Tak Diduga, Begini Jadinya Jika Astronot Peras Handuk Basah di Luar Angkasa

Reporter : Editor Dream.co.id
Minggu, 26 Juni 2022 11:19
Tak Diduga, Begini Jadinya Jika Astronot Peras Handuk Basah di Luar Angkasa
Cara astronot melakukan kegiatan sehari-hari menggelitik rasa penasaran karena mereka hidup tanpa gravitasi.

Dream - Segala hal tentang astronot yang tinggal di luar angkasa memang selalu menarik untuk diulas. Bagaimana cara melakukan kegiatan sehari-hari menggelitik rasa penasaran karena mereka hidup tanpa gravitasi.

Astronot dari Badan Antariksa Amerika Serikat yang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) kerap kali membagikan video aktivitas mereka. Kini, giliran astronot dari The Canadian Space Agency (CSA), Chris Hadfield, yang membagikan video eksperimen sederhana di ISS.

Dalam video yang pernah viral tahun 2013 silam itu Hadfield melakukan percobaan sederhana dengan handuk basah. Dia memeras handuk basah dengan kedua tangannya.

1 dari 8 halaman

Karena kurangnya gravitasi, air yang dikeluarkan dari handuk tidak jatuh ke bawah. Sebaliknya, air tersebut tetap menempel pada handuk, seolah membentuk tabung di sekeliling handuk yang diperas.

Astronot peras handuk basah© Twitter @wonderofscience

" Jika saya melepaskan kain itu dengan hati-hati, air akan menempel di tangan saya," kata Hadfield dalam video yang kembali viral setelah diunggah ke Twitter oleh akun Wonder of Science.

Dia menggambarkan air tersebut seperti jel di tangan. Dia juga menjelaskan bahwa handuk itu tetap mengambang. " Seperti mainan kunyah anjing, basah kuyup," tambah dia.

2 dari 8 halaman

3 dari 8 halaman

Kelamaan di Luar Angkasa, Otak Astronot Berubah Bentuk dan Alami Pengaturan Ulang

Dream - Otak manusia ternyata terus berkembang di mana pun dia berada. Tidak terkecuali ketika tinggal cukup lama di luar angkasa.

Dalam sebuah studi terbaru, para peneliti di University of Antwerp menemukan fakta mengejutkan mengenai otak para astronot.

Baru-baru ini mereka mempelajari otak dari 12 kosmonot Rusia yang bekerja selama hampir enam bulan di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Ternyata, terdapat perubahan mikrostruktur yang signifikan pada bagian yang mengatur komunikasi antara otak dan anggota tubuh selama para astronot bertugas di luar angkasa.

Meski akhirnya kembali ke kondisi awal, tapi perubahan ini bertahan selama tujuh bulan setelah mereka kembali ke Bumi.

4 dari 8 halaman

Dilaporkan pertama kali oleh ScienceAlert, para peneliti University of Antwerp awalnya melakukan pemindaian difusi MRI (magnetic resonance imaging) untuk mempelajari struktur dan konektivitas otak sesaat sebelum dan sesudah penerbangan mereka ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Otak astronot© Indiatimes.com

Para astronot dari Rusia ini tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional tersebut selama kurang lebih 172 hari atau hampir enam bulan.

Dari pemindaian difusi MRI itu, tim peneliti menemukan perubahan dalam saluran saraf yang berkaitan dengan fungsi sensorik dan motorik. Artinya otak para astronot ini seolah di-reset atau mengalami pengaturan ulang.

5 dari 8 halaman

Para peneliti yakin perubahan tersebut terjadi karena astronot telah beradaptasi dengan lingkungan yang memiliki gaya berat mikro selama berada di luar angkasa.

Selama penelitian, para iluwan menggunakan teknik pencitraan otak yang disebut traktografi serat. Menggunakan data dari difusi MRI, tim peneliti memakai teknik rekonstruksi 3D saluran saraf untuk mempelajari bagaimana otak terstruktur dan tersambung.

Meskipun penelitian sebelumnya telah menyebutkan adanya perubahan pada otak astronot, namun dengan traktografi serat, para peneliti dapat melihat lebih detail hubungan aktual antara saluran saraf dan perubahannya.

6 dari 8 halaman

Para peneliti awalnya mengira mereka hanya menemukan perubahan pada corpus callosum. Namun analisis lebih teliti memperlihatkan adanya pelebaran pada ventrikel otak.

Ventrikel adalah ruangan berisi cairan di dalam otak. Ventrikel saling terhubung satu sama lain oleh serangkaian tabung.

Sementara corpus callosum adalah seikat serabut saraf yang terdapat di antara belahan otak kiri dan kanan. Serabut saraf ini saling terhubung dan memungkinkan komunikasi antara kedua belahan otak tersebut.

7 dari 8 halaman

" Perubahan struktural yang awalnya kami temukan di corpus callosum sebenarnya diakibatkan oleh pelebaran ventrikel yang menyebabkan pergeseran anatomis jaringan saraf yang berdekatan.

" Di mana awalnya dianggap hanya ada perubahan struktural di otak, tapi ternyata terjadi perubahan bentuk. Fakta tersebut telah membuat temuan ini dalam perspektif yang berbeda," jelas Floris Wuyts, ahli saraf dari University of Antwerpen di Belgia.

Perubahan dalam jaringan otak bukanlah hal yang aneh karena kemampuan transformasinya memungkinkan kita untuk mempelajari hal-hal baru, mengembangkan ingatan baru, dan sebagaianya.

8 dari 8 halaman

Namun para peneliti tidak tahu dengan pasti apakah pengaturan ulang otak ke-12 astronot tersebut berdampak positif atau negatif.

Para peneliti menganggap penemuan ini mengurangi misteri dari sistem kerja otak yang selama ini sulit diamati.

" Karena penelitian ini masih tahap awal, kami belum bisa menyusun puzzle secara utuh. Namun hasil penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman kita tentang apa yang terjadi di otak para penjelajah ruang angkasa secara keseluruhan.

" Sangat penting untuk mempertahankan penelitian ini dengan mencari perubahan otak yang disebabkan penerbangan luar angkasa dari perspektif yang berbeda dan menggunakan teknik yang berbeda," pungkas Wuyts.

Sumber: India Times

Beri Komentar