Pengakuan Istri Terduga Pelaku Teror Bom Sarinah

Reporter : Maulana Kautsar
Sabtu, 16 Januari 2016 12:35
Pengakuan Istri Terduga Pelaku Teror Bom Sarinah
Kepastian MA ikut dalam aksi teror itu didapat, setelah SM melihat pakaian yang dikenakan jenazah terduga teroris sama dengan milik suaminya.

Dream - Perempuan berjilbab cokelat itu terus tertunduk kala puluhan polisi dan jurnalis mendatangi rumahnya. Wajahnya tertutup masker. Lima orang polisi bertubuh tegap mengelilinginya.

Dia diminta menuju lahan kosong tepat di depan rumahnya. Lahan kosong seukuran lapangan badminton itu terdapat beberapa kuburan tanpa nisan. Di lokasi itulah beberapa kamera dan sodoran perekam suara mengarah kepadanya.

Dengan suara lirih, ia menjawab satu persatu pertanyaan dari jurnalis di bawah pohon kersen. Awalnya hanya sekitar dua hingga tiga sorotan lampu kamera, namun tak lama berselang sorotan lampu semakin banyak. Kilatan lampu kamera menyilaukan matanya.

Lima belas menit berselang, ia merungkuk. Dia jongkok. Suaranya bergetar. Sesekali terdengar isa tangis.

Kejadian di Jumat, 15 Januari 2016, malam itu tak akan terlupakan dalam ingatan SM, 31 tahun. Kabar duka yang dirasakannya belum mereda, berganti rasa terkejut.

" Saya taunya baru tadi siang (Jumat, 15 Januari 2016-red) suami sudah meninggal ketika saya pulang dari rumah sakit," kata SM di rumahnya di Kampung Sanggerhan No 22, RT 02/RW 03, Kelurahan Meruya Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat.

Suami SM, bernama MA. Pria yang terduga teroris merupakan warga asli daerah itu. Mereka telah menikah selama 14 tahun dan dikaruniai 3 orang anak.

Baju Biru Jadi Penanda >>>>>

 

1 dari 4 halaman

Baju Biru Jadi Penanda

Baju Biru Jadi Penanda © Dream

Kepastian MA ikut dalam aksi teror itu didapat, setelah SM melihat pakaian yang dikenakan jenazah terduga teroris sama dengan milik suaminya. Dia bercerita, ketika meninggalkan rumah, suaminya mengenakan baju berwarna biru. Namun, tidak mengenakan topi dan juga rompi.

" Dia pakai baju biru. Dari rumah nggak pakai ropi dan topi. Tetapi, adik saya, kemudian menunjukkan sebuah foto ketika dia pakai topi dan rompi. Memang benar baju biru itu yang dia pakai pas berangkat dari rumah," ujar SM lirih.

SM menuturkan tak menaruh kecurigaan kepada suaminya sewaktu meninggalkan rumahnya pukul 8.00 WIB. Aktivitas yang dijalani suaminya normal.

" Dia biasa aja pagi itu. Setelah sarapan langsung jalan. Bilang ke saya mau narik angkot," ujar dia.

Menurut penuturan SM, setiap harinya, MA bekerja sebagai supir angkot jurusan Mal Citraland - Green Garden. Tapi, menurut penuturan warga, Andrian (nama disamarkan), MA juga memiliki berprofesi sebagai tukang parkir restoran di Pesanggrahan

" Dia dulu juga bekerja sebagai tukang parkir di Restoran Jemahdi dan Restoran Nelayan. Kata warga juga sempat jadi satpam," kata dia.

Andrian mengatakan sosok MA kerap terlihat salat berjamaah di Masjid Al-Uswa. Selebihnya itu ia tak mengenal sosok ayah tiga putra itu. " Orangnya pendiam, jarang berbaur," ujar dia.

Sebagai sosok yang pendiam, MA jarang menerima kunjungan tamu. Menurut SM, hanya ada beberapa orang kawan MA yang datang berkunjung.

" Ya, pernah ada teman, tapi di luar aja. Saya lihat dari dalam mereka ngobrol-ngobrol biasa aja," kata dia.

Pertemanan MA dengan pelaku-pelaku teror pun tak diketahuinya. Bahkan saat ditunjukkan foto-foto dan wajah terduga teroris yang tewas dirinya tak mengenal.

" Saya nggak kenal nama-nama dan muka-mukanya," ujar dia.

Menurut SM, dalam kesehariannya, MA tak menunjukkan aktivitas yang mencurigakan. Memang, MA kerap menghadiri pengajian, tapi frekuensinya tak sering.

" Dia ikut kelompok pengajian. Tapi seminggu sekali aja. Kalau dulu sebelum nikah nggak tahu kegiatannya apa," ucap dia.

Bukan Peracik Bom >>>>>

2 dari 4 halaman

Bukan Peracik Bom

Bukan Peracik Bom © Dream

SM menolak jika suaminya dianggap peracik bom. Dia mengatakan tak ada sisa bahan peledak yang ditemukan.

" Lihat saja dirumah. Nggak ada (bahan peledak-red). Kemarin juga udah digeledah, nggak ada apa-apa," ujar dia.

" Polisi mengambil dompet, hp, dan seragam loreng mirip tentara. Dia sering pake seragam loreng itu ketika narik," kata dia sembari meneteskan air mata.

Bulir air mata itu terus menetes. Beberapa warga masyarakat mulai mendesak ke lokasi, mencari tahu apa yang dicari polisi.

SM merintih sedih. Duka yang belum hilang diganti prasangka cemas. Belum lagi ketiga anaknya yang akan mendapat stigma dari masyarakat.

Di atas kuburan tanpa nisan itu SM jongkok. Menutupi wajahnya yang penuh kesedihan.

3 dari 4 halaman

4 Jam Mencekam di Ibukota

4 Jam Mencekam di Ibukota © Dream

Dream - Teror ledakan bom yang terjadi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Kamis kemarin membuat kondisi Jakarta genting. Dalam insiden tersebut, lima orang terduga teroris yang tewas di tempat kejadian setelah adu tembak dengan polisi, serta dua orang sipil yang meninggal dunia.

Meski begitu, pemberitaan ihwal kronologis kejadian masih simpang siur. Terkait hal ini, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Mohammad Iqbal menerangkan secara rinci bagaimana kisah teror itu bermula.

Iqbal memberikan penjelasan kejadian awal aksi teror dimulai sekitar pukul 10.30 WIB. Ledakan awal terjadi di depan kafe Starbucks Coffee yang terletak di komplek Menara Cakrawala. Saat itu diduga pelaku teror meledakkan diri.

" Kami bisa bilang begitu karena ada satu korban diduga pelaku teror yang terluka di bagian perut dan lukanya identik dengan bom bunuh diri," kata Iqbal di Mapolda Metro Jaya, Jumat, 15 Januari 2016.

Selang beberapa saat, ledakan kedua terjadi di Pos Polisi (Pospol) perempatan Sarinah. Lokasi ini hanya terpaut jarak beberapa meter dari ledakan pertama.

" Saat itu bom bunuh diri yang dilakukan dua orang diduga teroris. Kejadian itu mengakibatkan seorang anggota kami (Polantas) terluka," kata Iqbal.

Iqbal menjelaskan sewaktu bom kedua meledak, warga belum tahu tengah berlangsung aksi teror di kawasan tersebut. Alhasil, masyarakat sekitar berkerumun di dekat Pospol untuk mencari tahu kejadian.

" Saat masyarakat berkerumun, muncul dua orang diduga pelaku teror. Mereka bersenjatakan laras pendek dan menembak membabi buta. Makanya, anggota kami banyak yang terluka akibat tembakan pelaku," ucap Iqbal.

Mengetahui tembakan tersebut, masyarakat langsung berhamburan menyelamatkan diri.

" Saat itu anggota kami langsung menghubungi markas menggunakan HT (Handy Talkie), yang tiba pertama kali di lokasi kejadian adalah Kepala Bagian Operasi Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Susetyo Purnomo Condro dan Kapolsek Menteng AKBP Dedy Tabrani," tutur Iqbal.

Begitu tiba di lokasi, mobil Mitsubishi Pajero yang dikendarai Susetyo langsung dihujani tembakan oleh dua orang pelaku. Sekitar pukul 11.00 WIB, pasukan gabungan Polda Metro Jaya dan Mabes Polri datang ke lokasi dan menghalau keadaan.

" Saat menembaki mobil AKBP Susetyo Purnomo Condro, pelaku juga sempat melemparkan granat ke belakang mobil, beruntung anggota kami terselamatkan," ungkap Iqbal.

Tak lama berselang, anggota gabungan kepolisian berhasil membuat dua terduga teroris terdesak dan mundur hingga pelataran cafe Starbucks.

" Baru sampai Starbucks, anggota kami berhasil menembak dua terduga teroris. Saat itu, kedua pelaku hendak melemparkan granat lagi, tapi keburu meledak sebelum sempat dilemparkan," kata dia.

Sebelum memastikan kedua pelaku tersebut tewas, tim gabungan Mabes Polri menyisir semua lantai di Gedung Cakrawala untuk memastikan situasi steril dan tidak ada lagi pelaku yang tersisa.

" Saya dan pak Kapolda yang memimpin langsung aksi sterilisasi gedung Cakrawala untuk memastikan tidak ada pelaku lagi," kata dia.

Pukul 15.00 WIB kondisi di sekitar TKP sudah kondusif. Pada pukul 15.30 WIB akhirnya Jalan Sarinah kemudian dibuka dan bisa dilalui kendaraan.

" Total peristiwa teror itu berlangsung 4 jam saja," kata dia.

4 dari 4 halaman

Siapa Bahrun Naim, Otak Pelaku Bom Sarinah?

Siapa Bahrun Naim, Otak Pelaku Bom Sarinah? © Dream

Dream - Nama Muhammad Bahrun Naim Anggih alias Naim kini mencuat usai teror ledakan bom dan penembakan di depan pusat perbelanjaan Sarinah pada Kamis kemarin. Naim dituding sebagai otak di balik serangan tersebut.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian menyebut teror kemarin merupakan bentuk tindakan jaringan yang dikepalai Naim agar dilihat eksis. Naim berambisi ingin mendirikan dan memimpin Katibah Nusantara, sayap organisasi ekstrimis Islamic State of Iran and Syria (ISIS) untuk kawasan Asia Tenggara.

" Dia ingin menjadi pemimpin untuk kelompok ISIS di Asia Tenggara," ujar Tito.

Lantas, siapakah sebenarnya sosok Muhammad Bahrunnaim Anggih alias Naim ini?

Naim merupakan pria kelahiran Pekalongan, 6 September 1983. Dia sempat terlacak bergabung dengan Jamaah Anshorut Tauhid pada sekitar September 2008.

Menurut informasi yang dihimpun Dream, Naim awalnya bergabung dengan jaringan Abdullah Sunata. Sunata ditangkap Detasemen Khusus 88 di Klaten, Jawa Tengah, pada 2011 karena diduga ikut menyembunyikan buronan Noordin M Top serta terlibat dalam beberapa aktivitas teror.

Nama Naim kemudian cukup dikenal dalam aksi teror saat pertama kali ditangkap oleh Densus 88 pada 9 November 2010. Saat itu, Naim ditangkap bersama sejumlah barang bukti berupa ratusan butir amunisi ilegal.

Naim lantas menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Surakarta pada 9 Juni 2011. Dia lalu dijatuhi vonis penjara 2 tahun 6 bulan.

Setelah bebas dari penjara, Naim kembali berkiprah bersama jaringannya. Dia kemudian diketahui bergabung dengan kelompok pendukung ISIS. Namanya sering muncul dalam pemberitaan hampir setiap kali ada WNI yang diketahui bergabung sebagai simpatisan ISIS.

Pada 2014, Naim berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Selama di Suriah, Naim aktif menulis pelbagai hal terkait teknis penyerangan di laman pribadinya www.bahrunnaim.co.

Di laman itu, dia membagi berbagai informasi mengenai Daulah Islamiyah. Yang cukup mengejutkan, Naim membagi berbagai informasi cara membuat bom hingga strategi membangun teror.

Indikasi mengenai keinginan Naim melancarkan teror sebetulnya sudah dapat diendus dalam sebuah tulisan berjudul 'Dakwah atau Futuhat' yang diunggah pada Rabu, 05 November 2014. Pada tulisan itu, Naim dengan nada mengancam akan melancarkan teror jika pemerintah Indonesia tidak menerima keberadaan mereka.

" Dalam posisinya terhadap negeri ini, ada beberapa pilihan yang dapat dipilih oleh penguasa. Pertama, menolak dan menangkapi sel-sel Daulah Islamiyah yang akan beresiko terhadap aktifnya sel-sel 'Abu Jandal dan Abu Bashier', sehingga akan meluasnya pertempuran terbuka dan perang gerilya. Kedua, menolak namun diam terhadap sel-sel Daulah Islamiyah yang melakukan dakwah hingga hadirnya misi diplomatik. Ketiga, di satu sisi menerima karena alasan diplomatik, namun di sisi lain menolak karena alasan tekanan asing. Maka akan memicu gerilya secara terbuka yang akan menimbulkan korban secara terbatas. Keempat, menerima dan melakukan penggabungan secara damai. Semoga,"  tulis dia.

Laman ini sempat ramai dikunjungi netizen pada Jumat, 15 Januari 2016 pukul 05.00 WIB. Mereka kebanyakan memberikan komentar menghujat aksi teror. Tetapi, laman ini tidak bisa diakses lagi sejak pukul 10.20 WIB.

Dugaan Naim menjadi otak dalam aksi teror ini menguat usai pernyataan dari Wakil Kepala Kepolisian (Wakapolri) Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Budi Gunawan, Kamis, 14 Januari 2016. Dia mengatakan sudah mendeteksi ada komunikasi kelompok Suriah dan kelompok Solo yang dipimpin Abu Jundi.

Kelompok ini katanya sudah membuat persiapan dengan anak-anak sel untuk melakukan serangkaian peledakan bom.

“ Yang seharusnya dimainkan pada malam Tahun Baru. Tapi kita bisa antisipasi,” kata dia.

Aksi teror kemudian terjadi pada Kamis, 14 Januari 2016. Sebuah rentetan serangan berupa ledakan dan tembakan meletus di kawasan ring 1 MH Thamrin, Jakarta Pusat. Puluhan orang menjadi korban, dan dua di antaranya meninggal serta lima orang pelaku tewas di tempat. (Ism) 

Beri Komentar