Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Robot Seniman Ai-Da (Foto: CNet)
Dream - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial inteligent/AI) dan robotik telah berkembang pesat. Terinspirasi dari kesuksesan seniman, Andy Warhol, Tracy Emin, dan JMW Turner, seorang direktur galeri seni di Oxford, Inggris, bernama Aidan Meller mengembangkan robot seniman yang dapat membuat karya seni.
Meller melihat perkembangan pesat kecerdasan buatan di tahun ini, 2019. Dengan pemikiran ini, dia mengembangkan inovasi dan memutuskan membuat robot yang dapat membawa seni ke dunia nyata dengan potensi AI.
Ketertarikan ini menghasilkan Ai-Da, robot penghasil karya seni. Aida memiliki kepala dan leher humanoid, termasuk rambut panjang.
Saat ini kerangka dan anggota tubuhnya dibiarkan terbuka. Sementaranya jari-jarinya terlihat menggenggam alat lukis atau gambar.
Dengan menggunakan kamera di matanya, dia dapat mengidentifikasi apa yang ada di depannya dan membuat karya seni lukis bergaya impresionistik di atas kertas.
Dilaporkan CNet, pekan depan, Ai-Da akan membuka pameran seni perdananya di Galeri Barn, St John's College di Universitas Oxford, 12 Juni hingga 6 Juli 2019.
Ai-Da akan memamerkan gambar-gambar yang dia ciptakan. Gambar-gambar itu dihasilkan dari persepsi tentang objek dan pemandangan yang dia amati di dunia.
Selain lukisan, Ai-Da juga akan memamerkan karya seni kriya, berupa patung kecil yang dibuat dalam perunggu.
" Ketika Anda mengamati seni, Anda akan mengamatinya dari kaca mata seorang seniman," ucap Meller.
" Jika kita tak punya robot humanoid, kondisi amatan itu tentu akan lebih sulit," kata dia.
Robot Ai-Da juga punya persepsi unik atas karyanya. Tetapi, kata Meller, proses itu tercipta dengan kondisi yang tak sederhana.
" Orang-orang bicara mengenai printer yang mahal. Tidak, karya ini merupakan hasil dari algoritma AI, itu sepenuhnya kreatif, kami tidak tahu apa hasil karya seninya," ujar dia.
Meskipun gambar Ai-Da dikendalikan oleh sistem pemrograman kecerdasan buata, lukisan yang dipajang saat pameran merupakan kolaborasi yang dipandu manusia. Melihat potensi itu, Meller menyebut, manusia dan teknologi dapat bekerja sama untuk menciptakan seni di masa depan.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya