Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
`Lukisan` Karya Robot (Foto: Instagram @obvius)
Dream - Robot telah dilibatkan pada banyak bidang pembuatan produk-produk manusia. Mulai parfum, minuman, hingga peralatan kecantikan, merupakan beberapa di antara produk yang pembuatannya dipengaruhi komputer.
Industri terakhir yang mungkin akan disentuh oleh teknologi robotik yaitu seni. Pekan lalu, balai lelang asal Inggris, Christie, menjual lukisan bernama Portrait of Edmond Belamy yang dibuat oleh kecerdasan buatan.
Dikutip dari Vox, Senin 5 November 2018, lukisan yang dibuat secara kolektif oleh komunitas seni asal Prancis bernama Obvius itu dijual dengan harga $432.500, setara Rp6,5 miliar.
Dengan terjualnya lukisan ini, banyak orang percaya kemampuan kecerdasan buatan akan menggeser kehidupan seni sesungguhnya.
Lantas bagaimana cara kecerdasan buatan membuat lukisan wajah itu? Kecerdasan buatan yang muncul tersebut berasal dari algoritma yang menyisir koleksi potret bersejarah. Kemudian, dia memadupadankan dan menghasilkan lukisan tersendiri yang tercetak di atas selembar kanvas.
Dalam laman blognya, balai lelang Christie menyebut kemampuan kecerdasan buatan ini mampu menjadi seni masa depan. Kecerdasan buatan itu dapat `memodelkan perjalanan sejarah seni` dan membuktikan `seluruh kisah budaya visual manusia merupakan keniscayaan matematis`.
Ada tiga orang penting di balik terciptanya Potrait of Edmond Belamy, yaitu, Hugo Caselles-Dupre, Pierre Fautrel, dan Gauthier Vernier. Kelompok Obvius ini menamai kecerdasan buatan mereka dengan GAN, kependekan dari Generatif Adversarial Network.
Meski dipuji karena penetrasi algoritma ke dunia seni, persoalan lain mengemuka. Banyak pihak yang bertanya mengenai hak cipta atas karya tersebut.
left: the " AI generated" portrait Christie's is auctioning off right now
right: outputs from a neural network I trained and put online *over a year ago*.
Does anyone else care about this? Am I crazy for thinking that they really just used my network and are selling the results? pic.twitter.com/wAdSOe7gwz— Robbie Barrat (@DrBeef_)October 25, 2018
Seniman dengan basis kecerdasan buatan, Robbie Barrat, 19 tahun, membagikan model penyisiran data kecerdasan buatan miliknya. Dia kemudian membandingkan hasil karya dari kecerdasan buatan miliknya dengan milik Obvius.
" Apakah orang-orang percaya tentang ini? Apakah aku gila ketika hanya menggunakan jaringan dan menjual karya itu?" tulis Barrat di Twitter.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya