Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pesawat Tempur MiG-29 Yang Sudah Berusia 30 Tahun Lebih.
Dream - Pertempuran antara Rusia dan Ukraina masih terus berlangsung. Kali ini Rusia sudah mulai menggunakan pesawat tempurnya.
Dalam pertempuran di Ukraina, Rusia mengandalkan jet tempur Sukhoi Su-35 yang memiliki sistem navigasi dan persenjataan yang canggih.
Sementara Angkatan Udara Ukraina hanya memiliki pesawat tempur tua MiG-29. Pesawat tersebut peninggalan zaman Rusia masih bernama Uni Soviet.
Sebanyak 43 pesawat tempur MiG-29 menjadi andalan Ukraina untuk menghadapi Rusia yang menggunakan Su-35.

Beberapa laporan media internasional dan media sosial memperlihatkan MiG-29 kejar-kejaran dengan Su-35 di atas langit Ukraina.
Yang jadi pertanyaan, mampukah pesawat tua sekelas MiG-29 menghadapi jet tempur modern Su-35 yang sempat diminati Indonesia itu?
Sekadar informasi, pesawat tempur MiG-29 sudah beroperasi sejak 1982 atau 40 tahun lalu saat Rusia masih bernama Uni Soviet.

MiG-29 adalah jet tempur bermesin ganda buatan perusahaan Mikoyan-Gurovich yang sekarang berganti nama menjadi Mikoyan Corporation.
Pesawat ini dibuat untuk mengimbangi pesawat tempur Amerika Serikat F-18 Hornet, F-15 Eagle, atau F-16 Fighting Falcon.
Pada awal pengembangan sekitar tahun 1970 hingga 1980-an, Uni Soviet membentuk dua program teknologi pesawat tempur yaitu Penempur Ringan Taktis Tingkat Lanjut (Perspektivnyy Lyogkiy Frontovoy Istrebitel-LPFI) dan Penempur Garis Depan Tingkat Lanjut (Perspektivnyy Frontovoy Istrebitel-PFI).

Dari program PFI tersebut, Rusia menghasilkan pesawat tempur kelas berat Su-27 yang dibuat oleh Sukhoi.
Sedangkan LPFI dilempar ke Mikoyan dan menghasilkan MiG-29. Jadi, bisa dibilang MiG-29 adalah pesawat tempur versi ringan dari Su-27.
MiG-29 mulai mengemban tugasnya pada bulan Juli 1982 bersama Angkatan Udara Uni Soviet. Pesawat ini ternyata cukup laris hingga dipakai di 30 negara.
Dalam pengoperasiannya, MiG-29 menggunakan dua mesin jet ganda Klimov RD-33 turbofan dengan kapasitas bahan bakar internal hanya 4.365 liter.

Dengan kapasitas bahan bakar internal yang kecil, MiG-29 memiliki jarak tempur yang terbatas. Namun ini sesuai dengan desain awalnya.
Untuk mengemudikannya, kokpit MiG-29 dilengkapi tuas kendali konvensional tunggal yang berada di tengah, dan pengendali laju di sisi tangan kiri.

Pilotnya sendiri duduk di atas kursi pelontar Zvezda K-36DM yang diklaim memiliki performa mengesankan untuk penyelamatan saat terjadi kondisi darurat.
Meski desain dan fitur kokpitnya terkesan jadul, namun MiG-29 memiliki pengindraan yang jauh lebih baik dari pesawat Soviet sebelumnya.
Teknologi navigasi dan radar MiG-29 memakai OEPS-29 IRST (infra merah) dan Phazotron Zhuk-ME (radar).
Selain itu, MiG-29 juga dilengkapi SPO-15 Beryoza RWR sebagai radar pendeteksi ancaman dan DARE D-29 EW System untuk perangkat elektronik.
MiG-29 memiliki kontrol hidrolika dan sebuah autopilot 3 sumbu SAU-451. Tetapi tidak seperti Su-27, tidak ada sistem pengendali fly-by-wire.
Meskipun begitu, pesawat ini amatlah lincah saat bertarung di udara, dengan performa elakkan instan dan bertahap yang baik serta ketahanan umum saat melakukan perputaran tak terduga.
Persenjataan MiG-29 termasuk sebuah meriam 30 mm GSh-30-1 di pangkal sayap kanan. Awalnya memiliki magasen berisi 150 peluru, namun dalam pengembangan lanjutan dikurangi menjadi 100 peluru.

Awalnya, MiG-29 hanya bisa membawa bom serbaguna dan pod roket tak berpandu, namun tidak bisa membawa munisi berpandu-presisi alias rudal.
Dalam pengembangan berikutnya seperti MiG-29S dan versi setelahnya, ia bisa membawa 6-8 rudal sekaligus bahan bakar cadangan.
Selain R-60, MiG-29 terbaru juga bisa menggotong rudal R-72 dan R-27 Vympel untuk pertempuran udara ke udara jarak medium.
Ketika Uni Sovyet bubar tahun 1991, sekitar 1.000 unit MiG-29 dibagi ke negara pecahannya. Salah satunya Ukraina yang mendapat jatah terbanyak, yaitu 220 unit.
Sayangnya karena masalah ekonomi dan perawatan yang tinggi, sebagian MiG-29 milik Ukraina dijual. Ukraina pun tidak pernah beli jet tempur baru sampai sekarang.
Begitulah tadi sekilas pengenalan pesawat tempur andalan Ukraina yang sudah uzur untuk menghadapi jet-jet Rusia yang jauh lebih canggih.
Berbagai sumber
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya