Bikin Dunia Haru, Nenek Main Piano di Tengah Puing Ledakan Beirut

Reporter : Ulyaeni Maulida
Jumat, 7 Agustus 2020 16:44
Bikin Dunia Haru, Nenek Main Piano di Tengah Puing Ledakan Beirut
Ini menjadi sebuah simbol harapan di tengah kehancuran.

Dream – Beberapa waktu lalu, sebuah ledakan besar terjadi di area pelabuhan Beirut, Lebanon.

Akibat ledakan, sedikitnya 135 orang tewas dan lebih 5.000 orang luka-luka. Belum lagi bangunan-bangunan yang hancur di sekitar ledakan itu.

Ledakan itu bahkan membuat gelombang kejut hingga ke terminal penumpang bandara internasional. Yang jaraknya hampir mencapai 9 kilometer.

Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan, ledakan itu disebabkan 2.750 ton amonium nitrat yang telah lama disimpan di gudang.

Banyak hal yang berubah setelah kejadian mengerikan itu. Namun, di tengah-tengah kekacauan yang melanda, terlihat seorang nenek yang begitu tenang memainkan pianonya di dalam apartemen miliknya yang telah rusak. Ia menemukan piano kesayangannya itu selamat dari ledakan besar tersebut.

1 dari 2 halaman

Bermain piano kesayanganya di tengah puing reruntuhan

 

Nenek yang bernama May Abboud Melki berusia 69 tahun itu, nampak sangat berantakan. Bahkan lubang-lubang didinding dan kaca menyebabkan puing-puing berserakan.

Namun, melihat piano kesayangannya selamat dari ledakan tersebut, membuat May merasa bahagia. Karena ia sudah bersama dengan pianonya selama bertahun-tahun.

Dan beruntungnya, May dan suaminya sedang tak ada di rumah saat ledakan itu terjadi. ketika May kembali ketempat tinggalnya, ia langsung menuju ke arah piano, yang merupakan hadiah dari ayahnya pada hari pernikahannya. Ia pun langsung duduk dan memainkan Auld Lang Syne.

2 dari 2 halaman

Simbol harapan di tengah kehancuran

 

Video yang berisi momen mengharukan itu pun menjadi viral di media sosial. Bahkan menteri pertama Skotlandia, Nicola Sturgeon turut serta membagikan video itu di akun Twitter miliknya.

Setelah May bermain Auld Lang Syne, ia pun melanjutkan dengan memainkan himne Arab. Menyebabkan para relawan berkumpul.

Sang cucu, May-Lee menambahkan,” Nenekku menahan rasa sakit dan mencoba membuat beberapa momen yang damai.”

" Melihat dia bersandar pada imannya, bersandar pada Tuhan adalah sebuah pesan kuat untuk komunitasnya dan keluarga kami,” ungkap May-Lee.

 

(Sumber: mirror.co.uk)

Beri Komentar