicron,” pungkasnya.

Beri Komentar