Kang Cece (kaos Biru) Bersama Petani Warga Desa Tanjung Hanau (Dok Humas APU)
Dream - Desa Tanjung Hanau, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah sebenarnya punya lahan yang cukup luas. Sayang lahan itu dibiarkan menganggur. Sebagian besar warga setempat memang tidak punya tradisi bercocok tanam.
Lokasi desa ini sangat terpencil. Untuk bisa sampai ke sana harus menggunakan perahu kecil berbahan bakar solar.
Desa itu dihuni oleh sekitar 120 kepala keluarga yang tinggal di bibir Sungai Seruyan. Mereka menggantungkan hidup dari sungai, hutan, serta perkebunan sawit, dan tidak terbiasa dengan kegiatan bertani di lahan tetap.
Ini berpengaruh terhadap pola makan mereka yang didominasi ikan. Sayur ataupun lauk dari tanaman seperti tempe menjadi barang mewah bagi mereka.
Jika ingin memakan sayur, warga harus menunggu kelotok penjual sayur yang datangnya seminggu sekali dari Sampit. Jika kelotok tidak datang, keinginan warga makan sayur jelas tidak terwujud.
Hal ini membuat Cece Saepurrandom, petani asal Sukabumi tergerak. Sejak dua tahun lalu, dia mulai menggarap lahan menganggur Desa Tanjung Hanau dengan bergabung menjadi Dai Sahabat Masyarakat (Dasamas) di program Indonesia Gemilang yang digalakkan Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al Azhar Peduli Ummat (APU).
Cece hanya seorang lulusan Sekolah Dasar. Meski begitu, dia sangat berpengalaman di dunia pertanian. Kemampuan bertani dia peroleh dari orangtuanya dan otodidak. Dengan kemampuan itu, pria yang akrab disapa Kang Cece tersebut mengajak warga untuk bercocok tanam.
Melihat lahan yang begitu luas menganggur, Kang Cece tidak mencoba menggurui warga. Dia mengolah sendiri sebagian lahan menganggur tersebut. Harapannya, kebun yang dia olah akan menjadi percontohan dan membuat warga tertarik bercocok tanam.
" Pertama saya bikin demplot pertanian sendiri. Saya percaya kalau nanti hasilnya bagus banyak warga yang datang dan bertanya bagaimana caranya. Nah, dari situ baru saya ajarkan mereka agar ke depannya mereka terapkan di lahan masing-masing," kata Cece.
Di tahap awal penanaman, kata Cece, warga tidak begitu tertarik. Mereka tidak pernah bercocok tanam di lahan menetap, dan terbiasa dengan ladang berpindah. Alhasil, mereka mengabaikan aspek perawatan tanaman yang dapat berdampak pada hasil yang memuaskan.
Dalam dua bulan, kebun Cece yang berisi tanaman seperti cabe, tomat, pare, bawang, mentimun, terong, dan tanaman lainnya tumbuh begitu subur. Melihat pertumbuhan kebun Cece, warga sangat tertarik. Bahkan saat mereka melihat terong yang tumbuh dan berbuah sangat gemuk.
Warga lantas datang berduyun-duyun ke kebun Cece untuk sekadar melihat-lihat. Sebagian dari mereka membeli sayur di kebun tersebut untuk kebutuhan dapur. Mereka kini tidak perlu lagi menunggu kelotok untuk bisa mendapat sayuran.
Lebih mengagumkan, warga mulai memanfaatkan lahan pekarangan rumah mereka dengan membuat dapur hidup. Hasilnya, mereka cukup mengambil sayuran dari pekarangan.
" Alhamdulillah, Kang Cece datang membawa keberkahan, sekadar terong tuk sayur tak usah lagi menunggu kelotok penjual sayuran yang tak pasti datangnya," kata seorang warga Desa Tanjung Hanau.
Hal senada diungkapkan petani setempat, Sapri. Dia mengaku belajar banyak mengenai teknik pertanian dari Cece.
" Keberadaan Kang Cece di desa kami merupakan anugerah bagi masyarakat di sini. Ilmu pertanian yang beliau ajarkan sangat membantu meningkatkan produktivitas hasil pertanian kami," kata Sapri.
" Bimbingan dan arahan dari beliau juga membuat kami semakin yakin bahwa dengan pertanian kami bisa mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga kami," ucap Sapri.
Sumber: Humas Al Azhar Peduli Ummat