Dream - Presiden Republik Indonesia Keenam, Susilo Bambang Yudhoyono berkeluh kesah terkait kondisi negara belakangan. Dia mengungkapkan kegundahannya itu melalui unggahan di akun Twitter milik dia.
Keluh kesah tersebut mengenai banyaknya fitnah yang beredar saat ini. Dia mengeluhkan penyebar 'hoax' saat ini tengah berkuasa.
" Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar " hoax" berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang? *SBY*," demikian unggahan SBY di akun @SBYudhoyono, diakses pada Jumat, 20 Januari 2017.
Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar " hoax" berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang? *SBY*
— S. B. Yudhoyono (@SBYudhoyono)20 Januari 2017
Hingga pukul 17.03 WIB, unggahan tersebut sudah diretweet sebanyak 2.891 kali dan disukai 2.038 pengguna Twitter. Selain itu, unggahan tersebut telah dibalas sebanyak 1.500 kali.
© Dream
Ragam reaksi netizen terhadap cuitan SBY pun bermunculan.
" @SBYudhoyono Keliatan sekali emang pak kelasnya, di era pak SBY gak ada kisruh sampai tercerai berai kayak skrg ini... Hoax bikin rusuh," tulis Pemilik akun @corazon_rizky
Dukungan juga muncul dari pemilik akun @Haryoarditya yang menganggap kehidupan selama 10 tahun pemerintah SBY penuh dengan kedamaian.
" @SBYudhoyono justru beliau sudah bercermin, 10 thn masa pmerintahan beliau adem ayem... Gk ada benturan antar rakyat kyak skrg," tulisnya.
Di pihak lain, netizen justru menilai adanya perubahan yang dirasakan sejak kepemimpinan presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla.
" mmg kita jujur msh ada kekurangan,tp kt jg hrs jujur slm 2 thn lbh kepemimpinan jkw-jk sdh ada geliat perubahan," kata pemilik akun @bangputra85.
© Dream
Dream - Sebuah unggahan foto Ani Yudhoyono menjawab pertanyaan dari lelucon lama. Siapakah orang yang berani memegang kepala Presiden?
Melalui akun Instagramnya, Ani Yudhoyono mengunggah foto seorang pria berbaju batik, sedang memegang kepala presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono.
" Bapak dari Garut inilah yang paling berani pegang kepala SBY," tulis Ani melengkapi foto yang diunggahnya beberapa hari lalu.
Ternyata, pria dari Garut itu merupakan kapper langganan SBY sejak lama. Berbekal gunting dan sisir, ia terlihat memotong rambut SBY di bagian kanan depan.
Berbeda dengan jasa pemotong rambut lainnya, pencukur itu terlihat sangat rapi. Memakai setelan batik resmi berwarna coklat tua, dengan cincin batu akik melingkar di tangan kanannya. Sedangkan SBY tampak fokus memandang depan dengan penutup baju putih.
Menanggapi foto itu, para netizen riuh berkomentar. Bahkan salah satu dari mereka melontarkan candaan untuk membuat paguyuban pencukur rambut dari Garut.
© Dream
Dream - Menanggapi foto itu, para netizen riuh berkomentar. Bahkan salah satu dari mereka melontarkan candaan untuk membuat paguyuban pencukur rambut dari Garut.
Sebagian lagi ikut berkomentar yang tak kalah lucunya, seperti yang dituliskan akun @aaadiiits " Pegang2 kepala pak SBY, ga sopan bgt ini bapak.. wkwkwkwkwk."
@elisantrenku " Hihiii,, gagal fokus sama batiknya tukang cukur."
@yussiandini " Wajahnya bapak yg motong rambut tegang . salam hormat untuk bapak SBY dan ibu Ani semoga sehat selalu."
@gunawanh28 " oh tebak2an pas kecil siapa yg brani pegang kepala presiden.ternyats jawabannya bapak garut ini..hehe."
© Dream
Dream - Mantan Presiden Ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara soal pasal pencemaran yang kembali akan dihidupkan pemerintah Joko Widodo.
SBY menilai demokrasi dan kebebeasan penting namun jangan melampaui batas.
" Demokrasi juga perlu tertib, tapi negara tak perlu refresif," kata SBY dalam akun Twitter resminya, @SBYudhoyono, Minggu, 9 Agustus 2015.
Selama 10 tahun menjabat presiden, SBY mengaku ada ratusan perkataan dan tindakan yang menghina, tak menyenangkan, dan mencemarkan nama baginya.
" Foto resmi Presiden dibakar, diinjak2, mengarak kerbau yg pantatnya ditulisi " SBY" & kata2 kasar penuh hinaan di media & ruang publik *SBY*," kenang SBY dalam akunnya.
Andai SBY menggunakan haknya untuk mengadukan ke polisi, dia memperkirakan akan ada ratusan orang diperiksa dan dijadikan tersangka.
" Barangkali saja juga justru tidak bisa bekerja, karena sibuk mengadu ke polisi. Konsentrasi saya akan terpecah," katanya.
Dari pengamatannya, SBY mengatakan tindakan-tindakan penghinaan semacam itu sudah hampir tidak ada. Unjuk rasa disertai penghinaan kepada presiden, maupun berita kasar di media menurut SBY sudah tak ada.
" Ini pertanda baik. Perlakuan " negatif" berlebihan kpd saya dulu tak perlu dilakukan kpd Pak Jokowi. Biar beliau bisa bekerja dgn baik," kata SBY.
Dengan sistem demokrasi, setiap penduduk memang diakui bebas melakukan kritik termasuk kepada presiden. Namun hal itu tidak harus dilakukan dengan menghina dan mencemarkan nama baiknya.
Sebaliknya, presiden juga bisa menunaikan haknya untuk menuntut seseorang yang menghina dan mencemarkan nama baiknya. " Tapi janganlah berlebihan," ujar SBY.
Seraya berpesan pasal penghinaan, pencemaran nama baik, dan tidak tidak menyenangkan tetap ada karetnya. Artinya, ada unsur subyektivitasnya.
Advertisement