Surat Ad Dhuha Ayat 1-11 Arab, Latin, Terjemahan Lengkap dengan Isi Kandungannya

Reporter : Reni Novita Sari
Rabu, 16 Desember 2020 09:19
Surat Ad Dhuha Ayat 1-11 Arab, Latin, Terjemahan Lengkap dengan Isi Kandungannya
Berikut bacaan surat ad Dhuha lengkap

Dream - Surat Ad Dhuha merupakan surah yang ke 93 dalam Al-qur'an. Surah ini tergolong ke dalam Makiyyah karena diturunkan di Mekkah. Surah yang terdiri dari 11 ayat ini disebut dengan ad Dhuha yang berarti waktu Dhuha. Di mana waktu Dhuha ini adalah saat ketika matahari naik sepenggalah.

Nama ad-Duha dalam surat ini diambil dari sumpah Allah pada ayat pertama, " demi waktu duha" , yaitu waktu ketika matahari sudah naik sekitar sepenggalah. Surat ini diturunkan setelah beberapa waktu Nabi Muhammad tidak mendapatkan wahyu dari Allah. Hal ini membuat kaum kafir Mekah menghina beliau dengan ucapan semacam " Muhammad sudah tidak dipedulikan Tuhannya" .

Diriwayatkan oleh Al Aswad bin Qais, bahwa Jundub bin Sufyan mengisahkan, seorang dari kaum kafir tersebut, Ummu Jamil binti Harb, istri Abu Lahab, berkata kepada Muhammad, " Wahai Muhammad, aku benar-benar berharap setanmu telah meninggalkanmu. Sebab, aku tidak lagi melihatnya sejak dua hari atau tiga hari ini." (H.R. Bukhari 4569).

Sebagai jawaban atas ucapan itu, diturunkanlah Surah ad-Duha yang menegaskan, Allah sama sekali tidak meninggalkan atau memurkai Muhammad. Sebaliknya, Allah selalu menjaga beliau tanpa terputus. Dalam Surah ad Duha juga diterangkan larangan berbuat buruk terhadap anak yatim dan orang yang meminta-minta. Dan surat ini juga ditutup dengan perintah untuk kita selalu bersyukur terhadap nikmat Allah.

Surat ad Dhuha juga dapat diamalkan ketika melaksanakan sholat Dhuha. Berdasarkan hadis, Zaid bin Arqam meriwayatkan, " Rasulullah SAW keluar menemui penduduk Quba di saat mereka melaksanakan sholat Dhuha, lalu Rasulullah SAW bersabda, 'Sholat Dhuha dilakukan apabila anak anak unta telah merasa kepanasan (karena tersengat matahari).'" (HR. Muslim dan Ahmad bin Hanbali). Nah, untuk itu berikut surat ad Dhuha ayat 1 sampai 11.

1 dari 2 halaman

Surat Ad Dhuha

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

wad-duha

Artinya : Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

wal-laili iza sajadan

Artinya : Demi malam apabila telah sunyi,

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

Ma wadda’aka rabbuka wa ma qala

Artinya : Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

wa lal- akhiratu khairul laka minal-uladan

Artinya : Sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

wa lasaufa yu’tika rabbuka fa tarda

Artinya : Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

a lam yajidka yatiman fa awa

Artinya : Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

wa wajadaka ?allan fa hadadan

Artinya : Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk,

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

wa wajadaka a’ilan fa agnadan

Artinya : Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

fa ammal-yatima fa la taq-har

Artinya : Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

wa ammas-sa ila fa la tan har

Artinya : Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).

Ilustrasi© Foto : Dream.co.id

wa amma bini’mati rabbika fa haddis

Artinya : Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).

2 dari 2 halaman

Isi Kandungan Surat ad Dhuha

Surat Ad Dhuhaa menerangkan tentang pemeliharaan Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW dengan cara yang tak putus-putusnya, larangan berbuat buruk terhadap anak yatim dan orang yang meminta-minta dan mengandung pula perintah kepada Nabi supaya mensyukuri segala nikmat. Adapun Tafsir makna dan kandungan Surah Ad-Dhuha adalah sebagai berikut :

  1. Ibnu Katsir berkata, “ Dianjurkan bertakbir dari akhir surah Adh Dhuha sampai akhir surah An Naas. Para ahli qiraa’at menyebutkan, bahwa hal itu termasuk sunnah yang ada riwayatnya, dan mereka menyebutkan alasan mengucapkan takbir dari awal surah Adh Dhuha, yaitu bahwa ketika wahyu terlambat turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan terputus selama waktu tersebut, kemudian malaikat datang dan menyampaikan wahyu kepada Beliau, “ Wadh Dhuhaa-Wallaili bidzaa sajaa.” Yakni surah Adh Dhuha sampai akhirnya, maka Beliau bertakbir karena gembira dan senang.” Ibnu Katsir berkata pula, “ Riwayat tersebut tidak diriwayatkan dengan isnad yang dapat dihukumi shahih maupun dha’if, wallahu a’lam.”
  2. Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Jundub bin Sufyan ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah sakit sehingga tidak bangun selama dua atau tiga malam, lalu ada seorang wanita yang datang berkata, “ Wahai Muhammad, sesungguhnya aku berharap setanmu telah meninggalkanmu, karena aku tidak melihat dia mendekatimu sejak dua atau tiga malam.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “ Wadh dhuhaa—Wallaili idzaa sajaa—Maa wadda’aka Rabbuka wamaa qalaa.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim, Tirmidzi, dan ia berkata, “ Hadits ini hasan shahih,” Ahmad, Thayalisi, Ibnu Jarir, Al Humaidiy, dan Al Khathiib dalam Muwadhdhih Awhaamil Jam’i wat Tafriiq juz 2 hal. 22).
  3. Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam ketika telah sunyi untuk menerangkan perhatian Dia kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
  4. Maksudnya, ketika turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam terhenti untuk sementara waktu, orang-orang musyrik berkata, " Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadanya.” Maka turunlah ayat di atas untuk membantah perkataan orang-orang musyrik itu, yaitu, “ Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,” yakni Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidaklah meninggalkan Beliau dan membiarkannya sejak Dia mengurus dan mendidik Beliau, bahkan Dia senantiasa mengurus dan mendidik Beliau dengan pendidikan yang sebaik-baiknya serta meninggikan Beliau sederajat demi sederajat.
  5. Yakni Dia tidak membencimu sejak Dia mencintaimu. Inilah keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dahulu dan yang sekarang; yakni keadaan yang paling sempurna; kecintaan Allah untuk Beliau dan tetap terus seperti itu serta diangkatnya Beliau kepada kesempurnaan, dan tetap terusnya mendapatkan perhatian dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Adapun keadaan Beliau pada masa mendatang, maka sebagaimana firman-Nya, “ Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
  6. Maksudnya, bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan meskipun permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menguatkan agama Beliau, memenangkan Beliau terhadap musuh-musuhnya serta memperbaiki kondisi Beliau sehingga Beliau mencapai keadaan yang tidak dapat dicapai oleh orang-orang terdahulu maupun yang datang kemudian, baik dalam hal keutamaan, kebanggaan maupun kegembiraan. Sedangkan di akhirat, maka tidak perlu ditanya tentang keadaan Beliau; keadaan Beliau penuh dengan berbagai kemuliaan dan kenikmatan. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “ Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” Pemberian-Nya yang besar tidak mungkin diungkapkan selain dengan kata-kata itu.

 

(Sumber : Berbagai Sumber)

Beri Komentar