Terungkap, Ini Pria yang Paling Berani Pegang Kepala SBY

Reporter : Ratih Wulan
Selasa, 3 Januari 2017 15:49
Terungkap, Ini Pria yang Paling Berani Pegang Kepala SBY
Ternyata cuma laki-laki dari Garut ini saja yang berani memgang kepala presiden RI yang keenam.

Dream - Sebuah unggahan foto Ani Yudhoyono menjawab pertanyaan dari lelucon lama. Siapakah orang yang berani memegang kepala Presiden?

Melalui akun Instagramnya, Ani Yudhoyono mengunggah foto seorang pria berbaju batik, sedang memegang kepala presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono.

" Bapak dari Garut inilah yang paling berani pegang kepala SBY," tulis Ani melengkapi foto yang diunggahnya beberapa hari lalu.

Ternyata, pria dari Garut itu merupakan kapper langganan SBY sejak lama. Berbekal gunting dan sisir, ia terlihat memotong rambut SBY di bagian kanan depan.

Berbeda dengan jasa pemotong rambut lainnya, pencukur itu terlihat sangat rapi. Memakai setelan batik resmi berwarna coklat tua, dengan cincin batu akik melingkar di tangan kanannya. Sedangkan SBY tampak fokus memandang depan dengan penutup baju putih.

Menanggapi foto itu, para netizen riuh berkomentar. Bahkan salah satu dari mereka melontarkan candaan untuk membuat paguyuban pencukur rambut dari Garut.

 

1 dari 2 halaman

Canda Netizen

Dream - Menanggapi foto itu, para netizen riuh berkomentar. Bahkan salah satu dari mereka melontarkan candaan untuk membuat paguyuban pencukur rambut dari Garut.

Sebagian lagi ikut berkomentar yang tak kalah lucunya, seperti yang dituliskan akun @aaadiiits " Pegang2 kepala pak SBY, ga sopan bgt ini bapak.. wkwkwkwkwk."

@elisantrenku " Hihiii,, gagal fokus sama batiknya tukang cukur."

@yussiandini " Wajahnya bapak yg motong rambut tegang . salam hormat untuk bapak SBY dan ibu Ani semoga sehat selalu."

@gunawanh28 " oh tebak2an pas kecil siapa yg brani pegang kepala presiden.ternyats jawabannya bapak garut ini..hehe."

 

2 dari 2 halaman

Curhat SBY 10 Tahun Hidup Penuh Hinaan

Dream - Mantan Presiden Ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara soal pasal pencemaran yang kembali akan dihidupkan pemerintah Joko Widodo.

SBY menilai demokrasi dan kebebeasan penting namun jangan melampaui batas.

" Demokrasi juga perlu tertib, tapi negara tak perlu refresif," kata SBY dalam akun Twitter resminya, @SBYudhoyono, Minggu, 9 Agustus 2015.

Selama 10 tahun menjabat presiden, SBY mengaku ada ratusan perkataan dan tindakan yang menghina, tak menyenangkan, dan mencemarkan nama baginya.

" Foto resmi Presiden dibakar, diinjak2, mengarak kerbau yg pantatnya ditulisi " SBY" & kata2 kasar penuh hinaan di media & ruang publik *SBY*," kenang SBY dalam akunnya.

Andai SBY menggunakan haknya untuk mengadukan ke polisi, dia memperkirakan akan ada ratusan orang diperiksa dan dijadikan tersangka.

" Barangkali saja juga justru tidak bisa bekerja, karena sibuk mengadu ke polisi. Konsentrasi saya akan terpecah," katanya.

Dari pengamatannya, SBY mengatakan tindakan-tindakan penghinaan semacam itu sudah hampir tidak ada. Unjuk rasa disertai penghinaan kepada presiden, maupun berita kasar di media menurut SBY sudah tak ada.

" Ini pertanda baik. Perlakuan " negatif" berlebihan kpd saya dulu tak perlu dilakukan kpd Pak Jokowi. Biar beliau bisa bekerja dgn baik," kata SBY.

Dengan sistem demokrasi, setiap penduduk memang diakui bebas melakukan kritik termasuk kepada presiden. Namun hal itu tidak harus dilakukan dengan menghina dan mencemarkan nama baiknya.

Sebaliknya, presiden juga bisa menunaikan haknya untuk menuntut seseorang yang menghina dan mencemarkan nama baiknya. " Tapi janganlah berlebihan," ujar SBY.

Seraya berpesan pasal penghinaan, pencemaran nama baik, dan tidak tidak menyenangkan tetap ada karetnya. Artinya, ada unsur subyektivitasnya.

Beri Komentar