Penyesalan Wanita yang Sibuk Kerja, Kerja, Kerja

Reporter : Sugiono
Kamis, 5 April 2018 17:41
Penyesalan Wanita yang Sibuk Kerja, Kerja, Kerja
"Selama 12 tahun saya telah melewatkan momen penting anak saya."

Dream - Meluangkan waktu bersama keluarga, terutama anak-anak, adalah satu momen yang sangat indah bagi setiap orang tua.

Setelah seharian bekerja, malam hari adalah waktu paling tepat untuk dihabiskan bersama anak-anak.

Namun, tidak semua orang tua dapat melakukan hal itu. Tapi jangan cepat-cepat berasumsi bahwa orang tua tidak peduli.

Karena keterbatasan waktu dan pekerjaan, mereka seringkali 'lupa' untuk memberikan perhatian penuh pada anak-anak.

Tidak ada orang tua yang punya niat untuk mengabaikan anak-anak. Orang tua mana yang mau melihat anak mereka telantar dan kurang kasih sayang.

Seperti pengalaman yang dibagikan oleh Maya Amir di Facebook. Maya merasa menyesal karena tidak memberi perhatian yang cukup untuk anak-anaknya dan terlalu fokus dengan kariernya.

Berikut penuturannya:

1 dari 3 halaman

Kerja, Kerja, Kerja

Semalam dia WhatsApp fotonya sambil menulis, " Mama, keren tidak Danial?"

Ini adalah Danial, anak sulung saya. Sekarang dia sudah berusia 17 tahun. Semasa dia kecil, saya terlalu sibuk bekerja.

Saya kembali ke rumah selalu malam-malam, dan Danial menjadi anak terakhir yang pulang dari tempat penitipan anak.

Setiap kali saya jemput di tempat penitipan anak, mukanya terlihat sayu dan sedih.

Tapi dia anak yang sangat baik. Tidak pernah rewel atau tidak banyak tingkah kalau saya terlambat menjemput.

Saya kasihan kepada Danial. Sungguh! Saat adiknya belum lahir, dalam pikiran saya selau kerja, kerja, kerja.

Saya sibuk mengejar karier, sementara dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang lain.

2 dari 3 halaman

Berangkat Subuh Pulang Maghrib

Hidup di kota besar yang sibuk. Kami bangun Subuh dan pulang ke rumah setelah Maghrib.

Kami keluar rumah lebih awal karena harus mengantar ayahnya ke kantor Bea Cukai Johor Bahru (JB) sebelum mengirim anak ini ke sekolah. Rumah kami sangat jauh jadi harus berangkat pagi sekali setelah Subuh.

Ketika naik kelas 2, dia bertambah kasihan. Karena berangkat sekolah pagi-pagi dan pulang malam.

Saya ambil dia di sekolah jam 18.30 sebelum menjemput ayahnya di Bea Cukai JB. Kami kemudian makan dan dia mengerjakan PR di dalam mobil.

Ya semuanya dikerjakan di dalam mobil. Melihat wajahnya yang lelah pada saat itu, saya benar-benar merasa bersalah.

3 dari 3 halaman

Merasa Bersalah

Tiba-tiba ketika umurnya 13 tahun, dia dapat tawaran ke sekolah asrama di Perak. Saya rasa macam kena tampar. Saya merasa kehilangan yang amat sangat.

Saat masuk kamarnya yang kosong, jiwa saya juga terasa kosong. Saat itu baru saya menyadari bahwa saya rindu untuk melihatnya tumbuh dewasa.

Selama 12 tahun saya telah melewatkan momen itu. Saya mencoba mengingat kenangan tentang dirinya. Kosong! Saya sampai perlu membuka album lama.

Saya baru sadar, selama ini tidak pernah meluangkan waktu yang berharga untuknya. Obrolan kami singkat-singkat, hanya seputar rutinitas sekolahnya.

Saya juga agak bersikap tegas dan serius dengan dia. Mengingat itu, betapa meruginya saya sebagai seorang ibu.

Setelah mengantarkan dia masuk asrama, saya menangis karena sangat rindu momen bersama dengannya. Saya telah banyak kehilangan momen tersebut selama ini.

Selama ini Allah sebenarnya telah memberikan nikmat sebagai seorang orang tua kepada saya. Tapi saya malah menyia-nyiakan waktu nikmat tersebut.

Kita kerja keras dengan niat agar anak-anak tidak susah. Tapi terkadang kita melupakan mereka saat tumbuh dewasa.

Gembirakan hati mereka. Nanti Allah akan melimpahkan rezeki bertubi-tubi tanpa kita sadari.

Dan jangan lupa, tujuan akhir kita hidup di dunia ini adalah surga akhirat yang dijanjikan Allah kepada kita.

Maya Amir

(Sumber: Siakapkeli.my)

Beri Komentar
Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair