Perjalanan Panjang Jamu Sido Muncul

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 31 Januari 2022 18:14
Perjalanan Panjang Jamu Sido Muncul
Cucu sekaligus CEO Sido Muncul kini jadi salah satu orang terkaya RI.

Dream - Mengawali usaha sebagai pemilik pemerah susu terbesar bernama Melkrey di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, di sinilah titik awal perjalanan usaha pasangan suami istri Siem Thiam Hie (28 Januari 1897-12 April 1976) dan ibu Rakhmat Sulistyo (13 Agustus 1897- 14 Februari 1983).

Namun usaha pemerah susu ini terpaksa tutup karena dampak Malese pada 1928 yang melanda dunia. Keduanya pun menetap ke Yogya pada tahun 1930. Di sini lah perjalanan Sido Muncul dimulai. Seperti apa? Berikut sejarah Sido Muncul dari tahun ke tahun:

1930
Pasangan Siem Thiam Hie dan Ibu Rakhmat Sulistyo merintis toko roti dengan nama Roti Muncul di Yogyakarta. Pada tahun yang sama, Ibu Rakhmat Sulistyo mulai meracik jamu masuk angin yang kini dikenal dengan nama Tolak Angin.

1935
Berbekal kemahiran Ibu Rakhmat Sulistyo (Go Djing Nio) dalam mengolah jamu dan rempah-rempah, pasangan ini memutuskan membuka usaha jamu di Yogyakarta

1940
Tolak Angin dalam bentuk godokan mulai dipasarkan.

1949
Akibat serangan Kolonial Belanda ke kota Yogya saat Agresi ke II, Suami dan Ibu Rakhmat Sulistyo  mengungsi dari Yogyakarta ke Semarang dan mendirikan usaha jamu dengan nama Sido Muncul. Cucunya Irwan Hidayat ikut serta.

1951
Rumah pertama pembuatan jamu Sido Muncul lahir dengan bantuan tiga karyawan perempuan di Jalan Bugangan Nomer 25, Semarang.

1953
Pabrik jamu pertama Sido Muncul didirikan di Jalan Mlaten Trenggulun, Nomer 104, Semarang. Sido Muncul sendiri bermakna “ impian yang terwujud.”

1970
Dibentuk CV Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul.

1975
Bentuk CV Sido Muncul berubah menjadi Perseroan Terbatas atau PT dengan nama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul.

1984
Generasi kedua, yang menjalankan PT Sido Muncul, Desy Sulistio memutuskan untuk memindahkan pabrik ke Lingkungan Industri Kecil di Jalan Kaligawe Semarang lantaran pabrik sebelumnya sudah kekurangan kapasitas produksi.

1997
Peletakan batu pertama pembangunan pabrik kedua, di Klepu, Ungaran, Semarang. Pembangunan pabrik ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada 21 Agustus 1997.

2000
Sido Muncul meresmikan pabrik baru pada 11 November 2000. Peresmian dilakukan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia Dr. dr. Achmad Sujudi MHA. Pada saat bersamaan, Sido Muncul menerima dua sertifikat yang setara dengan farmasi, yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

2004
Sido Muncul sudah memproduksi lebih dari 250 jenis produk. Produk unggulan itu di antaranya adalah Tolak Angin, Tolak Linu, Kuku Bima Energi, Alang Sari Plus, Kopi Jahe Sido Muncul, Kuku Bima Kopi Ginseng, Susu Jahe, Jamu Komplit, dan Kunyit Asam.

2011-2012
Produk Sido Muncul mulai diekspor ke luar negeri

2013
Sido Muncul sudah memiliki 109 distributor di seluruh Indonesia. Berbagai produk unggulan Sido Muncul juga telah di ekspor ke beberapa negara Asia Tenggara. Pada 18 Desember 2013, Sido Muncul secara resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten “ SIDO”

2015
Petinju top dunia Emmanuel ‘Manny’ Pacquiao datang ke Indonesia untuk membintangi iklan produk dari Sido Muncul.

2017
Tolak Angin dan Kuku Bima Energi dapat ijin edar di pasar Filipina

2018
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mendirikan perusahaan baru di Nigeria dengan nama Muncul Nigeria Limited pada 5 Januari 2018.

2019
Sido Muncul memperoleh sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia untuk 274 produk. Sertifikat yang diterima pada 6 Maret 2019 ini terbagi dalam empat jenis produk, yaitu Jamu, Suplemen dan Bahan Suplemen, Minuman dan Bahan Minuman serta permen.

2021
Cucu pendiri sekaligus Presiden Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, menurut majalah Forbes tahun 2021 berada di peringkat ke 28 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 1,58 miliar dolar AS atau Rp 22,6 triliun. Mengalahkan anak pendiri Astra, Edwin Soeryadjaya (Saratoga Investama Sedaya Grup)  di peringkat 29 dan  Hary Tanoesoedibjo (MNC Grup) di peringkat 40. (eha)


Sumber: Sido Muncul, Forbes

Beri Komentar