Hukum Menggambar dalam Islam Dilengkapi dengan Dasar Hukumnya

Reporter : Widya Resti Oktaviana
Jumat, 21 Januari 2022 06:00
Hukum Menggambar dalam Islam Dilengkapi dengan Dasar Hukumnya
Dahulu menggambar adalah perbuatan yang diharamkan karena dikhawatirkan akan menjadi media untuk berbuat syirik. Bagaimana dengan sekarang?

Dream – Menggambar adalah bagian dari hobi yang banyak digemari, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa banyak yang menaruh ketertarikannya pada bidang seni yang satu ini. Aada banyak sekali teknik menggambar yang digunakan. Sehingga membuat setiap orang bisa mengeksplor hobi dengan menuangkannya dalam aktivitas menggambar.

Kehidupan manusia sehari-hari memang tidak bisa dilepaskan dari unsur gambar, misalnya saja anak-anak yang sedang belajar di sekolah. Keberadaan gambar sangatlah mendukung proses belajar mereka. Gambar mampu memvisualisasi suatu objek agar mudah dipahami oleh anak-anak.

Meskipun menggambar sudah menjadi aktivitas yang umum di tengah masyarakat, namun dalam Islam sendiri ada pendapat yang disertai dengan dalil bahwa hukum menggambar dalam Islam adalah haram. Namun hal ini tentunya membutuhkan pembahasan lebih dalam lagi dan mengetahui dari berbagai persepektif yang ada.

Nah, untuk kamu yang ingin mengetahui penjelasan terkait hukum menggambar dalam Islam, berikut sebagaimana telah dirangkum oleh Dream dari berbagai sumber.

1 dari 3 halaman

Dasar Hukum tentang Gambar

Dasar Hukum tentang Gambar© Unsplash.com

Sebelum membahas lebih jauh mengenai hukum menggambar dalam Islam, terlebih dahulu akan dijelaskan dasar hukum tentang gambar. Baik itu dari hadis Nabi maupun dari Al-Quran. Berikut adalah dasar-dasar hukum tentang gambar seperti dikutip dari Jurnal Dusturiah, Vol. 10, No. 1, Tahun 2020 berjudul Membuat Gambar dalam Perspektif Hukum Islam oleh Tarmizi Jamhuri:

Hadis Riwayat Aisyah

Dasar hukum tentang gambar yang pertama adalah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah berikut ini:

dari 'Aisyah bahwasannya dia membeli bantal-bantal kecil bergambargambar. Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat bantal-bantal tersebut beliau berhenti di pintu dan tidak terus masuk. Aku segera tahu dari wajah beliau bahwa baliau tidak senang. Kata 'Aisyah; 'Ya Rasulullah! Aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apakah kiranya salahku? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam balik bertanya: 'Bantal-bantal apa ini? ' Jawab 'Aisyah; 'Aku beli untuk tempat duduk Anda, atau tempat Anda bersandar.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Pelukis gambar-gambar ini akan disiksa kelak di hari kiamat seraya dikatakan kepada mereka: 'Hidupkanlah gambar-gambar yang kamu lukis itu! ' Kemudian sabda beliau: Malaikat tidak mau masuk ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.”

Dalam hadis di atas terdapat kalimat yang menyatakan bahwa ada siksaan yang diberikan untuk pemilik gambar. Hal ini sebagai penekanan pada larangan membuat gambar. Di mana jika ancaman ditujukan pada pembuatnya, maka akan terkena pula pada penggunanya. Pembuat gambar tidak akan membuat gambar jika tidak untuk digunakan.

Dengan begitu, melalui hadis ini diketahui bahwa tidak ada perbedaan dalam mengharamkan gambar antara yang memiliki bayangan atau yang tidak. Begitu juga dengan yang menggunakan teknik secara dicat, diukir, dipahat, atau pun ditenun.

2 dari 3 halaman

Dasar Hukum tentang Gambar

Dasar hukum tentang gambar yang kedua adalah dari firman Allah SWT melalui surat Saba’ ayat 13 yang bunyinya berikut ini:

يَعْمَلُوْنَلَهٗمَايَشَاۤءُمِنْمَّحَارِيْبَوَتَمَاثِيْلَوَجِفَانٍكَالْجَوَابِوَقُدُوْرٍرّٰسِيٰتٍۗاِعْمَلُوْٓااٰلَدَاوٗدَشُكْرًاۗوَقَلِيْلٌمِّنْعِبَادِيَالشَّكُوْرُ

Artinya: Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13).

Melalui ayat tersebut terdapat kata tamasil yang adalah bentuk jamak dari kata timsal. Di mana timsal berarti sesuatu yang bersifat material, berbentuk, dan bergambar. Baik itu yang terbuat dari kayu, batu, dan sejenisnya yang dibentuk menjadi sedemikian rupa.

Dahulu kala diceritakan bahwa singgasana milik Nabi Sulaiman as dibuat dengan memiliki enam tingkat. Lalu ada 12 patung singa yang berdiri di atas keenam tingkatan tersebut. Ayat inilah yang kemudian dijadikan sebagai dasar oleh sebagian ulama bahwa membuat patung yang tidak untuk disembah atau dijadikan sebagai lambang keagamaan adalah boleh.

3 dari 3 halaman

Hukum Menggambar dalam Islam

Hukum Menggambar dalam Islam© Unsplash.com

Seperti dikutip dari muslim.or.id, pada asalnya menggambar segala sesuatu yang memiliki nyawa, baik itu berupa manusia atau pun hewan, maka hukum menggambar dalam Islam adalah haram.

Baik itu prosesnya dibentuk menjadi patung tiga dimensi atau digambar pada kertas, kain, maupun dinding. Melalui beberapa hadis disebutkan bahwa dengan melakukan aktivitas tersebut akan ada ancaman berupa azab yang diberikan.

Hal ini karena dikhawatirkan gambar-gambar tersebut akan dijadikan sebagai media untuk berbuat syirik pada Allah SWT. Di mana seorang manusia akan menuhankan gambar tersebut dan merendahkan dirinya di hadapan gamabr itu layaknya sedang menyembah Allah SWT. Perbuatan inilah yang akan mendatangkan dosa besar bagi siapapun yang melakukannya.

Namun ada perbedaan pendapat dari seorang KH. Said Aqil Siroj yang adalah Pemimpin Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan sekaligus mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menurut beliau seperti dikutip dari nu.or.id, melukis manusia dan binatang hukumnya haram saat Islam masih tumbuh di zaman masyarakat Arab yang saat itu menyembah berhala. Hukum menggambar dalam Islam diharamkan karena untuk menjaga akidah masyarakat yang belum lama masuk Islam.

Lalu kemudian beliaupun ditanya tentang hukum menggambar dalam Islam baik itu manusia maupun binatang yang dilakukan saat ini apakah berarti sudah boleh. Beliau pun dengan tegas menjawab “ iya”.

Beliau menjelaskan bahwa adanya pameran lukisan adalah bagian dari kegiatan kebudayaan. Di mana budaya itu sendiri berperan penting dalam menunjang agama. Dan jangan dibalik bahwa agama itu untuk budaya, tetapi yang benar adalah budaya untuk agama. Sehingga budaya tersebut pun perlu untuk diperkuat.

Beri Komentar