Jasad Mbah Soewardi (Foto: Nusadaily.com)
Dream - Jasad Mbah Soewardi, marbot masjid di Dusun Truko, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur, masih utuh meski sudah dimakamkan selama 30 tahun.
“ Mbah Soewardi dulunya sering ke masjid. Beliau juga sebagai Kepala Dusun yang baik. Setiap harinya selalu membaca Al-Qur'an dan doa-doa Nurbuat,” kata Suhaili, dikutip dari nusadaily.com, Selasa 22 Desember 2020.
Suhaili yakin jasad Mbah Soewardi tetap utuh karena amalan-amalannya selama hidup, atas kehendak Allah. Utuhnya jasad Mbah Soewardi juga menjadi bukti kebesaran Allah.
“ Bukan hanya sekedar cerita-cerita saja. Orang soleh dan taat beribadah akan dijaga jasadnya,” kata Suhaili.
Suhaili yang kini berusia 72 tahun mengaku mengenal baik sosok mbah Soewardi. Semasa hidupnya dulu, kata dia, Mbah Soewardi dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat yang kharismatik.
Mbah Soewardi, tambah Suhaili, tercatat sebagai salah satu tokoh yang getol menumpas pemberontakan PKI di wilayah Kecamatan Sempu.
“ Beliau kan masih keturunan bangsawan. Gelarnya kan Raden. Jadi benar kalau beliau itu dulu pejuang pemberantas PKI. Kalau jaman dulu, ya jangan macam-macam dengan si Mbah Soewardi ini,” tutur Suhaili.
Sumber: nusadaily.com
Dream - Kisah tragis dialami Che Lewis (29) dan Adlay Lewis (54), anak dan bapak asal Port of Spain, Trinidan and Tobago. Keduanya tewas dalam sebuah insiden di dekat rumah mereka.
Sudah begitu, jasad Che Lewis ditolak oleh gereja saat hendak dimakamkan. Sebab, keluarga mereka tidak meletakkan jasad keduanya di dalam peti mati.
Pemakaman yang digelar pada 25 November 2020 itu menarik perhatian banyak orang karena disiarkan secara online di media sosial.
Jenazah Che dibawa ke gereja St. Evangelist dalam posisi duduk. Tak hanya itu, jasad Che juga dibawa dengan mobil jenazah tanpa atap agar orang-orang bisa melihat.
Setibanya di Gereja St John the Evangelist, jenazah Che ditolak masuk oleh staf. Tidak seperti Che, sang ayah, Aldylay, dimasukkan ke dalam peti mati.
Setelah upacara pemakanan selesai, ayah dan anak itu akhirnya bisa dikebumikan di Permakaman St John the Evangelist.
Salah seorang petugas polisi setempat, Brent Batson, kepada Trinidad Express, mengaku kecewa dengan perilaku semberono yang dilakukan Rumah Duka Dennie, tempat Che dibalsamkan sebelum dimakamkan.
" Membawa jenazah dengan cara yang berbahaya merupakan sebuah pelanggaran. Pelakunya bisa dikenakan hukuman denda £ 750 (setara Rp14,2 juta)," ujar Brent.
Menurut Brent, polisi akan melakukan penyelidikan terhadap perilaku perusahaan pemakaman tersebut.
alam video yang beredar di media sosial, terlihat jenazah Che duduk di kursi berwarna cokelat di luar Gereja St John the Evangelist. Ia terlihat mengenakan celana panjang putih dengan setelan jas lengkap beserta dasinya.
Lantaran diposisikan sedemikian rupa, banyak orang yang tak menyadari bahwa pria itu sudah meninggal. Bahkan sebagian orang mengira Che sedang menghadiri pemakaman.
Beberap orang bahkan memarahi jenazah itu karena tidak patut protokol kesehatan dengan tidak menggunakan masker di tempat umum.
Sumber: Mirror.co.uk