Pasutri Miskin di Tegal Makan Kadal Demi Bertahan Hidup

Reporter : Puri Yuanita
Rabu, 20 April 2016 14:45
Pasutri Miskin di Tegal Makan Kadal Demi Bertahan Hidup
Pasca kebakaran itulah, kehidupan mereka menjadi serba susah. Tarsono tak mempunyai tempat tinggal dan sering sakit-sakitan.

Dream - Miris, apa yang dialami pasangan suami istri ini dijamin akan membuat iba. Pasangan suami istri (pasutri) Tarsono (38 tahun) dan Triyani (19 tahun) sudah dua bulan lebih tinggal di kolong jembatan Kali Cenang, Jalur Pantura.

Lantaran kolong jembatan itu terendam air pasang Laut Jawa, keduanya pun menumpang di gubuk milik seorang warga di perbatasan Desa Purwahamba dan Desa Suradadi, yang masih berada di bawah Jembatan Kali Cenang.

Dulunya, Tarsono dan Triyani memiliki rumah di Kota Tegal, Jawa Tengah. Namun nasib nahas menimpa pasutri ini. Pada tahun 2000, rumah yang ditempatinya bersama keluarga besar mereka terbakar habis.

Pasca kebakaran itulah, kehidupan mereka menjadi serba susah. Tarsono tak mempunyai tempat tinggal dan sering sakit-sakitan. Ia bahkan terkena penyakit herpes. Sekujur tubuhnya kerap gatal-gatal dan memerah. Sebagian kulit luarnya mengelupas.

Karena penyakitnya itu, Tarsono tak bisa bekerja. Sehingga, ia dan sang istri hanya mengandalkan makanan yang ada di sekitar gubuk. Diakui Tarsono, tak jarang jika rasa laparnya tak bisa ditahan lagi, dia dan Triyani makan kadal dan meminum perasan tebu milik petani yang sudah mulai panen.

Disinggung mengenai masa depan dia dan istrinya, dengan mata berkaca-kaca, Tarsono menjawab terbata-bata.

" Sekarang kondisi kesehatan saya terus memburuk karena tidak mampu untuk berobat, bahkan istri saya juga mulai ketularan herpes karena di sini tidak ada air untuk mandi," katanya sembari menghela napas panjang, dikutip dari Radartegal.com.

Beberapa kali dia sudah mencoba untuk meminta bantuan berobat, tetapi terkendala oleh masalah administrasi Kartu Tanda Penduduk (KTP). Alhasil Tarsono hanya bisa pasrah.

" Jangankan untuk berobat, untuk makan saja kami terkadang harus puasa karena memang tidak ada yang bisa dimakan," ujarnya sembari menyeka air mata. (Ism) 

Kisah selengkapnya baca di sini.  

1 dari 3 halaman

Ibu di Cianjur Masak Batu Demi Hilangkan Rasa Lapar Anak

Dream - Iyah, 33 tahun, asal Cianjur merupakan potret bagaimana kelompok miskin di Indonesia masih saja terabaikan. Wanita yang merupakan istri dari Andun Suherman, 45 tahun, harus membesarkan tujuh orang putrinya dalam kondisi serba kekurangan.

Bahkan, Iyah sampai memasak batu untuk mengelabui anaknya. Sebab, di rumahnya sudah tidak ada lagi persediaan makanan.

Kisah ini terjadi ketika anak Iyah yang masih kecil merengek lapar. Iyah bingung dan memutuskan memasak batu, berharap anaknya tertidur dan melupakan rasa laparnya.

Kabar tersebut lantas terdengar oleh Kapolres Cianjur AKBP Asep Guntur Rahayu. Hatinya terenyuh dan segera menemui keluarga Andun dan Iyah.

Guntur lalu memberikan sejumlah bantuan. Tidak hanya makanan, pejabat kepolisian itu juga mengusahakan agar Andun, Iyah dan ketujuh putrinya tinggal di rumah yang layak.

Selama ini, mereka tinggal di gubuk reyot yang berdiri di atas lahan milik orang. Guntur mencoba mendekati pemilik tanah hingga akhirnya sang pemilik tanah merelakan sebagian tanahnya untuk keluarga miskin tersebut.

Guntur membalas kebaikan pemilik tanah dengan menanggung seluruh biaya sertifikasi tanah tersebut. Dalam pengurusan sertifikat dan pemberian bantuan, Guntur dibantu oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Cianjur beserta sejumlah donatur.

(Ism, Sumber: akun fanpage Divisi Humas Mabes Polri.)

2 dari 3 halaman

Saat Kaya Dipuja, Begitu Miskin Diusir Istri Durhaka

Dream - Abd. Raim Zakaria. Saat masih muda dia hidup kaya-raya. Bergelimang harta. Disanjung banyak orang. Dipuja-puja. Sang istri pun memberi perhatian lebih.

Itu dulu. Saat lelaki yang saat ini berusia 65 tahun itu masih menjadi petinggi di perusahaan terkemuka di Petaling Jaya, Selangor, Malaysia. Pengaruhnya luar biasa.

Namun, roda hidup terus berputar. Kadang di atas, ada kalanya di bawah. Dan kini, hidup Zakaria tengah terpuruk. Hidupnya berubah 180 derajat.

Dia kini kehilangan segala-galanya. Masa jaya itu sirna setelah dia divonis mengidap parkinson dan kanker darah.

Bukan hanya harta benda. Saat terpuruk itu, sang istri yang dulu memberikan cinta juga mengusirnya. Itu setelah mereka bercerai.

Saat hidup sendiri, Zakaria hidup di rumah sewa. Karena hartanya sudah sirna, kini dia melewatkan hari-harinya di dalam sebuah surau di dekat pangsapuri Templer, Petaling Jaya.

Hidup yang dijalani saat ini mungkin tak pernah terlintas dalam benak Zakaria saat masih berjaya dulu. Dan kini dia harus menerima kenyataan itu.

“ Dalam keadaan saya yang sakit dan tidak sehat ini, terpaksa tinggal di surau karena tidak punya tempat tingal,” tutur Zakaria.

“ Saat sehat saya disanjung dan dihormati. Tetapi waktu sakit, semua hilang. Rekan-rekan juga hilang kecuali mereka yang senasib dengan saya,” tambah dia.

Meski begitu, Zakaria masih mujur. Dia punya seorang anak angkat, Mohd Rafi Karim, yang menyediakan obat-obatan saban hari.

Tapi, kondisi Rafi dan keluarga juga memprihatinkan. Mereka juga miskin. Dan yang menyedihkan lagi, keluarga Rafi turut diusir pemilik rumah sewa bersama Zakaria.

“ Saya bersama istri dan anak berusia tiga tahun terpaksa keluar karena tuan rumah tidak membolehkan kami tinggal di situ lagi,” kata Rafi.

Setelah diusir, Rafi sebenarnya berusaha menemukan rumah sewa lagi. Namun tak kunjung dapat, sebab setiap ketemu rumah sewa, dia harus menyiapkan uang muka RM 1.000 atau sekitar Rp 3 juta.

“ Mana saya punya duit sebanyak itu. Kerja pun sudah tiga hari tak masuk karena sibuk cari rumah,” tambah Rafi yang bekerja sebagai pencari besi bekas ini.

Inilah hidup, selalu berputar. Ada sempit, ada pula lapang. Maka, jangan lupa bersyukur saat berjaya, dan selalu sabar saat terpuruk. 

3 dari 3 halaman

Kakek Miskin yang Dermawan Wafat, Dunia Berduka

Dream - Liu Shenglang. Inilah kakek dermawan. Pria 93 tahun ini bukanlah orang kaya raya. Pekerjaannya hanyalah pemulung. Namun dari barang-barang bekas yang dipungut itulah Liu beramal. Memberi inspirasi kepada banyak orang.

Sudah lebih 20 tahun Liu menjadi pemungut sampah. Sejak itu pula dia telah membiayai lebih dari 100 mahasiswa hingga lulus kuliah. Semua dana yang dia santunkan itu dari hasil memungut sampah.

Liu biasanya pergi ke kantor pos dengan mengendarai sepeda untuk mengirimkan uang agar para mahasiswa miskin bisa tetap kuliah. Kakek asal Kota Yantai, Provinsi Shandong, China, ini benar-benar menghabiskan sisa umurnya dengan berbagi untuk sesama.

Awal tahun ini kakek Liu ini meninggal dunia pada usia 93 tahun. Tak heran, hampir semua orang yang mengenalnya berduka atas kepergian kakek inspiratif ini.

Sekitar Rp 212 juta telah dia dermakan untuk para mahasiswa. Dan cara ini telah ditiru banyak orang. Hingga kini, sekitar 700 organisasi dan 500 ribu orang relawan di China yang mau melakukan kebaikan seperti Liu.

Selamat jalan kakek Liu. Si miskin yang dermawan.

Beri Komentar