Pemilu Malaysia, Kisah Muhyiddin Yassin Sang Judas nan Ambisius

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 5 Desember 2022 20:48
Pemilu Malaysia, Kisah Muhyiddin Yassin Sang Judas nan Ambisius
Sebagai politikus dia memang seorang oportunis sejati.

Dream – Hari itu, Senin 16 Agustus 2021, pria itu muncul di televisi.  Berambut putih dan berkacamata plus, pria itu terlihat berbicara tanpa teks. Saat itu dia mengenakan jas biru dan dasi berwarna abu-abu.

“ Ini adalah hari terakhir saya,” katanya muram. Pria itu adalah Muhyiddin Yassin, Perdana Menteri Malaysia.

Dalam pidato televisi yang disiarkan langsung ke seluruh pelosok Malaysia pada pukul 15.30, Muhyiddin Yassin dengan nada suram mengatakan dia telah memutuskan untuk mundur sebagai Perdana Menteri Malaysia karena dia telah kehilangan dukungan mayoritas di parlemen.

Muhyiddin mengundurkan diri setelah bermasalah selama 17 bulan terakhir berkuasa. Muhyiddin menjadi perdana menteri dengan masa jabatan terpendek di Malaysia di tengah pertengkaran terus-menerus dengan koalisi pendukungnya: Perikatan Nasional.

Muhyiddin mengadakan rapat kabinet terakhir pada Senin pagi sebelum pergi ke Istana untuk mengajukan surat pengunduran dirinya kepada Raja Malaysia.

Muhyiddin yang saat itu berusia 74 tahun berada di bawah tekanan sejak dia berkuasa pada Maret 2020 sebagai pimpinan koalisi Perikatan Nasional (PN),  setelah merebut kekuasaan dari pemerintahan sebelumnya.

Dalam pidatonya, Muhyiddin mengatakan bahwa dia tidak siap untuk bekerja dengan para koruptor, mengacu pada pengadilan korupsi yang dihadapi presiden dan anggota terkemuka lainnya dari Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), yang merupakan bagian dari koalisi Perikatan Nasional yang berkuasa.

“ Saya bisa mengambil jalan yang mudah dan mengorbankan prinsip saya untuk tetap menjadi perdana menteri. Tapi itu bukan pilihan saya. Saya tidak akan berkompromi dengan kleptokrat atau mengganggu kebebasan peradilan, hanya untuk tetap berkuasa,” kata Muhyiddin dalam pidato yang disiarkan televisi sekitar satu jam setelah dia mengajukan pengunduran dirinya.

Muhyiddin Yassin saat mengumumkan pengunduran dirinya sebagai PM Malaysia di televisi© MalaysiaKini

(Muhyiddin Yassin saat mengumumkan pengunduran dirinya sebagai PM Malaysia di televisi/Malaysiakini)

“ Saya sudah mencoba mencari ide untuk menyelamatkan pemerintahan ini. Tapi tidak berhasil, karena beberapa pihak lebih memilih merebut kekuasaan daripada memprioritaskan kehidupan rakyat,” ujarnya.

Raja Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah yang menunjuk Muhyiddin sebagai perdana menteri setelah krisis politik 17 bulan lalu, diperkirakan akan menggunakan kekuasaan konstitusionalnya sekali lagi untuk memilih pengganti Muhyiddin. Ini harus dari antara anggota parlemen yang menurutnya dapat dukungan mayoritas.

Muhyidddin untuk pertama kalinya pada akhir pekan lalu menyatakan bahwa dia tidak mendapat dukungan mayoritas dan melakukan upaya terakhir untuk memenangkan dukungan anggota parlemen oposisi dengan menjanjikan reformasi politik dan pemilu sebagai imbalan atas dukungan. Tapi langkah  itu gagal dan tawaran itu ditolak dengan suara bulat.

Koalisi oposisi Pakatan Harapan (PH), dan sekutu utama Muhyiddin, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), mengecam tawaran perdana menteri itu sebagai “ penyuapan terbuka” yang membuat Muhyiddin tidak punya pilihan lain selain mundur.

Hitungan mundur Muhyiddin sudah dimulai saat dia diangkat sebagai perdana menteri. Pemerintahan Perikatan Nasional-nya tidak diamanatkan secara demokratis oleh para pemilih, juga tidak didukung di parlemen, yang menurut para pakar politik telah merusak legitimasi politiknya.

Koalisi PN telah disebut sebagai “ pemerintah pintu belakang,” ketika lawannya menuduh Muhyiddin melakukan pengkhianatan karena menarik Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM/Bersatu) yang dia pimpin dari blok Pakatan Harapan yang saat itu berkuasa.

Muhyiddin kemudian bergandengan tangan dengan UMNO, Partai Islam Pan-Malaysia (PAS), dan faksi pemberontak dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim. Hal ini mengakibatkan Pakatan Harapan kehilangan dukungan mayoritas di parlemen. Dan Perdana Menteri Mahathir Mohammad pun mengundurkan diri.

Ketika Muhyiddin mengambil alih kekuasaan, dia menekankan bahwa dia menerima jabatan puncak semata-mata sebagai sarana untuk mengakhiri badai politik negara. “ Saya bukan pengkhianat. Saya di sini untuk menyelamatkan negara kita dari segala bentuk krisis.”

Lebih dari setahun kemudian, krisis politik kembali ke awal saat pandemi merebak.

Saat Muhyiddin diangkat sebagai perdana menteri pada 1 Maret 2020, total kasus COVID-19 di Malaysia adalah 29 kasus dengan nol kematian. Hari ini, di hari pengunduran dirinya, jumlah kasus mencapai 1,4 juta dengan 12.510 kematian.

Jabatan perdana menteri Muhyiddin yang singkat akan dikenang karena kurangnya legitimasi politik, kesalahan penanganan pandemi COVID-19, dan karena menguji demokrasi negara berpenduduk 36 juta itu dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Muhyiddin mencoba mengatasi gejolak politik dengan mencoba menenangkan UMNO –partai terbesar dalam aliansi Perikatan Nasional yang berkuasa– dengan pengangkatan posisi penting  di kabinet dan jabtan di perusahaan milik negara, meskipun ini terbukti tidak memadai karena “ partai lama yang besar” tidak mau bermain biola kedua untuk Muhyiddin.

Ketika perpecahan berkembang biak dalam koalisi Perikatan Nasional Muhyiddin, begitu pula jumlah kasus COVID-19 dan jumlah kematian di negara itu. Di media sosial, tagar #kerajaangagal (pemerintah yang gagal), #benderaputih (bendera putih), dan #benderahitam (bendera hitam) menjadi tren hampir sepanjang tahun sehubungan dengan respons pemerintah terhadap COVID-19 yang dinilai gagal.

Kegagalan " penguncian total" dan bencana penetapan keadaan  daruratnya telah merusak populasi dan iklim bisnis. Frustrasi pun meningkat, membuat banyak orang gelisah dan mendesak dia untuk meninggalkan jabatannya, termasuk mungkin juag Raja Malaysia. Dan itu akhirnya menghancurkan jabatannya sebagai perdana menteri.

***

Kejatuhan Tan Sri Muhyiddin Yassin adalah contoh sempurna betapa banyak hal dapat berubah dalam politik Malaysia dalam beberapa tahun terakhir.

Saat dia kehilangan dukungan di parlemen, itu hanya terpaut enam tahun ketika dia digembar-gemborkan sebagai pahlawan nasional karena menentang Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak pada puncak skandal 1Malaysia Development Bhd (1MDB). .

Saat memegang posisi sebagai orang nomor dua di negara itu sebagai Wakil Perdana Menteri Najib Razak, Muhyiddin adalah orang pertama di kabinet Najib yang menyanyikan nada berbeda kepada bosnya sehubungan dengan skandal keuangan besar itu, ketika orang lain di sekitarnya terus mendukung Najib.

Muhyiddin Yassin saat menjadi wakil PM Malaysia Najib Razak© Malaysiakini

(Muhyiddin Yassin saat menjadi wakil PM Malaysia Najib Razak/Malaysiakini)

Pidato pedas selama 70 menit selama pertemuan divisi UMNO pada 26 Juli 2015 membuat negara –dan sampai batas tertentu pemerintah– terkejut, ketika Muhyiddin menekan Najib untuk berhenti sebagai penasihat 1MDB dan menuduh bahwa Barisan Nasional (BN) akan kalah jika pemilihan umum digelar saat itu juga.

Muhyiddin dicopot sebagai wakil perdana menteri hanya dua hari kemudian, dan dipecat dari UMNO pada Juni tahun berikutnya, saat ia memulai usaha reformasi politik dari dalam.

Kepahlawanan Muhyiddin tidak berhenti di situ. Pada September 2016, dia bersama Tun Dr Mahathir Mohamad membentuk Partai Bersatu, partai yang dia pimpin saat ini sebagai presiden.

Tiga bulan kemudian, Bersatu menandatangani perjanjian yang sangat penting untuk secara resmi bergabung dengan Pakatan Harapan (PH), dan sisanya, seperti yang mereka katakan, adalah sejarah.

Mengendarai sentimen publik yang murka terhadap pemerintah yang korup, Bersatu dan sekutunya Pakatan Harapan berhasil mengalahkan Barisan Nasional dan UMNO dalam pemilihan umum bersejarah pada 9 Mei 2018.

Meskipun belum tentu memainkan peran utama dalam pergantian pemerintahan federal, faktor penarik yang dimiliki Muhyiddin di Johor telah membuat koalisi Pakatan Harapan merebut negara bagian penting tersebut, sementara sejumlah kursi parlemen yang secara tradisional dimiliki oleh Barisan Nasional di sana juga berpindah tangan.

Namun, bulan madu Muhyiddin dengan barisan oposisi ini berumur pendek karena gerakan Langkah Sheraton atau Sheraton Move yang digagas Muhyiddin yang terkenal pada Februari 2020. Gerakan ini merupakan penggulingan pemerintahan Pakatan Harapan yang baru 22 bulan berkuasa, yang dipicu oleh pertikaian hebat di antara pihak-pihak dalam koalisi tersebut.

Muhyiddin, Anwar Ibrahim dan Mahathit Mohammad saat masih bersatu di bawah Pakatan Harapan© Chanel News Asia

(Muhyiddin, Anwar Ibrahim dan Mahathit Mohammad saat masih bersatu di bawah Pakatan Harapan/Chanel News Asia)

Menurut Malaysia Kini, " Langkah Sheraton" merujuk kepada 11 anggota parlemen yang meninggalkan Partai Keadilan Rakyat (PKR) pimpinan Anwar Ibrahim untuk bergabung dengan Partai Bersatu pimpinan Muhyiddin, Barisan Nasional, UMNO, Partai Islam Se-Malaysia (PAS), Gapungan Partai Serawak (GPS) dan Warisan di Sheraton Hotel, Petaling Jaya pada malam Ahad, 23 Februari 2022, dalam usaha mengambil alih kekuasaan Pakatan Harapan yang berkuasa dengan menggunakan nama koalisi baru Perikatan Nasional.

Mahathir, yang tidak membuat pernyataan terbuka sejak 'Langkah Sheraton,'  akhirnya bersuara.

Dalam keteranganya, Mahathir menjelaskan dia meletakkan jabatan  sebagai Perdana Menteri dan pengurus Partai Bersatu kerana tidak setuju dengan tindakan Muhyiddin dari partainya sendiri dan 11 anggota parlemen PKR yang meninggalkan Pakatan Harapan sehingga membawa akibat tumbangnya Pakatan Harapan.

Mahathir juga menjelaskan dia meletakkan jabatan sebagai Perdana Menteri kerana tidak mau bekerjasama dengan UMNO.

“ Saya dikhianati oleh Muhyidddin. Dia telah menyusun rencana ini dan sekarang dia sukses.” kecam Mahathir Mohamad..

Mahathir melanjutkan kubu pecundang yang dipimpin Muhyiddin akan membentuk pemerintahan baru. “ Ini sungguh aneh. Pemenang malah akan jadi oposisi.”

Politisi kawakan berusia 94 tahun itu juga menceritakan Muhyiddin telah melobinya untuk bergabung dengan koalisi barunya yang akan didukung kubu oposisi Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) dan Partai Islam Se-Malaysia (PAS).

Mahathir menolak ajakan tersebut karena dia tidak ingin bekerjasama dengan mantan kendaraan politiknya UMNO yang disebutnya korup dan dikuasai kleptokrat.

Akhirnya Raja Malaysia mendukung Muhyiddin Yassin sebagai Ketua Perikatan Nasional menjadi Perdana Menteri Malaysia setelah mendapat dukungan 114 kursi parlemen. Dalam politik Malaysia,  diperlukan 112 kursi untuk mencapai mayoritas dukungan di parlemen Malaysia.

Muhyiddin Yassin saat dilantik Raja menjadi PM Malaysia© Malaysiakini

(Muhyiddin Yassin saat dilantik Raja menjadi PM Malaysia/Malaysiakini)

Presiden Amanah, Mohamad Sabu, menyifatkan Muhyiddin Yassin merupakan seorang yang paling jahat kerana mengkhianati perjanjian Pakatan Harapan.

“ Muhyiddin ini bagi saya dia paling jahat sekali sebab dialah yang menandatangani perjanjian Pakatan Harapan,” katanya dengan emosi dalam wawancara di sebuah TV internet Sumbertv.

Katanya, setelah Pakatan Harapan berkuasa usai diberi mandat rakyat pada pemilu Malaysia 2018, Muhyiddin bertindak merompak di tengah jalan kemudian mendirikan kekuasannya dari pintu belakang.

“ Dialah orang yang mengkhianati perjanjian,” kata Mohamad Sabu yang turut mengingatkan moderator agar tidak memotong kenyataannya itu.

Menurut Mohamad, perjanjian Pakatan Harapan diikrarkan kepada umum dalam konvensi pada 7 Januari 2018 di mana dia dan tiga orang  pimpinan Pakatan Harapan telah menandatangani perjanjian itu.

“ Saya (Amanah), Wan Azizah (PKR), Tan Kok Wai, Lim Guan Eng (DAP), iaitu kalau PH menang Perdana Menteri adalah Mahathir, wakilnya Wan Azizah dan Perdana Memnteri mendatang adalah Anwar,” katanya.

Bagaimanapun Mohamad mengingatkan hidup Muhyiddin tidak akan senang dunia akhirat atas apa yang dia lakukan selama ini.

Pada tanggal 23 Februari 2021, atau enam bulan sebelum Muhyiddin Yassin mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Malaysia, warga Malaysia memperingati pertemuan hotel Sheraton yang mengatur panggung untuk pemerintahan Muhyiddin Yassin saat ini dengan tagar #SetahunPengkhianatan, atau tahun pengkhianatan dalam bahasa Melayu.

Lima ribu tweet dengan tagar itu telah muncul di Twitter hari itu, tepat setahun setelah Muhyiddin Yassin, Azmin Ali, dan beberapa tokoh lainnya bertemu di Hotel Sheraton hanya beberapa hari sebelum penataan kembali politik diumumkan, yang menyebabkan pengunduran diri Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri.

“ Harap diingatkan bahwa Malaysia sekarang dijalankan oleh pemerintahan pintu belakang. #SetahunPengkhianatan,” kata pengguna Twitter @Dearjieunssi.

Muhiddin Yassin disambut tagar #SetahunPengkhianatan© Coconuts

(Muhiddin Yassin disambut tagar #SetahunPengkhianatan/Coconuts)

Sekretaris tokoh oposisi politik Lim Kit Siang juga ikut mengatakan: " 23 Februari 2020. Sekelompok politisi elit berkumpul di sebuah hotel mewah untuk menggulingkan pemerintah yang dipilih oleh rakyat."

Perikatan Nasional tahun lalu menggantikan pemerintahan Pakatan Harapan yang dipimpin oleh mantan perdana menteri Mahathir Mohamad, dua tahun setelah Mahathir Mohamad memimpin kemenangan pemilu melawan pemerintahan Barisan Nasional yang dipimpin oleh pemimpin Najib Razak. Muhyiddin dan Azmin pernah menjadi bagian dari aliansi politik Mahathir di Pakatan Harapan.

Perebutan kekuasaan itu dijuluki " Gerakan Sheraton" , mengutip pertemuan hotel Kuala Lumpur yang tampaknya telah memulai semuanya. Mahathir mengundurkan diri pada hari berikutnya setelah 26 anggota parlemen dari partai Bersatu dan 11 dari Partai Keadilan Rakyat menarik diri dari koalisi Pakatan Harapan, mengurangi 37 kursi dari 112 kursi Pakatan Harapan agar tetap memerintah.

Raja kemudian menunjuk Muhyiddin Yassin sebagai perdana menteri  untuk memimpin pemerintahan Perikatan Nasional, yang terdiri dari apa pun yang tersisa dari pemerintahan Mahathir sebelumnya bersama UMNO dan PAS.

Orang lain yang mengikuti tren Twitter hari ini adalah Anggota Parlemen Kluang Wong Shu Qi, yang hanya menulis: “ Selamat Hari Pengkhianat.”

Anggota parlemen Batu Kawan Kasthuriraani Patto mengecam anggota parlemen Kota Baru Takiyuddin Hassan, yang berada di kubu Muhyiddin, karena menyebut pemerintah Mahathir sebagai " oportunis" dan " tidak dapat dihubungi" .

“ YB Anda baru saja menggambarkan Pemerintah Perikatan Nasional Anda sendiri dengan kata-kata Anda sendiri,” kata Kasthuriraani. “ Oportunistik, tidak berhubungan dengan orang-orang. Semua orang tertinggal kecuali Menteri, Deputi, dan semua orang yang mendukung mereka. Jadi tolong. Simpan itu. #SetahunPengkhianatan.”

***

Pada Maret 2020, ketika Malaysia memulai perjuangannya melawan pandemi Covid-19, Muhyiddin memang berhasik mengambil alih pemerintahan terpilih, dengan dalih petahana gagal menangani keluhan masyarakat.

Dengan dukungan beberapa desertir Partai Keadilan Rakyat atau PKR dan dengan dukungan UMNO dan PAS, dia meyakinkan Raja Malaysia bahwa dia memiliki mayoritas dukungan parlemen.

Pemerintahannya sebagian besar Melayu-Muslim, karena koalisi Perikatan Nasional (PNl) tidak memiliki banyak perwakilan Cina dan India. Pemerintah itu berjanji akan inklusif, namun komposisi kabinet sama sekali tidak menunjukkan hal itu.

Pemerintah juga melangkah dengan alasan yang berbahaya ketika memutuskan untuk bekerja dengan Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), ketika beberapa pemimpinnya menghadapi tuduhan korupsi. Itu sulit sejak awal karena tidak cukup memuaskan para politisi di UMNO yang ingin dibebaskan dari tuduhan korupsi semacam itu.

Pemerintahannya juga termasuk Partai Islam Pan-Malaysia (PAS), partai Islam konservatif yang menentang keras Pakatan Harapan, yang dilukiskan PAS sebagai liberal dan anti-Islam. Kredensial Melayu Muhyiddin jauh sebelum Pemilihan Umum ke-14 tahun 2018 ketika dia ingin PAS menjadi bagian dari pakta pemilu melawan UMNO, yang ditolak PAS karena penentangannya terhadap DAP, anggota Koalisi Pakatan Harapan dari keturunan Cina. Mahathir menolak upaya itu dan memutuskan untuk mengabungkan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) dengan Pakatan Harapan.

Di masa-masa awalnya, pemerintahan Muhyiddin berhasil mengatasi persepsi bahwa hak-hak Melayu terancam. Dengan kabinet yang sebagian besar Melayu, beberapa urusan sayap kanan dikelola.

Namun kabinetnya membengkak, dengan 72 menteri dan wakil menteri, terutama terdiri dari mereka yang bersekutu dengan Perikatan Nasional. Mereka yang tidak diberi posisi kabinet, diangkat menjadi pengurus di BUMN perusahaan milik pemerintah. Dalam rekaman audio rapat yang bocor, dia terdengar mengatakan bahwa ini adalah bagian dari " skema" untuk memperkuat mayoritasnya di pemerintahan. Yang jelas hilang dari posisi ini adalah para pemimpin UMNO yang menghadapi kasus pengadilan.

Muhyiddin juga mencoba memproyeksikan citra Perdana Menteri yang menyenangkan tetapi tidak menerima tentangan. Usahanya untuk membungkam oposisi termasuk mempersingkat sidang parlementer dan menggagalkan setiap upaya untuk menguji mayoritasnya melalui pembicara yang akan melakukan segalanya untuk menolak mosi tidak percaya.

Sementara itu, UMNO —setidaknya faksi yang bersekutu dengan presidennya, Zahid Hamidi— mulai menunjukkan ketidaksenangan terhadap pemerintahan pimpinan Muhyiddin. Zahid dan mantan PM Najib Razak masih menghadapi kasus pengadilan dalam kasus korupsi. Najib sebelumnya juga pernah dihukum karena korupsi.

UMNO mulai menyoroti kegagalan pemerintah dalam menangani pandemi dan krisis ekonomi, dan menjauhkan diri dari pemerintah, bahkan ketika sebagian besar menteri yang menangani masalah ini berasal dari UMNO.

Muhyiddin dan Mahathir MOhamad saat masih akur mendirikan Partai Bersatu© Malaysia Today

(Muhyiddin dan Mahathir Muhamad saat masih akur mendirikan Partai Bersatu/Malaysiakini)

Untuk lebih memperkuat konsolidasi kekuasaannya, Muhyiddin berhasil mendeklarasikan Darurat Nasional pada upaya keduanya dengan Raja Malaysis. Melalui ini, dia menangguhkan aktivitas parlemen sampai Raja Malaysia memutuskan pada Juli 2021 bahwa itu harus diadakan sebelum keadaan darurat berakhir. Untuk keuntungan Muhyiddin, dia merencanakan sesi hanya memerlukan pengarahan daripada duduk biasa.

Sungguh ironis bahwa seseorang yang mengaku menjunjung tinggi posisi khusus Melayu justru berkonfrontasi langsung dengan istana, tetapi Muhyiddin melakukan hal itu. Itu juga belum pernah terjadi sebelumnya bahwa Raja Malaysia meminta kepercayaan pembicara Dewan Rakyat kepada PM. Raja tidak punya pilihan selain melakukannya karena konfrontasi langsung dilakukan secara terbuka.

Meski mendapat tekanan dari Istana, Muhyiddin tetap ingin mempertahankan kekuasaan. Sebagai upaya terakhirnya, ia menawarkan untuk melakukan reformasi yang tidak berbeda dengan apa yang ingin dilakukan Pakatan Harapan. Sial baginya, ini terlalu terlambat.

Menjelang akhir jabatannya sebagai perdana menteri, dia menunjukkan bahwa dia telah kehilangan kontak dengan kenyataan. Ketika UMNO membuat keputusan tegas untuk menarik dukungannya dari Perikatan Nasional dengan 14 anggotanya menulis surat kepada Raja untuk menyatakan pengunduran diri mereka, jelas bahwa hari-harinya sudah ditentukan.

Dua menterinya dari UMNO juga mengundurkan diri. Alih-alih menopang dukungan dan mengisi kekosongan tersebut, ia menunjuk Ahmad Faizal Azumu, mantan Menteri Perak yang digulingkan oleh UMNO, sebagai penasihatnya dengan status menteri.

Dia memiliki peluang, tetapi sejak awal, godaannya bergabung dengan UMNO hanyalah bunuh diri politik. Dia seharusnya melihatnya datang. Bagaimanapun, UMNO-lah yang memecatnya.

Muhyidin saat kampanye untuk Perikatan Nasional© News Strait Times

(Muhyidin saat kampanye untuk Perikatan Nasional/New Strait Times)

Entah karena cap pengkhianat ini bak cerita Judas dalam kisah Yesus atau karma, nasib Muhyiddin juga tak berjalan mulus setelah Pemilu Malaysia 20 November 2022. Walau koalisi Perikatan Nasional mampu mendapat 73 kursi parlemen, namun dia gagal mendapat kepercayaan Raja Malaysia untuk membentuk pemerintah baru. Raja Malaysia lebih memilih Anwar Ibrahim sebagai Perdana Menteri Malaysia setelah berkonsultasi dengan anggota parlemen. Mungkinkah ini harga bagi seorang Judas atau pengkhianat? (eha)

Sumber: Malaysia Kini, BBC, Stratsea, Coconuts, CNA, The Vibes, Al Jazeera,


Beri Komentar