Ilustrasi
Dream - Bocah balita berlarian sambil membawa botol minum, kemudian tumpah dan bajunya langsung basah. Orangtua reflek memarahinya dengan kata-kata " dasar ceroboh/ bodoh/ telinga bebal" dan segala macam kata-kata menyakitkan.
Belum lagi memanggil anak dengan julukan buruk, seperti " gendut" , " hitam" , " dekil" dan ungkapan jelek lainnya. Mungkin terdengar candaan, namun hal-hal di atas termasuk pelecehan
verbal. Pelecehan verbal ini sebenarnya bermaksud untuk memanipulasi, menyakiti mengintimidasi, memalukan dan meremehkan.
Jangan sampai sebagai orangtua Anda melakukannya pada buah hati kesayangan. Masih banyak cara untuk mendisiplinkan anak, bukan dengan melecehkannya. Jika anak terus menerus mendapat pelecehan verbal, ini sederet efek menyedihkan yang mungkin muncul.
Merusak otak
Pelecehan verbal merusak otak anak yang sedang berkembang, yang secara harfiah menyebabkan perubahan pada strukturnya. Anak-anak menginternalisasi pesan yang disampaikan dalam bentuk perkataan buruk. Anak juga belum memiliki kematangan psikologis untuk bereaksi. Faktanya, sirkuit saraf untuk rasa sakit emosional dan fisik adalah satu dan sama.
'Menormalkan' pelecehan
Orang bisa menormalkan perilaku kasar karena beberapa alasan. Bisa jadi karena kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi pada masa kanak-kanak dan yang menjadi korban pelecehan
verbal di keluarga asal mereka.
Menimbulkan masalah psikologis
Anak yang sekali mendapat perkataan kasar, bentakan atau julukan buruk, trauma yang dialaminya bisa terjadi selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup. Mereka akan dengan
jelas mengingat perlakuan buruk yang diterimanya.
Hal ini bisa menimbulkan dendam dan kebencian, yang jika tak diatasi bisa menimbulkan masalah psikologis. Rasa percaya diri yang rendah, menarik diri depresi dan sinis melihat lingkungannya. Jadi, hati-hati dengan perkataan yang keluar dari mulut saat harus berhadapan dengan anak-anak.
Sumber: Psychology Today
Advertisement