Cara Penyembelihan Daging Tak Diketahui, Halal Atau Haram?

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 27 Maret 2019 09:02
Cara Penyembelihan Daging Tak Diketahui, Halal Atau Haram?
Sembelihan yang boleh dimakan umat Islam adalah dari Muslim sendiri, Yahudi atau Nasrani.

Dream - Bagi traveler Muslim, salah satu tantangan yang kerap dihadapi ketika berkunjung ke tempat dengan mayoritas penduduknya non-Muslim adalah mencari makanan halal.

Meski ada sebagian kota yang memiliki restoran halal, perasaan ragu kerap muncul. Sebab, tidak ada yang tahu secara pasti apakah makanan berbahan daging yang disajikan benar-benar halal atau tidak.

Dalam Islam, hewan yang boleh dimakan adalah yang disembelih sesuai ketentuan syariat. Pun jika dilakukan oleh non-Muslim, umat Islam dibolehkan makan daging hasil sembelihan umat Yahudi dan Nasrani.

Lantas, jika tidak diketahui cara penyembelihannya, apa yang dilakukan umat Islam?

Dikutip dari NU Online, penting untuk mencari petunjuk yang ada di sekitar tempat makan mengenai kehalalan daging yang disajikan. Bisa juga dengan bertanya kepada pemilik atau pelayan restoran.

1 dari 2 halaman

Dasar Meyakini Kehalalan Daging

Apabila pemilik atau pelayan mengatakan daging yang disajikan halal, maka ucapan tersebut bisa menjadi pegangan.

Daging tersebut hukumnya halal, selama tidak diketemukan adanya kebohongan mengenai proses penyembelihan yang ternyata tidak sesuai ketentuan.

Dalam kaidah fikih, ucapan dari pemilik atau pelayan itu menjadi pijakan hukum.

Sementara, apabila tidak ada petunjuk sama sekali terkait halal-haramnya daging dan pemilik atau pelayan tidak bisa ditanyai, maka kembali ke kaidah awal hukum segala makanan yaitu halal.

Dalam hal ini, kita bisa berpijak pada kaidah fikih yang menyatakan demikian.

" Ketika bertentangan antara penilaian secara zahir dan hukum asal suatu perkara, maka yang menjadi pijakan adalah hukum asalnya."

Hal ini dijelaskan oleh Syeikh Zainuddin Al Malibari dalam kitabnya Fathul Bari.

" Kaidah penting: Sesungguhnya sesuatu yang asalnya suci dan ia menduga kuat bahwa sesuatu tersebut najis karena umumnya terkena najis pada hal sesamanya, maka dalam hal ini berlaku dua pendapat yang terkenal dengan dua qoul, asal dan zahir atau ghalib. Pendapat yang paling kuat adalah sucinya sesuatu tersebut dengan berpijak pada hukum asal yang telah diyakini. Sebab hukum asal lebih adlbat (komprehensif) dari ghalib yang berbeda-beda berdasarkan keadaan dan waktu."

 

2 dari 2 halaman

Kecuali di Wilayah Non-Muslim Bukan Yahudi dan Nasrani

Tetapi, kaidah di atas berlaku untuk restoran yang tidak berada di negeri atau wilayah yang dihuni non-Muslim bukan termasuk Yahudi dan Nasrani.

Jika restoran atau tempat makan berada di negeri mayoritas non-Muslim yang bukan Yahudi dan Nasrani, maka status hukum daging adalah haram.

Dalam kasus ini, harus ada petunjuk yang menyatakan kehalalan daging yang disajikan. Salah satunya yaitu sertifikat halal.

Masalah ini dijelaskan secara rinci oleh Syeikh Zakaria Al Anshari dalam kitabnya Asna Al Mathalib.

" Ketika ditemukan potongan daging pada sebuah cawan atau sobekan kain di wilayah yang tidak dihuni oleh orang Majusi, maka daging tersebut dihukumi suci. Sedangkan ketika daging tersebut ditemukan dalam keadaan dilempar (dibagikan) atau pada cawan atau sobekan kain di wilayah yang mana orang majusi (menjadi mayoritas) di antara orang Muslim, maka daging tersebut dihukumi najis. Sedangkan ketika orang Islam merupakan mayoritas (di wilayah tersebut) maka daging dihukumi suci, sebab daging tersebut diduga kuat merupakan sembelihan orang Islam, penjelasan ini disampaikan oleh Abu Hamid, Al Qadi Abu Tayyib, Imam Mahamili dan ulama lainnya."

Daging di kawasan berpenduduk mayoritas non-Muslim bukan Yahudi dan Nasrani dihukumi haram. Dasarnya, besar kemungkinan daging itu adalah hasil sembelihan orang non-Muslim bukan Yahudi dan Nasrani.

(ism, Sumber: NU Online)

Beri Komentar
Intip Harga dan Spesifikasi Mobil Dinas Baru Jajaran Menteri Jokowi