Hukum Suami Sentuh Alat Vital Istri

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 11 Januari 2017 20:02
Hukum Suami Sentuh Alat Vital Istri
Alat vital merupakan aurat yang wajib tertutupi. Lantas, bagaimana hukumnya suami atau istri memegang alat vital pasangannya?

Dream - Alat vital mungkin menjadi bagian yang sangat tabu untuk disentuh. Tetapi, alat vital juga dipahami sebagai sumber kenikmatan bagi pasangan yang sudah menjadi suami istri.

Ada kalanya, saat bermesraan, seorang suami menyentuh alat vital istrinya. Demikian pula sebaliknya, untuk menciptakan keintiman pada pasangan suami istri.

Tetapi, bagaimana sebenarnya hukum menyentuh alat vital pasangan, mengingat alat vital merupakan bagian tubuh yang haram terlihat?

Dikutip dari rumaysho, para ulama bersepakat tidak ada larangan bagi suami maupun istri menyentuh alat vital pasangannya. Ini didasarkan pendapat yang tertuang dalam kitab Hasyiyah karangan Ibnu 'Abidin.

" Abu Yusuf pernah bertanya pada Abu Hanifah mengenai seorang suami yang menyentuh alat vital (kemaluan) istrinya dan istrinya pun melakukan sebaliknya sehingga suami terangsang, apakah seperti itu bermasalah? Jawab Imam Abu Hanifah, tidak masalah, bahkan aku harap seperti itu mendapatkan pahala yang besar."

Menyentuh alat vital pasangan juga tidak membawa konsekuensi bagi seseorang untuk mandi wajib atau mandi jinabat. Asalkan sentuhan itu tidak disertai keluarnya air mani baik dengan jima' (bersetubuh) atau tidak.

Hal ini didasarkan pada pendapat Syaikh Abu Malik dalam kitab Fiqh As Sunnah li An Nisaa'.

" Jika seorang suami menyentuh kemaluan istrinya dan bukan jima', maka tidak wajib mandi selama tidak keluar mani."

Selengkapnya...

1 dari 2 halaman

Hukum Suami Mencabut Kemaluan Saat Menggauli Istri

Dream - Persetubuhan suami istri merupakan amalan yang diganjar pahala begitu besar. Amalan ini merupakan jalan bagi pasangan Muslim untuk mendapatkan kebahagiaan sekaligus melanjutkan keturunan.

Tetapi, ada sebagian Muslim yang pada titik tertentu sudah tidak lagi menghendaki memiliki keturunan. Mereka akan menempuh cara agar tidak terjadi kehamilan usai persetubuhan.

Cara yang kadang sering dilakukan adalah sang suami mencabut kemaluannya dari lubang kemaluan istri. Ini dimaksudkan agar cairan sperma suami tidak masuk ke rahim istri sehingga tidak terjadi pembuahan.

Terkait perkara ini, bagaimana status hukumnya dalam Islam? Apakah hal ini diperbolehkan.

Masalah ini merupakan salah satu perkara fikih yang sudah lama dibahas para ulama. Dalam kitab Al Syamil, seorang suami tidak diperbolehkan mencabut kemaluannya ketika menggauli istrinya dan dianjurkan untuk menuntaskan persetubuhan.

Bahkan jika perlu, cairan sperma tersebut diusahakan agar benar-benar masuk ke rahim istrinya.

Syaikh Umar bin Abdul Wahab al-Husaini berkata, " Bagi orang yang bersetubuh dengan istrinya yang masih perawan, seharusnya ia tidak mencabut alat kelaminnya dari lubang vagina istrinya (sebelum proses persetubuhan itu benar-benar selesai), jangan seperti kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh."

Sementara Imam Malik berpendapat seorang suami yang mencabut kemaluannya saat menggauli istrinya dihukumi makruh.

Selengkapnya...

2 dari 2 halaman

Penting! Begini Hukum Dan Tata Cara Mencukur Bulu Kemaluan

Dream - Berbicara prihal mencukur bulu kemaluan terkadang dianggap sebagin orang adalah hal yang tabu. Namun pada dasarnya hal yang sering kali dianggap sepele ini ternyata sangat penting untuk diketahui hukum dan tata caranya.

Dan ternyata pula prihal tata cara dan hukum mencukur bulu kemaluan merupakan salah satu sunnah Rasulullah SAW yang amat disayangkan jika kaum muslimin yang tidak mengetahuinya.

Rasulullah SAW bersabda:

" Diantara fitrah adalah mencukur bulu kemaluan, mencukur kuku dan memendekkan kumis." (HR. Imam Bukhori dan Muslim)

Islam ternyata menganjurkan agar bulu-bulu tersebut dicukur secara rutin. Hal ini bukan tanpa alasan, karena ternyata ada banyak manfaat dari anjuran Rasulullah SAW ini, yang paling utama adalah berhubungan dengan masalah kebersihan dan kesehatan.

Mencukur bulu kemaluan hendaknya selalu dilakukan secara rutin oleh seorang muslim tidak lebih dari 40 hari. Imam Syaukani dalam kitab Nailul Authar menjelaskan : 

" Batas waktu maksimal adalah empat puluh hari sebagaimana yang telah ditentukan oleh Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk tidak memotongnya melebihi empat puluh hari. Dan jika dalam rentang sebelum 40 hari, Anda berniat memotongnya maka hal ini diperbolehkan dan tidaklah menyalahi sunnah."

Adapun tata caranya sesuai dengan anguran Rasulullah SAW hendaknya dimulai dari bulu bagian kanan yang paling atas kemudian menyamping ke kiri.

Hal yang terpenting sebelum mencukur bulu kemaluan adalah disunnahkan untuk membaca basmalah atau doa masuk kamar mandi sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

" Penutup antara pandangan jin dan aurat bani adam adalah ketika mereka masuk kamar mandi, mengucapkan bismillah." (HR. Tirmidzi)

Beri Komentar