Serunya Berinteraksi dengan Tarsius, Primata Endemik Bukit Peramun

Reporter : Ferdike Yunuri Nadya
Senin, 11 November 2019 13:10
Serunya Berinteraksi dengan Tarsius, Primata Endemik Bukit Peramun
Hewan ini punya sifat 'pemalu'

Dream - Jika sedang berada di Kabupaten Bangka Belitung, masukkan Bukit Peramun dalam daftar destinasi liburanmu. Tempat ini tidak hanya menyuguhkan pemandangan alam yang indah namun juga pengalaman seru berinteraksi dengan satwa endemik.

Salah satu satwa endemik di destinasi ini adalah Tarsius. Primata berjuluk 'Monyet Hantu' tergolong satwa langka.

Bersama Kafe BCA, Dream dan beberapa media lain berkesempatan berinteraksi dengan primata terkecil di dunia ini. Hewan ini punya tubuh hanya seukuran kepalan tangan orang dewasa dan beratnya sekitar 12 gram saja.

Rombongan jurnalis mencari tarsius© dream.co.id

Rombongan jurnalis sedang mencari Tarsius (Dream.co.id/Ferdike Yunuri Nadya)

Tarsius hanya bisa ditemui di malam hari. Ada syarat tertentu jika ingin berinteraksi dengan hewan mungil ini, yaitu tidak menggunakan lampu flash. Penggunaan lampu flash dilarang karena dapat membuat Tarsius tidak nyaman. Untuk bisa mengamati hewan tersebut dapat menggunakan lampu sorot.

Tepat pukul 20.00 WIB, Dream bersama rombongan mulai menjelajahi hutan untuk mencari sang monyet kecil. Setelah beberapa puluh menit berjalan kaki, Tarsius terlihat berpegangaan pada dahan pohon.

 

1 dari 2 halaman

Karakter Unik Tarsius

Sebagai hewan malam, Tarsius punya ciri fisik unik. Mata bulat bak kelereng dan telinga lebar. Ukuran matanya lebih besar dibandingkan otaknya.

Hewan berbulu abu-abu ini lebih aktif di malam hari dan dapat melihat dengan tajam di kegelapan. Di siang hari, hewan ini biasanya tidur dan menempel di dahan pohon.

Uniknya, hewan ini tidak akan beranjak dari " daerah kekuasaan" . Biasanya, primata ini menggunakan air kencing untuk menandai area miliknya.

Tarsius© dream.co.id

Tarsius Bukit Peramun (Foto: Dream.co.id/Ferdike Yunuri Nadya)

" Tarsius ini hewan nokturnal, jadi hidup dan lebih aktif di malam hari. Dia lebih aktif jika malam dan kalau gelap tidak ada lampu seperti ini dia bisa langsung lompat. Lompatannya sangat lincah," jelas salah satu pengurus Desa Wisata Bukit Peramun, Mustari.

Keunikan lainnya, kepala Tarsius dapat berputar hingga 360 derajat, memudahkan memantau situasi. Kelebihannya ini juga sangat membantu dalam berburu mangsa kecoa, jangkring, hingga ular kecil.

" Tarsius bisa memutar kepalanya hingga 360 derajat seperti burung hantu. Jika ingin melihat sesuatu, biasanya ia langsung memutar kepalanya saja," ucap Mustari.

Pergelangan kaki hewan hutan hujan tropis ini tampak memanjang. Dengan bentuk pergelangan seperti itu, Tarsius dapat melompat jauh untuk berpindah dari satu pohon ke dahan lainnya dengan jarak mencapai 3 meter.

 

2 dari 2 halaman

Binatang Setia

Tarsius adalah binatang setia, hewan ini hanya kawin satu kali saja. Jika salah satu mati, maka pasangannya akan menyusul. Inilah yang membuat Tarsius menjadi primata langka lantaran siklus hidup yang pendek

Tarsius© dream.co.id

Tarsius Bukit Peramun (Foto: Dream.co.id/Ferdike Yunuri Nadya)

" Teman saya punya Tarsius sepasang, saat salah satu dari Tarsius itu mati, pasangan yang masih hidup terlihat stres dan dua minggu kemudian mati juga. Biasanya Tarsius mampu hidup sendiri setelah pasangannya meninggal sekitar 2 minggu hingga sebulan saja. Lalu ia akan menyusul pasangannya juga” papar Mba Eksa, pemandu wisata kami.

Senang rasanya bertemu hewan langka yang dikenal sangat setia pada pasangannya. Jika Sahabat Dream mengunjungi Belitung, jangan lupa tengok primata langka yang menggemaskan ini di Bukit Peramun ya!

Beri Komentar