Klusterisasi Perguruan Tinggi Non Vokasi (Ristekdikti.go.id)
Dream - Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengumumkan daftar universitas yang masuk peringkat 100 besar. Dalam daftar tersebut, kampus-kampus di Pulau Jawa masih dominan di peringkat atas.
Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti, Patdono Suwignjo, mengatakan, daftar ini disusun untuk pemetaan mutu universitas di bawah naungan Kemenristekdikti. Klasterisasi ini juga dibuat untuk kebutuhan pembinaan demi meningkatkan kualitas perguruan tinggi.
" Serta memberikan informasi kepada masyarakat umum mengenai performa perguruan tinggi di Indonesia," kata Patdono, dikutip dari ristekdikti.go.id, Senin 20 Agustus 2018.

Dalam daftar ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) menempati urutan pertama, disusul Universitas Gadjah Mada (UGM) pada posisi kedua. Posisi ke tiga ditempati Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Universitas Indonesia (UI) berada di bawahnya.
Universitas Diponegoro menempati posisi kelima di atas Institut Teknologi Sepuluh NoPember Surabaya (ITS). Sementara posisi ke tujuh ada Universitas Airlangga, disusul Universitas Hasanuddin.
Urutan ke sembilan ada Universitas Padjajaran. Sedangkan posisi 10 ditempati Universitas Andalas.
Patdono mengatakan, penyusunan daftar tahun ini mengalami banyak penyesuaian berdasarkan hasil evaluasi tahun lalu. Untuk tahun ini, daftar yang disusun hanya untuk perguruan tinggi non-vokasi baik universitas, institut, maupun sekolah tinggi.
Sedangkan klasterisasi untuk perguruan tinggi vokasi, menurut Pardono, saat ini masih dalam proses pengembangan. Pihaknya menilai perlunya menemukan indikator yang tepat untuk mengukur performa perguruan tinggi vokasi.
" Jika sampai akhir 2018 nanti kami menemukan model yang cocok untuk klasterisasi perguruan tinggi vokasi, nanti akan kami umumkan," ucap Patdono.
Beberapa indikator utama yang dipakai yaitu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), Kelembagaan, Kegiatan Kemahasiswaan, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, serta inovasi. Menurut Patdono, terdapat beberapa indikator tambahan dalam penilaian tersebut.
" Perubahan atau penambahan indikator pada beberapa komponen utama dibandingkan pada tahun sebelumnya diharapkan komponen utama tersebut dapat lebih mencerminkan kondisi perguruan tinggi Indonesia sesuai dengan cakupan pada masing-masing komponen utama tersebut," ucap Patdono.






