Polisi Mutilasi 2 Anak Kandung untuk Persembahan, Sesat?

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 26 Februari 2016 18:44
Polisi Mutilasi 2 Anak Kandung untuk Persembahan, Sesat?
"Kata istri pelaku, Windri, anaknya dibunuh untuk persembahan," kata dia.

Dream - Polisi pemutilasi dua anak kandungnya di Melawi, Kalimantan Barat, Brigadir Petrus Baku, diduga membunuh kedua anaknya untuk sebuah persembahan. Pernyataan mengejutkan itu diungkapkan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.

Badrodin mengatakan, pelaku sempat memberi pesan kepada istrinya aksi kejinya itu dilakukan untuk persembahan. Tetapi, tak dijelaskan persembahan untuk apa.

" Kata istri pelaku, Windri, anaknya dibunuh untuk persembahan. Rencananya, Windri, juga akan dihabisi," kata Badrodin, di Jakarta, Jumat, 27 Februari 2016.

Windri, menurut Badrodin, sempat meminta pelaku untuk diambilkan minuman. Untungnya, Windri dapat melarikan diri.

‎" Sebelum saya kamu bunuh, saya minta diambilkan minum air putih. Lalu diambilkan dan dia lari keluar sehingga dibantu oleh masyarakat‎," kata Badrodin menirukan permintaan Windri.

Badrodin menambahkan, berdasarkan keterangan istri pelaku, Windri, keadaan Petrus dalam beberapa hari belakangan memang menunjukkan keanehan. Kelakuan Petrus tidak wajar untuk ukuran orang normal.

" Yang bersangkutan sering mengalami semacam kerasukan. Istrinya juga membenarkan jika dalam beberapa hari ini sering mengigau semacam dikejar-kejar," ucap dia. (Ism) 

 

 

1 dari 3 halaman

Polisi Mutilasi 2 Anak: Terjadilah Padaku Seperti Perkataanmu

Polisi Mutilasi 2 Anak: Terjadilah Padaku Seperti Perkataanmu © Dream

Dream - Anak adalah permata orangtua. Kasih sayang, jelas akan diberikan kepada mereka. Tetapi itu sepertinya tak berlaku bagi Brigadir Petrus Bakus. Anggota Sat Intelkam Polres Melawi, Kalimantan Barat itu tega memutilasi dua anaknya yang masih balita.

Menurut kesaksian istri pelaku, Windri, sebelum peristiwa itu terjadi, Brigadir Petrus sempat memandikan Fabian dan Amora kedua anak mereka.

Tetapi, jelang tengah malam, Windri yang tidur terpisah dengan pelaku, terbangun dan melihat pelaku berdiri di depannya sambil memegang parang.

" Mereka baik. Mereka mengerti. Mereka pasrah. Maafkan papa ya, Dik," kata Windri menirukan ucapan pelaku.

Merasa aneh, Windri kemudian melihat ke dalam kamar yang digunakan pelaku dan dua anaknya. Di sana dia menyaksikan kedua anaknya sudah dalam keadaan tewas.

Windri pun segera meminta bantuan anggota satuan Intelkam Polres Melawi, Brigadir Sukadi. Windri diamankan ke dalam rumahnya.

Tak berselang lama, Brigadir Sukadi melihat pelaku keluar rumah dan duduk di teras rumahnya. Pelaku yang duduk kemudian mengucapkan kata-kata yang aneh.

" Sudah saya bersihkan, Bang. Saya menyerahkan diri," kata pelaku.

Tim Identifikasi Polres Melawi dan SPKT Polres Melawi tiba di TKP pada pukul 00.45 segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Hasil olah TKP cukup mengejutkan.

" Posisi kedua korban berada di atas kasur. Kondisi beberapa bagian tubuh terpisah, ada luka bekas benda tajam di leher," tulis Kapolres Melawi, Ajun Komisaris Besar Polisi Cornelis MS Jumat, 27 Februari 2016.

Dalam olah TKP, polisi juga menemukan sejumlah pisau dalam keadaan bersih, satu buah batu asah, dan selembar kertas di atas meja makan dengan tulisan, " Terjadilah Padaku Seperti Perkataanmu."

Kasus yang kini ditangani Polres Melawi ini terus mencari motif pembunuhan.

Sementara ini, polisi menduga kejadian mengerikan ini diduga disebabkan oleh perselisihan suami istri. Sebab, menurut pengakuan Windri, dia dan pelaku sempat cekcok pada tiga hari yang lalu. (Ism) 

2 dari 3 halaman

Cemburu, Pria Mutilasi Kekasih Baru Mantan Pacar

Cemburu, Pria Mutilasi Kekasih Baru Mantan Pacar © Dream

Dream - Seorang pria di Shanghai baru-baru ini dituduh telah melakukan pembunuhan terhadap kekasih baru mantan pacarnya.

Tidak hanya membunuh, tersangka bernama Zhu Maohua, 40, juga memutilasi tubuh korban dan memasukkannya ke dalam kantong sampah plastik.

Jaksa penuntut di Putuo mengatakan bahwa tersangka diyakini telah menikam Yuan Yi hingga tewas pada 31 Januari, setelah terjadi pertengkaran hebat dengan pria tersebut.

Menurut Shanghai Daily, Zhu masuk ke apartemen mantan pacarnya saat dia keluar dan menikam Yuan beberapa kali di perut sebelum membungkus tubuhnya. Setelah itu dia memasukkan mayat Yuan di mobil yang sudah disiapkan.

Kembali ke apartemennya di Changxing Island, Zhu memutilasi tubuh Yuan dengan gergaji listrik dan menaruh potongan-potongannya ke kantong sampah plastik.

Keduanya dikabarkan sempat bentrok beberapa pekan sebelum pembunuhan terjadi.

Saat itu Zhu melihat Yuan datang ke apartemen mantan pacarnya. Zhu memperingatkan mantan pacarnya bahwa dia akan membunuh orang.

Ancaman tersebut ternyata dibuktikan oleh Zhu dengan menghabisi dan memutilasi Yuan.

(Sumber: shanghaiist.com)

3 dari 3 halaman

Unta Dimutilasi, Dipaksa Ikut Mengemis

Unta Dimutilasi, Dipaksa Ikut Mengemis © Dream

Dream - Ada-ada saja ulah para pengemis untuk menarik belas kasihan dari orang lain. Banyak di antara mereka pura-pura cacat. Sebagian lagi mengaku-ngaku keluarganya tengah dirawat di rumah sakit dan butuh uang.

Pengemis di Tiongkok melakukan tindakan ekstrem. Dia mengunakan cara yang dinilai kelewat batas. Untuk mendapat simpati orang, dua pengemis di Negeri Tirai Bambu itu tega memutilasi kaki seekor unta. Binatang gurun itu dipaksa mengikuti pengemis bersujud di pinggir jalan.

Dikutip Dream dari laman Malaysia Chronicle, Rabu 22 Oktober 2014, foto-foto kekejaman itu dimuat oleh sejumlah media di China. Menurut media-media setempat, unta malang itu diajak mengemis di tempat-tempat keramaian. Ikut bersujud seperti pengemis yang membawanya.

Unta Dimutilasi, Dipaksa Ikut Mengemis

Polisi China telah melakukan penyelidikan. Mereka menemukan unta dari wilayah Fuzhou yang dibawa mengemis itu kondisinya sangat memprihatinkan. Unta yang terbaring di atas aspal itu tak punya kuku lagi. Polisi menduga kedua pengemis yang membawanya telah memotong kuku itu secara brutal.

Berita dari Fuzhou News pada bulan April silam melaporkan sepasang pengemis ini mampu meraup ratusan yuan, hanya dalam beberapa jam. Dengan cara meminta-minta sambil  membawa unta yang dipotong pada bagian kakinya itu.

Unta liar merupakan salah satu binatang yang paling terancam keberadaanya. Namun, menurut media setempat, pemerintah Tiongkok tidak melakukan perlindungan terhadap unta-unta itu. Kini hanya ada sekitar 600 ekor saja di Gurun Gobi dan 800 di padang pasir Mongolia. (Ism)

Beri Komentar