Berbaring dengan Mayat, Wanita Ini Peluk Mantan yang Sekarat

Reporter : Sandy Mahaputra
Selasa, 17 November 2015 11:41
Berbaring dengan Mayat, Wanita Ini Peluk Mantan yang Sekarat
Dia harus pura-pura mati dan menyaksikan pria yang pernah dicintainya meregang nyawa saat teror Paris.

Dream - Seorang wanita Amerika yang terluka dalam serangan teror di Paris menggambarkan bagaimana perjuangannya menyelamatkan diri.

Helen Wilson, 49, tidak menyangka kepindahannya ke Paris untuk menjalankan perusahaan katering berakhir dengan kejadian pilu. Dia ditembaki kelompok yang diduga ISIS di dalam gedung teater Bataclan di mana lebih dari 80 orang tewas.

Wilson yang tidak punya pilihan untuk bertahan hidup hanya memilih pura-pura mati saat kakinya terkena tembakan. Tidak hanya itu, dia juga harus menyaksikan pria yang pernah dicintainya meregang nyawa karena luka tembak parah saat insiden tersebut.

Kepada The Telegraph, perempuan asal Los Angeles menceritakan kisah memilukan yang dialaminya itu. Awalnya dia tak berniat menonton konser grup band Eagles of Death Metal dari California.

Namun mantan kekasihnya dari Inggris, Nick Alexander, 36, mengajaknya pergi menonton konser yang digelar di gedung teater Bataclan itu.

Mereka pun bertemu di gedung teater. Namun sekitar jam 9:45 malam, para teroris menyerbu masuk dan langsung memuntahkan peluru dengan membabi buta.

" Mereka kemudian membunuh satu per satu penonton yang terlihat masih hidup. Tidak hanya itu, mereka juga menembak mereka yang mencoba lari keluar," katanya.

Karena itu, Wilson dan Alexander langsung berbaring di lantai dan berpura-pura mati di antara pengunjung yang sudah jadi mayat. Namun, seseorang dekat mereka bergerak sehingga menarik perhatian salah seorang teroris yang langsung menembaknya.

Sayang, tembakan itu juga mengenai Alexander yang terbaring di depannya dan sebutir peluru juga menebus paha Wilson.

" Ia di belakangku, aku tak dapat melihat situasi dengan jelas. Aku hanya mencoba untuk terus menjaganya tetap sadar. Tapi, ia tidak bisa bernafas lagi," ungkapnya pada Daily Mail.

" Aku memeluknya dan mengatakan bahwa aku mencintainya. Dia adalah cinta dalam hidupku."

Wilson terus berbaring di lantai sambil memeluk Alexander sampai polisi menyerbu gedung tak lama setelah tengah malam dan membawanya pergi.

Wilson sempat berharap Alexander selamat setelah dibawa ke rumah sakit. Tapi dia diberitahu mantan kekasihnya itu adalah salah satu korban tewas dalam kejadian tersebut.

Juga dipastikan tewas adalah Nohemi Gonzalez, seorang mahasiswi 23 tahun dari Cal State University yang belajar di perguruan tinggi Strate Paris jurusan desain, sebagai bagian dari tugas akhir tahun di luar negeri.

Diduga Gonzalez ditembak mati saat sedang makan di salah satu restoran yang diserang teroris.

(Ism, Sumber: Daily Mail)

1 dari 2 halaman

Gadis Ini Pura-Pura Mati Agar Selamat

Dream - Seorang gadis Afrika Selatan mengisahkan pengalaman horor yang dia alami saat ratusan penonton konser di Bataclan, Paris menjadi korban aksi penembakan oleh teroris pada hari Jumat malam pekan kemarin.

Isobel Bowdery, 22, mengunggah status di Facebook untuk menggambarkan peristiwa mengerikan itu disertai dengan foto t-shirt berlumuran darah yang dikenakannya ke konser.

Lulusan Cape Town University itu tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang membantunya menyelamatkan diri pada malam yang mengerikan tersebut.

Seperti diketahui, Paris diguncang serangan teror dari delapan pelaku bom bunuh diri pada Jumat malam yang menyebabkan korban jiwa tidak sedikit.

Menurut data terakhir yang dilansir DailyMail, rangkaian serangan teror terkoordinasi di Paris itu telah menyebabkan total 129 orang tewas, 352 terluka dan 99 dalam kondisi kritis.

Isobel dalam pengakuannya di Facebook mengisahkan, awalnya ia mengira orang-orang bersenjata yang dilihatnya adalah bagian pertunjukkan kelompok musik Eagles of Death Metal.

Dia baru menyadari mereka adalah teroris setelah melepaskan tembakan 'membabibuta' ke arah penonton yang langsung berlarian tak tentu arah untuk menyelamatkan diri. Dalam insiden tersebut, sebanyak 80 orang tewas.

" Puluhan orang ditembak tepat di depanku. Kolam darah langsung membanjiri lantai. Teriakan histeris penonton pria yang memeluk pacar mereka yang sudah menjadi mayat memenuhi tempat konser yang kecil itu," tulisnya.

Isobel juga mengisahkan bagaimana dia menyerahkan nasibnya ketika berbaring di genangan darah orang dengan peluru mendesing di atas kepalanya.

" Sambil berbaring di genangan darah korban dan menunggu peluru mengakhiri hidupku yang hanya 22 tahun, aku membayangkan setiap wajah yang pernah aku cintai dan berbisik 'Aku mencintaimu'" , katanya.

Dia kemudian menghadapi penderitaan selama 45 menit lepas dari pacarnya, yang ia percaya sudah meninggal.

2 dari 2 halaman

Siapakah Omar `Bomber` Teror Paris?

Dream - Salah satu pelaku bom bunuh diri pada serangan teroris di Paris yang menewaskan sedikitnya 129 orang ada diduga adalah Omar Ismail Mostefai. Hal diketahui melalui identifikasi sidik jari yang ditemukan di tempat kejadian.

Sidik jari itu berasal dari potongan jarinya yang ditemukan di Bataclan, Paris yang menjadi salah satu tempat para teroris melakukan aksi brutalnya.

Pria berusia 29 tahun itu adalah salah satu dari tiga orang yang meledakkan dirinya dan menewaskan 89 laki-laki, perempuan dan anak-anak.

Lahir pada 21 November 1985, di pinggiran kota Paris, Courcouronnes, catatan kriminal Mostefai memperlihatkan dia telah melakukan delapan aksi kejahatan kecil antara 2004 dan 2010.

Meskipun ia tidak pernah menghabiskan waktu di penjara, jaksa Paris Francois Molins mengatakan Mostefai merupakan target tingkat tinggi program radikalisasi para teroris tahun 2010.

Tapi sebelum Jumat berdarah itu, Mostefai tidak pernah terlibat dalam penyelidikan atau dikaitkan dengan teroris. Penyidik kini menyelidiki klaim yang menyebutkan dia pergi ke Suriah tahun lalu dan mungkin telah bergabung dengan kelompok teroris ISIS di sana.

Ayah Mostefai dan seorang saudaranya yang berusia 34 tahun ditangkap pada Sabtu malam, dan rumah mereka digeledah.

" Itu (perbuatan Mostefai) hal yang gila, sungguh gila," kata saudara Mostefai kepada kantor berita Perancis AFP sebelum dibawa ke mobil tahanan. " Kemarin aku berada di Paris dan aku melihat bagaimana peristiwa mengerikan itu terjadi," katanya.

Dia bersama dengan dua saudara perempuannya menyerahkan diri ke polisi setelah mengetahui Mostefai terlibat dalam serangan teror di Paris.

Meski sudah tidak berhubungan lagi dengan Mostefai beberapa tahun yang lalu, dia tidak bisa membayangkan saudaranya itu bisa begitu radikal.

" Terakhir kali saya tahu, dia pergi ke Aljazair dengan keluarganya," katanya. " Sejak itu, saya tidak pernah mendengar kabar tentang dia. Saya juga sudah menghubungi Ibu, tapi beliau sepertinya tidak tahu apa-apa."

Seorang sumber yang tak ingin identitasnya diungkapkan mengatakan Mostefai sering menghadiri pengajian di sebuah masjid di Luce, sebuah kota kecil dekat Chartres, barat daya Paris.

(Ism, Sumber: Mirror.co.uk)

Beri Komentar