Foto Ilustrasi Umat Muslim Di AS Melakukan Salat Berjamah (washingtonpost.com)
Dream - Troy Bagnall, pemuda 22 tahun asal Phoenix, Arizona, Amerika Serikat menjadi mualaf setelah belajar Islam melalui mata kuliah Peradaban Islam di kampusnya, Arizona State University.
Perjalanan Troy berawal saat ia banyak mendengar konflik dan peperangan di beberapa negara muslim dan negara dengan penduduk mayoritas muslim. Dia lantas melakukan riset kenapa di negara-negara tersebut sering dilanda konflik.
Karena suka dengan pelajaran sejarah, Troy juga belajar tentang sejarah muslim. Dia mengambil kelas Peradaban Islam di kampusnya. Semakin lama mempelajari budaya dan sejarah Islam, Troy semakin tertarik untuk belajar agama Islam.
Saat mengambil kelas sejarah lain yakni Sejarah Islam, Troy bertemu dengan dosen bernama Muhammad Totah yang menguasai tentang Injil, Alquran dan Taurat. Bersama Totah, Troy terlibat diskusi tentang agama-agama. Melalui diskusi tersebut, Troy akhirnya memutuskan untuk menjadi mualaf.
Selama mempelajari Islam, Troy mendapati Alquran sebagai kitab tanpa cela. Menurutnya, Alquran sangat mudah dipahami tanpa perlu perantaraan orang lain.
Troy juga mempelajari Islam dan perkembangannya hingga kini. Menurutnya, Islam adalah agama universal yang diturunkan untuk disebarkan di segala penjuru semesta alam. Namun ia merasa sedih, di negaranya Islam digambarkan sebagai agama aneh yang berasal dari Timur Tengah.
Troy akhirnya memahami bahwa konflik dan perang yang terjadi di beberapa negara Muslim dan negara dengan penduduk mayoritas muslim adalah masalah politik bukan karena Islam mengajarkan untuk berperang satu sama lain.
Banyak juga yang bertanya kepada Troy soal politik dan budaya di Timur Tengah. Troy pun menjelaskan dengan senang hati bahwa Islam berbeda dengan politik dan budaya Timur Tengah. Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian dan toleransi meski dalam batas tertentu.
" Saya menerima Islam karena saya yakin itu adalah agama yang benar dari Allah. Islam itu sederhana, lugas, dan tidak membingungkan," ujarnya tentang mengapa dia memeluk Islam.
Selain itu, Troy juga menyukai bagaimana Islam memiliki ikatan persaudaraan universal yang kuat diantara para pemeluknya.
" Saya sangat nyaman menjadi muslim. Itu membantu saya menjalani hidup lebih baik. Juga membantu saya mengatasi stres," kata Troy.
(Ism, Sumber: Onislam.net)