Seorang WNI Terlibat Rencana Pembunuhan Perdana Menteri Malaysia

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 30 Maret 2021 12:00
Seorang WNI Terlibat Rencana Pembunuhan Perdana Menteri Malaysia
Indonesia kembali jadi sorotan dunia atas aksi terorisme. Kali ini, salah seorang WNI terlibat rencana pembunuhan Mahatir Muhammad.

Dream - Aksi teror di Indonesia kembali disorot mata dunia. Setelah kejadian bom bunuh diri di Gereja Katerdal Makassar, seorag warga negara Indonesia (WNI), terungkap terlibat rencana pembunuhan para pejabat Malaysia, termasuk Perdana Menteri Mahathir Mohamad pada Januari 2020.

Asisten Direktur Antiterorisme di Cabang Khusus PDRM, Azman Omar, mengatakan, pada 6 Januari 2020, telah menagkap Wan Amirul Azlan bin Jalaluddin, seorang warga Malaysia. Tersangka merupakan pemimpin kelompok Anshorullah At-Tauhid yang berdiri pada Oktober 2019.

“ Saat diinterogasi, Wan Amirul mengaku bermaksud melancarkan serangan terhadap beberapa pemimpin pemerintahan dengan cara menikam mereka dengan pisau atau benda tajam sebagai tanda dukungan untuk Daesh,” kata Azman, dikutip dari benarnews.org, Selasa 30 Maret 2021.

Daesh merupakan sebutan untuk kelompok militar Islamic States atau ISIS.

1 dari 3 halaman

WNI Ditangkap

Dari hasil interogarsinya, pejabat yang menjadi sasaran rencana pembunuhannya yakni PM Mahathir, Menteri Keuangan (Menkeu) Lim Guan Eng, Jaksa Agung Tommy Thomas, dan Menteri Urusan Keagamaan Mujahid Yusuf Rawa.

Pemerintah Malaysia yang kala itu dikuasai koalisi Pakatan Harapan (PH) dianggap tagut. Wan Amirul dan anggota kelompoknya juga berencana menyerang kasino di Dataran Tinggi Genting dan pabrik bir di Lembah Klang.

Dari hasil interogasi itu, sehari setelahnya, polisi kembali menahan empat warga Malaysia dan satu warga Indonesia. Tersangka yang di proses hukum hanya Wan Amirul, seorang warga Malaysia tidak disebutkan identitasnya, Mohamad Ayub, dan warga Indonesia berusia 30-an tahun tidak disebutkan identitasnya.

Pihak kepolisian mengungkapkan, Wan Amirul pernah bekerja sebagai tukang pijat dan Ayub sebagai driver taksi online. Pria Indonesia yang tak disebutkan namanya itu, bekerja di bagian konstruksi bangunanan. Dia diketahui masuk ke Malaysia dengan legal pada 26 Februari 2019 menggunakan visa kerja.

Saat penangkapan tersangka, polisi menemukan barang bukti berupa bendera ISIS dan beberapa senjata tajam.

2 dari 3 halaman

Pengaruh ISIS di Malaysia

Kepala Polisi Malaysia Tan Sri Abdul Hamid Bador, pada Sabtu 27 Maret 2021 menegaskan, kelompok Anshorullah At Tauhid terbentuk untuk mempromosikan ideologi salafi jihadi.

Menurut informasi, Wan Amirul dan Ayub dihukum tiga tahun penjara. Sedangkan WNI yang tak disebutkan namanya, dijatuhi hukuman empat tahun penjara.

Sejak tewasnya pimpinan ISIS, Abu Bakr Al Baghadi, di tangan pasukan khusus Amerika Serikat (AS) pada Oktober 2019, pengaruh ISIS menurun. Pemimpin ISIS di Malaysia, Muhammad Wanddy Mohamed Jedi, juga masuk dalam daftar militan global AS yang tewas di Syira pada 2017.

Diketahui saat ini, terdapat 56 penduduk Malaysia di Syira. Perinciannya 19 laki-laki, 12 perempuan, dan 25 anak-anak.

3 dari 3 halaman

Tanggapan Menlu RI

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memastikan seorang WNI ditangkap di Malaysia karena terlibat dalam konspirasi untuk membunuh Mahathir Mohamad. Namun, Kemlu enggan bicara apakah WNI itu merupakan anggota ISIS.

Plt Juru Bicara Kemlu, Teuku Faizasyah, berkata pelaku sudah ditangkap sejak Januari 2020, meski kasusnya baru dibuka ke publik baru-baru ini.

" Informasi yang diperoleh dari KBRI di Kuala Lumpur, penangkapan WNI tersebut terjadi di Januari 2020. Namun baru menjadi perhatian publik Malaysia belakangan ini," ujar Faiza kepada Liputan6.com, Senin 29 Maret 2021.

Staf KBRI Kuala Lumpur, ungkap dia, sudah menemui yang bersangkutan untuk mendengar keterangannya. Kemlu belum membahas mengenai bantuan hukum kepada pelaku.

Ketika ditanya apakah WNI itu anggota ISIS, Faiza menolak memberi keterangan.

" KBRI tidak dalam kapasitas memberikan konfirmasi," tegas dia.

Sumber: benarnews.org dan liputan6.com

Beri Komentar